banner lebaran

Perluasan PLTU Celukan Bawang Ancam Kesehatan Warga Bali

Editor: Koko Triarko

203
Lauri Myllivirta, Ahli Polusi Udara Greenpeace saat ditemui di Denpasar, Jumat  (13/7/2018). -Foto: Sultan Anshori. 
DENPASAR – Usulan perluasan pembangkit listrik tenaga batu bara di PLTU Celukan Bawang, Gerokgak, Buleleng, Bali, dapat menyebabkan kontaminasi merkuri, ribuan kematian dini, dan membahayakan industri pariwisata di pulau tersebut.
Bahkan, angka-angka baru yang dirilis oleh Greenpeace Indonesia, berdasarkan pemodelan dari Universitas Harvard, menunjukkan dampak berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan ekosistem pulau itu, dengan menambahkan dua unit pembangkit batu bara baru ke pembangkit listrik tenaga batu bara Celukan Bawang.
Seorang ahli polusi udara Greenpeace, mengatakan, polusi udara dari pembangkit batu bara telah merusak kesehatan masyarakat Bali, menyebabkan sekitar 190 kematian prematur setahun.
Jika pembangkit batu bara diizinkan untuk diperluas, menambahkan dua unit berkapasitas 330 MW, kematian prematur tahunan bisa meningkat hingga hampir 300. Dengan usia operasi 30 tahun yang khas, pembangkit listrik dapat menyebabkan sekitar 19.000 kematian prematur.
Bahaya bagi kesehatan masyarakat tersebut berasal dari emisi PM2.5 dan NO2, dengan risiko di Indonesia yang sangat tinggi, karena kontrol polusi yang merupakan salah satu yang terlemah di Asia Timur – jauh lebih lemah dari Cina atau Jepang.
“Ekspansi PLTU Celukan Bawang di Bali, salah satu destinasi wisata terpopuler dunia, dapat membahayakan 200.000 jiwa dari paparan polusi udara yang di atas ambang batas aman, dan 30.000 jiwa berpotensi terkena paparan akumulasi  merkuri pada level yang tidak aman. Emisi berbahaya ini juga dapat menjadi ancaman bagi populasi lumba-lumba dan ekosistem sekitar PLTU Celukan Bawang lainnya,” ujar Lauri Myllivirta, saat ditemui Jumat (13/7/2018).
Karena itu, pihaknya sudah memasukkan laporan pemodelan emisi berbahaya dan dampak kesehatannya, dalam persidangan gugatan untuk perluasan PLTU Celukan Bawang pada Kamis, lalu.
Lanjut Lauri, ekspansi yang diusulkan ini sangatlah tidak wajar, terutama karena didorong oleh keputusan Gubernur Bali tanpa penilaian yang memadai dari dampak merkuri yang dihasilkan dan polutan berbahaya lainnya.  Bahkan, tidak ada perhitungan jumlah emisi merkuri yang tertera dalam AMDAL proyek ekspansi tersebut.
Sementara itu, tim  kuasa hukum warga penggugat dan Greenpeace Indonesia, I Wayan Gendo Suardana, menegaskan, bahwa perluasan PLTU Celukan Bawang akan memperburuk kualitas lingkungan yang sudah tercemar oleh PLTU yang saat ini sudah ada, jadi dampaknya harus dihitung secara akumulatif.
Ia juga menilai, bahwa selama ini amdal hanya dijadikan formalitas bagi pembangunan PLTU Celukan Bawang. “Kami meminta amdal ini menjadi instrumen pengendali polusi, bukan malah sebaliknya,” ucap pria asli Gianyar ini.
Seperti diketahui, saat ini sudah dibangun PLTU di kawasan Pesisir pantai Desa Celukan, Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng Bali. PLTU yang sumber pendanaannya dari pemerintah Cina, dan sudah beroperasi sejak 2015. Saat ini, pihak pemerintah menyetujui pembangunan tahap kedua PLTU Celukan Bawang.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.