Perhatian Pak Harto Kepada Masjid Raya Klaten

Oleh Mahpudi, MT

1.299

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 19 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Setelah kami selesai bertamu di Panti Asuhan Putri Muhammadiyah, kami melanjutkan agenda perjalanan napak tilas Incognito Pak Harto menyusuri rute Yogyakarta menuju Surakarta, melewati Klaten. Tentu saja, ini wilayah yang sangat dipahami oleh Pak Harto, sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga dirinya menjadi Panglima Daerah Militer Diponegoro pada tahun 1957. Dan dari perjalanan diam-diam yang berlangsung pada Juli 1970, sungguh tersirat, betapa Pak Harto sangat peduli dengan kehidupan rakyatnya. Ini diperlihatkan pada  foto-foto dokumentasi yang kami bawa.

Pak Harto berbincang dengan warga dan pejabat pemerintah setempat ketika singgah di Rowo Jombor, Krakitan Klaten, pada perjalanan incognitonya pada 22 Juli 1970 – Foto Repro

Sepanjang perjalanan Incognito itu, Pak Harto singgah di sejumlah tempat, antara lain Rowo Jombor, Sumberredjo, Krakitan, Klaten. Di tempat berpemandangan indah itu, Pak Harto mencermati aktivitas pembakaran kapur. Pak Harto juga berhenti dan memeriksa bangunan irigasi yang letaknya tak jauh dari jalan raya di desa Plowangi, Solo. Tak hanya singgah, Pak Harto pun duduk bersama warga, berdialog, serta mendengarkan apa yang ingin mereka sampaikan kepada presidennya.

Pak Harto tak perlu menunggu pulang untuk mengambil keputusan, bila mendapati permasalahan di lapangan. Seperti yang terlihat pada sebuah foto dokumentasi, dimana Pak Harto membuat suatu disposisi langsung di lokasi dengan menggunakan punggung ajudannya, Eddi Nalapraya, sebagai meja landasan untuk menuliskan disposisi atau pun instruksi.

Inilah kendaraan yang ditumpangi Pak Harto selama melakukan Incognito keliling Jawa pada tahun 1970 – Foto Repro

Yang menarik, ketika rombongan memasuki Kota Klaten, Pak Harto melihat rakyatnya tengah bergotongroyong membangun masjid. Pak Harto memerintahkan kendaraannya berhenti. Terlihat, Pak Harto mendatangi mereka, menyaksikan dari dekat proses pembangunan masjid tersebut.

Tim Ekspedisi baru mengetahui, ternyata, masjid yang dimaksud, tiada lain adalah Masjid Raya Klaten. Masjid yang kini berdiri kokoh di tepi Jalan Pemuda, Kota Klaten. Kami menyempatkan singgah dan menunaikan shalat di masjid yang ramai sekali, baik mereka yang tengah beribadah, maupun berkegiatan lainnya.

Sayang sekali, tak ada pihak yang dapat memberikan informasi tentang keberadaan Pak Harto saat itu. Hanya saja, tim kami mendapati sebuah prasasti peresmian, masih terpasang di dinding masjid.

Pada prasasti itu, masih tertoreh dengan sangat kentara : “MASJID RAJA KLATEN, Dibangun dengan gotongroyong masyarakat dan bantuan pemerintah/pemerintah daerah. Dimulai tanggal 1 Januari 1970, selesai tanggal 25 Februari 1980 diresmikan tanggal 27 Februari 1980. Yang Meresmikan Gubernur Jawa Tengah Soepardjo.” Gubernur Soepardjo Rustam adalah salah satu kolega kepercayaan Pak Harto, baik pada masa perjuangan kemerdekaan, maupun pada masa pemerintahan Orde Baru.

Baca Juga
Podium, Saksi Bisu Pidato Pak Harto di Pesantren G... Catatan redaksi: Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 27 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai aca...
Luky Riyanto: Pak Harto, Seorang Ayah Berhati Muli... JAKARTA – Luky Riyanto, mantan kameramen TVRI, memiliki kedekatan emosional dengan Presiden ke-2 Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto. Separuh waktun...
Chaeruddin: Pak Harto Sukses Kembangkan Pertanian JAKARTA – Sepuluh tahun menjadi wartawan istana negara pada masa pemerintahaan Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto, Chaeruddin mengaku sangat...
Pak Harto dan Madrasah Super di Pesantren Tremas-P... Catatan redaksi: Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 24 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai aca...
Pak Harto, Gajah Mungkur dan Mitos Sisifus Catatan redaksi: Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 23 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai aca...
Di Pasar Wuryantoro, Pak Harto Dikira Penjual Es K... Catatan redaksi: Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 22 ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai aca...
Indonesia (Pernah) Berhasil Swasembada dan Ekspor ... JAKARTA --- 33 tahun yang lalu tepatnya di 1985, Indonesia memperoleh penghargaan dari Food Agricultural Organization (FAO) karena sukses melakukan sw...