Pemuda Asal Sleman Mengekspor Ikan Guppy ke Amerika

Editor: Mahadeva WS

972

YOGYAKARTA – Ikan Guppy selama ini masih dipandang sebelah mata bagi sebagian orang. Selain identik dengan ikan sungai pemakan kotoran, ikan Guppy juga kurang populer dibudidayakan karena dinilai memiliki nilai jual sangat rendah. 

Namun siapa sangka, ditangan seorang pemuda bermana Ahmad Taufik (30) asal Prambanan, Sleman, DIY,  budidaya ikan Guppy bisa disulap menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.

Di tangan Taufik, ikan yang biasa disebut ikan cethul atau ikan cere itu bisa memiliki nilai jual sangat tinggi, hingga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Bahkan, ikan Guppy hasil budidaya Taufik, rutin diekspor ke sejumlah negara seperti Filipina Thailand hingga ke Amerika.

Ahmad Taufik sedang menjelaskan sistem budidaya ikan Guppy kualitas ekspor – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Di Indonesia, ikan Guppy selama ini memang dikenal sebagai ikan hias berharga murah. Tapi di luar negri, ikan Guppy memiliki nilai jual cukup tinggi. Disana, ikan Guppy bahkan dilombakan dan ada kontesnya. Jangan lupa, ikan Guppy merupakan salah satu ikan hias air tawar tercantik di dunia,” ujarnya, Selasa (3/7/2018).

Memulai bisnis usaha budidaya ikan Guppy sejak dua tahun terakhir, Taufik fokus membidik pasar luar negri sejak beberapa bulan terakhir. Bertempat di farm miliknya yang berlolasi di dusun Tundan, Purwomartani, Kalasan, Sleman Dia memproduksi berbagai jenis ikan Guppy kualitas kontes.

“Yang membedakan ikan Guppy murah dengan ikan Guppy mahal adalah kualitasnya. Untuk membudidayakan ikan Guppy kualitas kontes, tentu membutuhkan indukan yang berkualitas, dengan perawatan yang juga khusus,” jelasnya.

Mengadopsi sistem filter under grafel di Taiwan, Taufik mengaku mampu membudidayakan 45 jenis ikan Guppy dengan jumlah 150 pasang per bulan untuk setiap jenisnya. Satu pasang ikan Guppy dewasa kelas kontes dibadrol dengan harga 35-100 US Dollar, tergantung jenis.

“Di Indonesia, ikan Guppy mungkin hanya dijual Rp1.000-2.000, per ekor. Tapi di luar negri, harganya bisa mencapai 35-100 US Dollar. Itu yang tidak banyak orang tahu. Jadi keuntungannya sangat besar mencapai 90 persen dari biaya produksi. Karena biaya perawatannya tidak lebih dari Rp10ribu per ekor,” katanya.

Berawal dari hobi memelihara ikan, Taufik akhirnya memilih menekuni budidaya ikan Guppy karena sejumlah pertimbangan. Mulai dari keuntungan yang cukup tinggi serta pasar yang masih terbuka luas, hingga rendahnya tingkat kesulitan budidaya ikan Guppy.

Dengan masa panen cukup singkat yakni tiga bulan, Taufik biasa menjual ikan Guppy siap panen berukuran 2,5 inchi. Ia sengaja menjual dalam bentuk pasangan karena memiliki nilai jual lebih tinggi, dibanding menjual ikan dalam bentuk satuan.

“Pemasarannya lewat online. Mulai dari media sosial hingga website. Karena dijual dalam mata uang dolar, maka harga jual juga cenderung stabil. Bahkan keuntungannya bisa berlipat saat nilai dolar naik mencapai Rp14ribu lebih seperti saat ini,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...