banner lebaran

Pengendalian Emisi Lahan Gambut di Dumai Libatkan Perempuan

165
Lahan gambut, ilustrasi -Dok: CDN
DUMAI – Sejumlah kelompok perempuan di empat kelurahan di Kotamadya Dumai, Riau, dilibatkan untuk mengendalikan emisi di lahan gambut melalui revitalisasi mata pencaharian (local livelihood revitalization) dengan agroforestri dan bioflok.
“Memang tidak ada jaminan mereka tidak kembali ke lahan dan tidak membakar. Tapi, ini memberikan pencegahan, bahwa mereka tidak boleh hanya bergantung dari sawit, karena nyatanya ada yang bisa dihasilkan dari lainnya,” kata Direktur Riau Woman Working Group (RWWG), Sri Wahyuni, dalam sesi media visit dengan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) di Dumai, Riau, Jumat (6/7/2018).
Ia mengatakan, RWWG sejak Februari 2017 menginisiasi terbentuknya empat kelompok perempuan di Kelurahan Pelintung, Kelurahan Guntung, Kelurahan Mundam dan Kelurahan Teluk Makmur. Kelompok perempuan diberdayakan dengan kegiatan agroforestri dan budi daya ikan lele dengan teknologi bioflok.
Pihaknya melakukan penguatan kapasitas pada kelompok perempuan selama setidaknya 10 bulan, sebelum budi daya dengan sistem bioflok mulai dibangun pada akhir Januari 2018.
“Bulan Juli ini jadi panen lele perdana bagi kelompok perempuan dampingan RWWG ini”, kata Sri Wahyuni, yang biasa disapa Ayu.
Sedangkan sistem agroforestri jahe merah, menurut dia, dipilih karena harga komoditasnya cukup baik. Kelompok perempuan tidak hanya diajak menanam, tetapi juga diajarkan mengolahnya menjadi produk makanan seperti dodol jahe, minuman dan permen jahe.
Sumini (48), dari Kelompok Perempuan Bunga Melati, Desa Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, mengaku senang mendapat kesempatan untuk melakukan usaha budi daya ikan lele bersama rekan-rekannya.
Dirinya sangat berharap, budi daya ini benar-benar berhasil, sehingga memberikan pendapatan bagi keluarganya.
Selama ini, penghasilan keluarganya dari kebun kelapa sawit seluas dua hektare, tidak menentu. Jika kebetulan harga sawit Rp1.000 per kilogram (kg) dan dari 300 pohon kelapa sawit mampu menghasilkan satu ton, maka penghasilan bersih yang bisa dibawa pulang biasanya mencapai Rp700.000 hingga Rp800.000.
“Kami tidak mau berhenti kalau usaha pertama ini gagal. Kami mau terus coba, kalau ibu-ibu yang di daerah lain bisa sukses, berarti kami sebenarnya juga bisa, semua bergantung dengan kekompakan dan ketelatenan kami ibu-ibu,” ujar dia.
Sumini berharap, upaya kelompok perempuan ini bisa memberikan penghasilan, sehingga saat panen kelapa sawit gagal karena kondisi cuaca yang semakin tidak menentu atau karhutla, keluarganya tetap mempunyai penghasilan.
Direktur Eksekutif ICCTF, Tonny Wagey, mengatakan program kerja sama yang didanai The UK Climate Change Unit (UKCCU) melibatkan perempuan dalam tata kelola sumber daya alam, dengan menginisiasi kelompok perempuan dalam pengelolaan lahan gambut.
“Isu perempuan dan gambut belum banyak diungkap, padahal mereka yang paling terdampak perubahan iklim. Tujuan utamanya memang agar tidak ada lagi lahan gambut terbakar yang akhirnya memproduksi asap,” ujar dia.
Direktur Lingkungan Hidup Bappenas Medrilzam selaku Sekretaris MWA ICCTF mengatakan, sudah ada 63 program pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan pengendalian perubahan iklim yang dijalankan ICCTF dengan bantuan pendanaan dari berbagai negara, termasuk APBN sejak 2011, dan salah satu kegiatan yang mendapat perhatian ada di Dumai, karena memberdayakan perempuan yang selama ini masih jarang dilibatkan.
“Kami ingin ada cerita sukses yang bisa diangkat ada di Dumai. Termasuk bagaimana konsep 3R (Rewetting/pembasahan, Revegetation/revegetasi, Revitalization (local livelihood)/revitalisasi mata pencarian masyarakat lokal) juga terlaksana dengan melibatkan perempuan, sehingga mereka tidak lagi hanya bisa berbicara seputar sumur, dapur dan kasur saja,” katanya. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.