Pengalaman Dibully, Hotman Paris Dukung Film Aib

Editor: Mahadeva WS

1.444
Hotman Paris Hutapea (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Capaian dari Hotman Paris Hutapea menjadi seorang pengacara seperti sekarang ini tidak segampang membalikkan telapak tangan. Prosesnya penuh perjuangan dan disebut pengacara kalang selebritas tersebut mengaku sering dibully.

Tetapi karena dibully itulah Dia bisa membuktikan kalau bisa lebih sukses daripada orang yang membully. Karena pengalaman sering dibully, Hotman didaulat mendukung film Aib. Sebuah film yang mengkampanyekan stop bullying. “Tiap hari saya sering dibullying di medsos,” kata Hotman Paris, Senin (2/7/2108).

Lelaki kelahiran Laguboti, Sumatera Utara, 20 Oktober 1959 itu membeberkan, bullyng adalah penindasan secara psikis. Istilah hukumnya kekerasan secara psikis, dan sudah diatur dalam UU No35/2014 Tentang Perlindungan Anak. Khususnya di pasal 76c tentang kekerasan termasuk kekerasan fisik psikis.

“Secara hukumnya sudah ada, tapi untuk membuktikannya agak susah, kalau orang kekerasan fisik sekarang dikerasin masih kelihatan luka langsung kelihatan dengan visum sudah ada bukti, tapi kalau kekerasan psikis sekarang, mungkin dua hari lagi stressnya berturut-turut,” bebernya.

Film Aib #Cyberbully disebutnya perlu ditonton dalam hal ini sebagai bahan edukasi. Terutama untuk orang Indonesia yang paling jago bullying. “Saya kasih contoh di sekolah internasional anak saya, saya perhatikan bagaimana orang bule mengomentari anaknya, walaupun anaknya sudah gagal, selalu dibilang comen you can do it, malah didorong, dimotivasi anaknya untuk bangkit, tapi kalau kita sialan lu brengsek lu!” paparnya.

Menurut Hotman, kekerasan psikis bagian penting dari film Aib yang perlu ditonton. “Film ini sangat cocok ditonton ada edukasinya, meski ada aspek bisnisnya juga,” tegas jebolan Fakultas Hukum, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung (1981) tersebut.

Di dalam Undang-undang Perlindungan Anak, tidak memakai kata cyber bullying. Yang diatur adalah kekerasannya, yaitu kekerasan fisik yakni luka dan kekerasan psikis. “Kalau melakukan kekerasan psikis itu dituntut lima tahun penjara dan denda seratus juta. Jadi bisa dituntut, tapi menjadi bisa bias apakah itu termasuk pencemaran nama baik atau pelanggaran Undang-Undang ITE atau kekerasan terhadap psikis. Kalau sampai dia meninggal tentu tidak bisa dikatakan pencemaran nama baik karena sudah meninggal,” terangnya.

Menurutnya, KPAI paling menjadi lembaga penting dalam persoalan tersebut. Lembaga tersebut dibiayai oleh negara khusus untuk melindungi anak-anak. “Justru peran mereka harus lebih diperluas lagi karena tugasnya sangat penting untuk melindungi anak-anak,” tegasnya.

Baca Juga
Lihat juga...