Perang Tarif Hotel Jadi Perhatian PHRI Banjarmasin

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

300
Ketua BPC PHRI Banjarmasin Budi Salim. Foto: Arief Rahman

BANJARMASIN — Ketua Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) Kota Banjarmasin, Budi Salim memastikan, masalah perang tarif hotel menjadi perhatian serius organisasinya.

“Terus tumbuhnya hotel di Kota Banjarmasin perang tarif tidak bisa dihindarkan. Terbentuknya PHRI di Banjarmasin akan mengkordinasikan agar dapat dicapai kesepakatan terkait standar tarif,” ungkapnya di sela kegiatan pelantikan BPC PHRI Kota Banjarmasin, Selasa (3/7/2018).

Ia berharap, Wali Kota Banjarmasin dalam membuka keran investasi terkait bisnis perhotelan dapat melibatkan PHRI. Hal ini penting agar persaingan bisa tetap kondusif sehingga tidak terjadi perang harga yang berlebihan sesama pengusaha perhotelan.

“Kalau perlu selain meminta rekomendasi PHRI, Pemkot Banjarmasin bisa membuat aturan khusus yang mengatur secara jelas terkait standar tarif masing-masing hotel berbintang. Kalau ini bisa dilakukan saya yakin perang tarif akan berubah menjadi perang layanan,” tambahnya.

Sebelumnya, Ketua PHRI Kalsel Dodot Wahyuddin mengakui memang untuk bintang empat ke bawah saat ini di Kota Banjarmasin sudah terlalu banyak. Akan lebih baik Pemda fokus untuk menarik investor hotel bintang lima.

Menurutnya hal tersebut penting, untuk bisa menjadikan tiga daerah di Kalsel, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar, bertransformasi menjadi Kota Meetings, Incentives, Conferencing and Exhibition (MICE).

“Kalau Kalsel ingin menjadi Kota MICE yang jadi tujuan turis lokal maupun luar, khususnya untuk kegiatan seminar maupun konferensi. Maka Kalsel wajib punya banyak hotel bintang lima,” bebernya.

Saat ini di Kalsel belum memiliki hotel bintang lima. Idealnya minimal memiliki sekitar 10 buah untuk mendukung menjadi kota MICE.

“Kalau hotel bintang lima ini, selain punya banyak kamar, pasti mereka memiliki area convention centre yang dapat menampung peserta dengan jumlah ribuan. Kalau ini bisa dihadirkan tentunya kita akan mudah menarik banyak gelaran nasional hingga internasional ke Kalsel,” imbuhnya.

Diharapkan, Pemda dapat serius mendorong hadirnya investor hotel bintang lima di Kalsel. Baik melalui kemudahan perizinan, pemberian berbagai insentif hingga menyediakan lahan agar mereka mudah dan tertarik.

“Jangan hanya hotel bintang satu, dua dan tiga saja. Itu saya pikir sudah terlalu banyak dan bahkan perlu dilakukan moratorium,” tegasnya.

Sementara itu, Walikota Banjarmasin. H Ibnu Sina mengaku, pihaknya tidak bisa membatasi orang yang mau berinvestasi ke Banjarmasin, apalagi mereka mau membuka bisnis hotel dan restoran, namun apa yang diinginkan oleh PHRI agar sebelum perizinan diberikan direkomendasikan dulu ke PHRI, ini masih bisa dikerjasamakan.

“Saya berharap dengan menjamurnya hotel dan restoran di Banjarmasin juga bisa meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan ke Banjarmasin, terutama wisatawan mancanegara yang diharapkan bisa terus meningkat setiap tahunnya,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...