Pengembangan Senkudaya Padang Terkendala Modal

Editor: Koko Triarko

225
PADANG – Sentra Kulakan Posdaya (Senkudaya)  Padang, Sumatera Barat, telah berjalan sejak 2014. Keberadaannya banyak membantu perkembangan usaha rakyat di Kota Padang. Namun seiring waktu berjalan, ada persoalan yang membuat Senkudaya merasa modalnya terlalu minim.
Ketua Koperasi Hidayah Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Sumatera Barat, yang mengurus Senkudaya di Padang, Dewi Novita, mengatakan, sokongan dana yang diberikan Yayasan Damandiri untuk Senkudaya  setiap tahun sebesar Rp150 juta. Jumlah itu dinilai masih sedikit untuk mengisi kebutuhan mini market atau Senkudaya.
Ketua Koperasi Hidayah Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Sumatera Barat, yang mengurus Senkudaya di Padang, Dewi Novita/ Foto: M. Noli Hendra
“Sebenarnya untuk menjalankan Senkudaya ini, uang Rp150 juta sangat minim. Misalnya, untuk membeli minyak goreng untuk stok beberapa bulan menghabiskan modal Rp50 juta. Belum lagi untuk membeli barang-barang lainnya seperti beras, telur ayam, tepung, dan banyak lagi barang-barang untuk mengisi warung kalontong lainnya,” katanya, Senin (16/7/2018).
Namun demikian, ia mengakui mengelola uang Rp150 juta itu juga cukup rumit. Hal ini karena barang yang dijual harus lebih murah dari pasar atau mini market lainnya, karena barang-barang yang dijual di Senkudaya untuk memenuhi kebutuhan para anggota Posdaya yang menjalankan usaha.
Terutama untuk usaha warung kalontong. Hampir setiap pekan anggota Posdaya datang berbelanja ke Senkudaya, itu pun sistem ambil barang saja, dan uang belanja itu akan dibayarkan 10 hari berikutnya.
Ia pun tak memungkiri, bahwa adakalanya terjadi keterlambatan pembayaran barang yang telah diambil oleh anggota Posdaya. Bila hal itu terjadi, akan sulit bagi Senkudaya untuk membeli barang lagi untuk menambah stok untuk djual oleh Senkudaya. Untuk itu, Dewi mengaku, terpaksa menutupi kekurangan yang ada dengan uang pribadinya.
“Saya sudah sering mencari orang-orang yang mau untuk menutupi sementara dana untuk memenuhi kebutuhan di Senkudaya. Terkadang ada yang bantu, ada yang tidak. Kalau tidak, saya harus menanamkan uang saya ke Senkudaya ini,” ujarnya.
Kurangya dana yang diperoleh setiap tahun yang dinilai minim, kata Dewi, juga karena ada pengeluaran lainnya, yakni membayarkan sewa tempat yang mencapai Rp25 juta setiap tahun. Artinya, setiap uang masuk Rp150 juta, otomatis sudah dipotong Rp25 juta untuk bayar sewa tempat.
Sebagai upaya untuk meminimalisir biaya pembayaran sewa tempat, ia telah melakukan beberapa kali pindah tempat, mencari tempat yang sewanya lebih murah, dengan kondisi yang masih layak. Tetapi, hal itu juga mampu mengatasi persoalan minimnya modal.
“Jadi, saya rasa persoalannya bukan dari segi pengeluaran. Tapi, butuh tambahan dana dari Yayasan Damandiri untuk pengembangan Senkudaya ini. Setidaknya mencapai Rp200 juta lebih, atau lebih banyak dari tahun sebelumnya, yang hanya Rp150 juta,” ungkapnya.
Dewi juga mengklaim, bahwa sejauh ini dengan adanya Senkudaya ia telah mempu membuat dua Pos Pemerdayaan Keluarga (Posdaya) di Kota Padang. Pertama, Posdaya Mekar Sari Air Tawar Padang, dan Posdaya Zam zam di Tunggul Itam Padang.
Dua Posdaya itu berdiri, karena mereka merupakan pelanggan setia Senkudaya, yang awalnya merupakan masyarakat umum yang bukan anggota Posdaya, yang sering membeli kebutuhan barang-barang jualan di Senkudaya. Karena pelanggan setia, Senkudaya menilai perlu dibuatkan Posdaya, sebagai bentuk perpanjangan tangan Senkudaya di dua titik daerah tersebut.
“Kalau sudah ada Posdaya, setidaknya pelanggan kita jadi lebih banyak dan terarah. Jadi, anggota Posdaya yang telah dibentuk oleh Senkudaya itu, jadi pelanggan tetapnya Senkudaya. Artinya, usaha mereka tetap jalan, dan barang-barang yang dibelinya ke Senkudaya juga terbilang murah ketimbang mini market lainnya,” tegasnya.
Dewi menegaskan, diperlukannya Senkudaya itu menjadi tempat sandaran bagi anggota Posdaya yang menjalani usaha, setelah mendapat pinjaman modal usaha dari Tabur Puja. Tapi kenyataanya, hanya sedikit anggota Posdaya yang datang ke Senkudaya.
Akibatnya, yang bertransaksi ke Senkudaya kebanyakan dari masyarakat umum. Sampai saat ini, ada 80 warung di luar Posdaya yang menjadi langganan berbelanja di Senkudaya. Padahal, jika didata dari seluruh warung yang ada pada setiap anggota Posdaya di Padang, bisa mencapai ratusan warung.
“Ke depan hal inilah saya harapkan ke Tabur Puja, untuk bisa mengarahkan anggota Posdaya ke Senkudaya. Sehingga persoalan minim modal bisa diatasi. Karena semakin banyak yang berbelanja di Senkudaya, akan semakin besar pula perputaran uang ke Senkudaya,” harapnya.
Baca Juga
Lihat juga...