Peneliti Temukan Sampah di Perairan Laut Sawu

219
Ilustrasi -Dok: CDN
KUPANG – Tim Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Padjajaran Bandung, dan para penyelam yang dikenal dengan ‘Diver Clean Action (DCA)’, menemukan berbagai jenis sampah di perairan Laut Sawu.
Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Ikram Sagadji, mengatakan, bahwa kedatangan para peneliti yang juga dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta tim dari BKKPN itu didampingi Ketua Tim Peneliti FPK Unpad, Noir P Purba.
Dijelaskan, keberadaan sampah di Laut Sawu sangat disayangkan, karena kawasan itu merupakan salah satu perairan penting yang menyongkong potensi sumber daya ikan di wilayah penggelolaan perikanan (WWP) itu.
“Sampah laut adalah salah satu pencemar di lautan yang berbahaya, yang nantinya dapat menurunkan kesehatan laut, di mana di dalam laut itu terdapat berbagai jenis ikan yang hidup,” katanya.
Apalagi dalam penelitian yang dilakukan oleh sejumlah peneliti sebelumnya dari Australia, dikatakan, bahwa Laut Sawu menjadi migrasi atau tempat peristirahatan bagi berbagai jenis ikan, seperti pari manta, bahkan ikan paus yang melakukan perjalanan dari daerah lain.
Bahkan, di daerah itu ada enam jenis penyu yang menjadikan kawasan itu sebagai rumah atau tempat berkembang biak.
“Sejumlah terumbu karang kawasan itu juga menjadi tempat yang bagus bagi ikan paus yang bermigrasi. Jika salah satu terumbu karang rusak, maka akan sangat mempengaruhi migrasi ikan paus,” tambahnya.
Para peneliti menemukan banyak sampah di daerah itu, yang lebih herannya lagi sampah-sampah itu berasal dari sungai-sungai dan lebih parah lagi dibuang oleh wisawatan yang melintasi laut tersebut.
Lebih lanjut, tambah Ikram, penelitian itu dilakukan ditemani oleh BKKPN yang menjadi pengelolah dalam TNP Laut Sawu, dilakukan di perairan seluas 3,45 hektare.
Sementara, ketua Tim Peneliti dari Unpad, Noir P Purba, mengatakan letak perairan Laut Sawu sebagai migrasi berbagai jenis ikan sangat rentan terhadap sampah.
“Sebagian besar tidak dapat membedakan mana sampah dan yang bukan sampah, sehingga dapat membahayakan kehidupan dari ikan-ikan itu,” ucapnya.
Ia mengatakan, pihaknya sengaja melakukan pnelitian tersebut karena memang tingginya keanekaragaman hayati dari sisi biota, ekosistem, dan kesuburan perairan.
“Sebab seperti yang diketahui, bahwa sampah laut dapat mempengaruhi aspek ekologi dan ekonomi masyarakat,” katanya. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...