Perajin Tempe-Tahu di Lamsel Terimbas Naiknya Dolar

150
LAMPUNG – Menguatnya nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah, berimbas pada sektor usaha kecil yang menggunakan bahan baku impor, seperti usaha tempe dan tahu di Desa Banyumas, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.
Nilai tukar Dolar AS yang terus menguat hingga Rp14.500, berimbas pada nilai pembelian kedelai impor. Ansor (33), pelaku usaha tempe dan tahu di Desa Banyumas, mengatakan, kenaikan harga kedelai imbas dari kenaikan Dolar AS tersebut sesuai dengan informasi dari distributor kedelai, yang rutin mengirim laporan kepadanya setengah bulan sekali.
Ia menyebut, banyak pilihan jenis kedelai impor dengan merk berbeda, sebagian didatangkan dari Amerika Serikat dengan kualitas berbeda. Khusus untuk bahan baku pembuatan tempe dan tahu, Ansor sengaja memilih kedelai dengan kualitas sangat baik (grade A) dari salah satu distributor di Panjang, Bandarlampung.
“Secara langsung produsen tahu tidak bertransaksi menggunakan dolar, tapi imbas kenaikannya terasa dengan ikut naiknya komoditas kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu,” terang Ansor, saat ditemui Cendana News, Selasa (24/7/2018).
Tukiyah, menyiapkan alat penghalusan kedelai [Foto: Henk Widi]
Menurut Ansor, harga kedelai per Sak ukuran 50 kilogram sebesar Rp392.500 atau seharga Rp785.000 per kuintal atau ukuran 100 kilogram. Sesuai dengan harga kedelai impor bulan Juli  tersebut, katanya, harga per kilogram kedelai saat ini Rp7.850 per kilogram.
Harga tersebut lebih mahal dibandingkan harga sebelumnya, yang hanya Rp7.500, atau mengalami kenaikan Rp350 per kilogram.
Meski naik hanya Rp350 per kilogram, untuk sebanyak satu kuintal kedelai ia harus menambah modal pembelian kedelai sebesar Rp35.000. Kenaikan harga bahan baku yang berasal dari USA dengan jenis kedelai bola merah, itu tidak lantas membuat dirinya menaikkan harga jual tempe. Pasalnya, kenaikan harga justru akan berimbas pelanggan berkurang, bahkan tidak membeli tempe dan tahu produksinya.
“Produksi tahu dan tempe dalam satu kali pembuatan bisa menggunakan sekitar seratus kilogram kedelai, memperkecil ukuran jadi solusi dibanding menaikkan harga,” terang Ansor.
Ansor menyebut, dua hari sekali dirinya memproduksi tempe dan tahu dengan perbandingan 60:40, atau kedelai 100 kilogram menjadi 60 kilogram tempe. Sisanya, sebanyak 40 kilogram dibuat menjadi tahu.
Namun, kata Ansor, imbas kenaikan harga kedelai impor belum begitu terasa, karena harganya belum menyentuh angka Rp8.000 seperti pernah yang terjadi pada 2016 silam. Meski demikian, jika dolar terus merangkak naik, potensi kenaikan harga kedelai masih bisa terjadi.
Dalam membuat tempe dan tahu, Ansor mengerjakannya sendiri. Saat pesanan banyak, dikerjakan bersama tiga-empat  karyawan. Pembuatan tempe dan tahu dimulai dari proses perebusan kedelai untuk pembuatan tempe dan tahu berjarak dua hari sekali. Pembuatan menyesuaikan hari pasaran dan permintaan puluhan pelanggan warung dan pedagang keliling.
“Bahan baku lancar menjadi faktor utama usaha pembuatan tempe dan kedelai tetap jalan, asal jangan sampai bahan baku langka,” papar Ansor.
Harga kedelai yang naik, membuatnya mengurangi takaran, untuk tidak menaikkan harga. Sebanyak 60 kilogram kedelai bisa dibuat menjadi tempe sebanyak 300 bungkus tempe.
Tempe yang difermentasi dengan ragi baru bisa didistribusikan ke warung, pedagang nasi uduk, gorengan seharga Rp5.000 per tiga bungkus. Sementara 40 kilogram kedelai bisa dibuat menjadi empat papan dengan jumlah mencapai 400 potong tahu berukuran kecil.
Produsen tahu lainnya, Tukiyah, warga Sendangsari, Penengahan, juga mengaku terdampak langsung kenaikan harga kedelai. Tukiyah bahkan mengaku kerap berhenti produksi, saat harga kedelai mahal dengan harga per kuintal mencapai Rp785.000 atau Rp392.500 per Sak.
Ia memastikan, kerap hanya membeli kedelai dengan sistem utang kepada pengecer kedelai impor di wilayah tersebut. “Saya kerap meminjam bahan baku kedelai dengan sistem bayar setengah, sisanya dibayarkan saat tahu sudah laku terjual,” terang Tukiyah.
Wanita yang masih membuat tahu dengan cara tradisional menggunakan alat penghalus dari batu tersebut, berharap harga kedelai turun. Idealnya, harga kedelai menurutnya di bawah angka Rp7.000. Meski naik, ia tetap memproduksi tahu satu pekan selama empat kali, dengan cara mengurangi ukuran tahu, agar usahanya tetap berjalan.
Bahan baku kedelai yang masih impor, diakuinya karena sulitnya memperoleh kedelai lokal untuk pembuatan tahu.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.