Penjelasan BI Terkait Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar Amerika

Editor: Satmoko Budi Santoso

189
Suasana jumpa pers di Kantor Pusat Bank Indonesia Jakarta - Foto: Eko Sulestyono

JAKARTA  – Bank Indonesia (BI) melaporkan hingga tanggal 18 Juli 2018 bahwa secara keseluruhan nilai tukar atau kurs Rupiah terhadap Dokar Amerika (USD) masih mengalami pelemahan atau terdepresiasi sebesar 0,52%. Hingga sore ini perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika berada di kisaran Rp14.405 per USD.

Menurut BI, tekanan terhadap Rupiah dilaporkan kembali mengalami peningkatan karena dipengaruhi semakin menguatnya ketidakpastian pasar keuangan global yang kemudian memicu penguatan dolar AS terhadap sejunlah mata uang negara lainnya semakin meluas.

Demikian menurut keterangan yang disampaikan Gubernur BI, Perry Warjiyo, saat menggelar acara jumpa pers di kantornya, M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Menurutnya perkembangan nilai tukar Rupiah pertengahan Juli 2017 bisa dikatakan melemah jika dibandingkan dengan level akhir Juni 2018 atau bulan sebelumnya.

Perry Warjiyo mengatakan “Rupiah kembali mengalami depresiasi atau melemah 5,81% year to date jika dibandingkan dengan level akhir 2017, namun sebenarnya pelemahan Rupiah masih relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan pelemahan yang dialami mata uang negara berkembang lainnya, misalnya seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Brasil dan Turki,” jelasnya di Gedung Bank Indonesia Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Menurut Perry, nilai tukar Rupiah memang mengalami perlemahan secara terbatas, hal tersebut diakibatkan masih berlanjutnya penguatan dolar AS secara global. Dirinya memperkirakan atau memprediksi bahwa pelemahan tersebut tidak akan berlangsung lama.

Rupiah sebenarnya sempat menguat atau terapesiasi awal Juli 2018, hal tersebut sebagai respons positif pelaku pasar atas kebijakan moneter BI yang pre-emtive, front loading dan ahead the curve terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pertengahan Juni 2018 yang memutuskan untuk menaikkan BI Seven Days Reserve Repo Rate dikisaran 50 basis point.

Saat ditanya wartawan dirinya menjelaskan bahwa respons atau reaksi positif tersebut ternyata ikut mendorong aliran masuk modal asing ke pasar keuangan, khususnya Surat Berharga Negara sehingga berpengaruh atau mendorong terjadinya penguatan Rupiah khususnya terhadap Dolar Amerika.

Namun dirinya mengingatkan agar Bank Indonesia terus mewaspadai risiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya. Selain itu BI juga bertugas untuk menjaga bekerjanya mekanisme pasar dan juga senantiasa mendukung upaya-upaya yang berkaitan dengan pasar keuangan.

Baca Juga
Lihat juga...