Pengembangan Sorgum di Pulau Solor Dinilai Perlu

Editor: Koko Triarko

179
LARANTUKA – Pengembangan Sorgum dinilai perlu dilakukan di Pulau Solor, mengingat kondisi tanah di pulau yang berada di wilayah Kabupaten Flores Timur, dan yang memiliki tiga kecamatan ini, merupakan tanah gersang dan berbatu, sehingga bisa memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat.
“Memang, Solor cocok untuk pengembangan Sorgum. Lahannya gersang dan berbatu. Kami kembangkan Sorgum di Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong. Kalau masyarakat bersedia, kami siap mendampingi kelompok tani di sana,” sebut Maria Loretha, petani Sorgum, Senin (16/7/2018).
Lurah Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, Urbanus Werang. -Foto: Ebed de Rosary
Menurutnya, dahulu Sorgum banyak ditanam petani di Pulau Solor. Bahkan, sampai saat ini pun masih ditanam. Namun, penanaman hanya dilakukan di bagian sekeliling kebun di bagian luar sebagai pagar atau sebagai makanan burung, supaya tanaman padi dan jagung tidak dimakan.
“Memang kebiasaan ini merupakan kearifan lokal, agar tanaman padi dan jewawut tidak dimakan burung, karena mereka sudah memakan Sorgum. Ada petani juga yang menanamnya untuk dikonsumsi, tapi jumlahnya terbatas,” sebutnya.
Maria menyayangkan, bila lahan yang berpotensi sebagai areal penanaman Sorgum ini dibiarkan terlantar dan menjadi lahan tidur. Ini menjadi tugas pemerintah, khususnya Dinas Pertanian Flores Timur, agar bisa mendorong petani untuk kembali memanfaatkan lahan tidur untuk menanam Sorgum.
“Kami siap menampung hasil panen petani dan menjualnya dengan harga yang layak, sebab Sorgum selalu dicari oleh produsen makanan. Kandungan kadar gulanya rendah dan bisa mengobati berbagai penyakit,” terangnya.
Lurah Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Urbanus Werang, pun mengakui, jik dahulu banyak lahan pertanian di Pulau Solor yang ditanami Sorgum dan Jewawut. Namun, lama kelamaan kebiasaan tersebut hilang.
“Mungkin karena hasilnya berkurang, maka petani mulai meninggalkan tanaman ini. Namun, kendala terbesarnya adalah minimnya sumber air, apalagi curah hujan juga tidak menentu dan semakin terbatas,” tuturnya.
Urbanus sepakat, bila lahan tidur di Pulau Solor dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman Sorgum atau Jewawut. Sebab, petani sudah terbiasa menanam tanaman ini. Selain itu, tanaman ini tidak terlalu membutuhkan banyak air dan cocok dikembangkan di lahan tandus dan kering.
“Pengembangan Sorgum tentu saja harus dilakukan dengan teratur,h bahkan bila perlu mengundang para ahli untuk mengajarkan petani untuk melakukan penananam dan perawatannya. Perlu juga dipersiapkan sarana dan prasarana yang memadai, seperti alat dan mesin pertanian sebagai sarana pendukung,” harapnya.
Dengan harga jual yang relatif bagus, kata Urbanus, tentu saja petani mau menanam Sorgum. Apalagi, hasil produksi petani sudah ada yang membelinya. “Kalau petani disuruh tanam, namun hasil produksinya tidak ada yang membelinya, maka pasti akan sia-sia”, pungkasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.