Peran Agama Dapat Meminimalisir Kerusakan Lingkungan

Editor: Satmoko Budi Santoso

239
Prof Sunarto (pegang mix) saat memberikan penjelasan penelitian yang berjudul Implementasi Pengelolaan Ekosistem Air Tawar - Foto: Harun Alrosid

SOLO – Pencemaran terhadap air tawar akhir-akhir ini kian mengkhawatirkan. Pasalnya, tidak hanya kualitas air tawar terus berkurang, namun kuantitas air tawar yang ada juga kian menyusut.

Langkah yang sangat penting dilakukan dalam misi penyelamatan air tawar beserta ekosistem di dalamnya adalah dengan cara pengelolaan yang baik. Yakni pengelolaan air tawar yang jauh dari pelaku tangan manusia yang bisa merusak air tawar dan ekosistemnya.

Hal inilah yang disampaikan Prof Sunarto dalam pidato pengukuhan guru besar yang berjudul “Implementasi Pengelolaan Ekosistem Air Tawar”, yang diselenggarakan di Auditorium Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) beberapa waktu lalu. Menurut dia, pertumbuhan populasi manusia menjadikan kebutuhan akan air semakin meningkat.

“Sementara pertumbuhan populasi itu menyebabkan penurunan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas terutama air tawar. Perkembangan industrialisasi, pembangunan, dan krisis spiritualitas juga menjadi faktor penyebab masalah ekosistem air tawar,” papar Prof Sunarto yang juga Kepala Program Studi S-1, Ilmu Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS kepada awak media, Kamis (26/7/2018).

Ditekankan Prof Sutarto, pertumbuhan populasi manusia menjadi faktor utama penyebab krisis air tawar. Sebab, pertumbuhan populasi manusia tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik.

Bahkan yang terjadi justru adanya ulah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang melakukan pencemaran lingkungan dan perusakan ekosistem air. “Fakta di lapangan ternyata etika dalam pemanfaatan dan pengelolaan air terus menurun. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan belum sepenuhnya baik,” tegasnya.

Sebelum dikukuhkan menjadi guru besar, dirinya melakukan penelitian terhadap kerang hijau air tawar (Anadonta Woodiana) yang menunjukkan kemampuan sebagai bio-indikator pencemaran perairan.

Pencemaran perairan air tawar logam berat Cd identik dengan aktivitas industri terutama industri tekstil. “Penelitian dilakukan di Rowo Jombor Klaten serta sungai Bengawan Solo,” lanjut dia.

Lebih lanjut dirinya menerangkan, cemaran logam Cd perairan dapat ditentukan dari kontaminasi dalam tubuh Anadonta Woodiana. Yakni adanya kerusakan struktur anatomi di ginjal dan insang yang ditandai dengan berubahnya pola pita protein DNA.

“Kerang hijau air tawar sebagai bio-indikator pencemaran perairan ditandai dengan siklus hidup yang panjang serta sebagai filter feeder. Ada dua faktor yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Yakni krisis spiritualitas serta implementasi ekoteologi dalam konsep pendidikan lingkungan sejak dasar,” imbuhnya.

Salah satu solusi yang ditawarkan Prof Sutarto adalah implementasi agama dilakukan secara baik dan menyeluruh bagi pemeluknya. Sebab, menurutnya, agama telah mengatur dalam segala hal, termasuk dalam menjaga alam dan lingkungan. Bahkan, dirinya meyakini jika seluruh agama yang ada di Indonesia mengajarkan untuk menjaga lingkungan.

“Di sini peran agama sangat penting karena menyentuh semua lini kehidupan. Mulai dari etika memperlakukan lingkungan, sehingga manusia akan bertoleransi mulai dari lingkungan,” pungkas alumni UGM dan Universitas Airlangga.

Baca Juga
Lihat juga...