Perajin Tas Berbahan Nonplastik di Balikpapan, Banjir Pesanan

Editor: Koko Triarko

233
Perajin tas berbahan nonplastik, Dwi Ida Cahya. –Foto: Ferry Cahyanti
BALIKPAPAN – Mulai diterapkannya Peraturan Wali Kota Balikpapan tentang Pengurangan Penggunaan Sampah Plastik, membuat perajin tas berbahan nonplastik kebanjiran order dari sejumlah retail modern.
Perajin tas berbahan nonplastik di Balikpapan, Dwi Ida, mengaku menekuni pembuatan tas dengan bahan kain maupun spunbond ini sejak 2012, setelah mendapatkan pelatihan dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang konsen terhadap lingkungan.
“Sejak 2012 telah menekuni bidang ini, saat itu diawali dengan pelatihan kemudian dilanjutkan dengan usaha kecil-kecilan dengan membuat tas daur ulang dari sampah plastik,” terangnya, saat ditemui, Selasa (10/7/2018).
Sejak itu, dengan berbagai produk daur ulang dibuat tas, hiasan dinding hingga pot bunga yang bahannya dari sampah plastik. “Produksi juga tergantung dari pesanan untuk daur ulang ini, tetapi bahannya sudah kami kumpulkan terlebih dahulu. Sehingga sewaktu-waktu ada pesanan kami tinggal merangkainya atau membuat sesuai pesanan,” ulas perempuan berjilbab ini.
Kemudian lambat laun tidak hanya sebagai perajin daur ulang, namun kini berbagai tas dengan bahan nonplastik dibuatnya sejak dua tahun terakhir. Sejak diberlakukan kebijakan pengurangan sampah plastik dan tidak lagi menggunakan kantong plastik pada ritail modern, ia pun menyebutkan pesanan mulai ada.
“Menjelang kebijakan itu, sudah mulai banyak pesanan dari berbagai bahan. Dengan model bahan spunbond, dalam satu-dua jam bisa menghasilkan 200 tas, karena kami sudah ada lima penjahit, sehingga cepat dalam pengerjaannya,” papar Dwi Ida.
Menurutnya, tas yang dibuat juga dengan ukuran yang berbeda-beda, dari ukuran 10 kilogram hingga ukuran besar. “Paling murah itu kami bandrol Rp6.000, sedangkan ukuran paling besar Rp25 ribu,” imbuhnya.
Untuk mengantisipasi selisih harga atau anggapan harga yang mahal, ia menyiasatinya dengan membeli bahan dari Pulau Jawa. “Bahan ada saja lokal yang kami buat, ada juga yang bahan dari Jawa. Dari Jawa ini karena untuk mengantisipasi perbedaan harga yang terlalu jauh, sehingga pesanan bisa lebih murah harga jualnya,” tandas Dwi Ida.
Ia menambahkan, pesanan juga datang dari retail modern di Kota Samarinda dan Balikpapan. “Harapannya, dengan peduli terhadap lingkungan dan tujuan yang baik. Pembuatan tas berbahan nonplastik menjadi alternatif peluang perajin untuk memajukan usaha,” pungkasnya.
Lihat juga...

Isi komentar yuk