Petani Bantul Untung Berlipat dari Panen Padi Ketan

Editor: Koko Triarko

314
YOGYAKARTA – Sejumlah petani di Kabupaten Bantul, meraup keuntungan berlipat dengan menanam padi jenis beras ketan pada musim tanam di tengah bulan kemarau ini. Hal ini karena beras ketan memiliki nilai jual lebih tinggi, mencapai dua kali lipat dibandingkan komoditas beras biasa. 
Seperti dirasakan salah seorang petani beras ketan, Ambyah, di Dusun Sumber Batikan, Trirenggo, Bantul, ini. Ambyah mengaku baru pertama kali menanam padi jenis beras ketan, sebagai bentuk inovasinya untuk mendapatkan keuntungan lebih tinggi.
“Dari lahan seluas 750 meter persegi, saya bisa menghasilkan beras ketan mencapai hampir satu ton gabah kering panen. Bisa dikatakan sangat bagus dan menggembirakan,” ujarnya.
Dibanding tanaman padi beras, ia menyebut hasil panen beras ketan miliknya lebih cepat panen. Bobot bulir beras juga lebih banyak dan bersisi, meski dari sisi ukuran berkurang. Bagusnya hasil penen padi beras ketan ini, menurutnya juga karena penggunaan pupuk organik berupa kompos.
“Semua pupuk memakai bahan organik. Ini sesuai dengan yang diajarkan Waringin Agritech, lewat pelatihan yang saya ikuti. Karena, Waringin Agritech memang mendorong petani memakai pupuk maupun pestisida organik. Termasuk mendorong petani memilih tanaman bernilai jual tinggi untuk meningkatkan keuntungan,” katanya.
Sementara itu, salah satu kendala petani beras ketan, kata Ambyah, adalah persoalan waktu tanam. Padi beras ketan hanya akan memperoleh hasil maksimal jika ditanam di musim kemarau. Pasalnya, jika ditanam di musim penghujan, padi beras ketan akan mudah ambruk atau roboh, sehingga dapat mengurangi produksi hasil panen.
“Kendalanya padi beras ketan ini mudah roboh. Apalagi, saat musim hujan. Kalau roboh sebelum tanaman berbunga, maka bulir padi tidak akan berkembang maksimal. Jadi, solusinya kita biasanya menanam saat bulan-bulan kemarau,” katanya.
Dusun Sumber, Batikan, Trirenggo, Bantul, merupakan desa sentra penghasil padi. Pengairan yang bagus sepanjang tahun dari aliran Sungai Winongo di dusun ini, memungkinkan para petani menanam padi hingga tiga kali dalam setahun.
Sayangnya, meski memiliki lahan pertanian yang mendukung, masih sedikit petani di dusun ini mau menaman padi jenis beras ketan. Padahal, padi beras ketan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan beras biasa.
Jika harga jual padi biasa hanya berkisar Rp8.500 per kilogram, harga beras ketan bisa mencapai Rp14.000 per kilogram.
“Biasanya setelah panen, gabah beras ketan ini akan kita simpan di gudang terlebih dahulu. Nanti saat harga jualnya sedang tinggi-tingginya, mencapai Rp20.000 per kilogram, biasanya bulan Januari-Ferbuari, baru kita jual,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...