Petani Bawang Merah Lamsel Raup Untung Saat Kemarau

Editor: Satmoko Budi Santoso

141

LAMPUNG – Petani bawang merah di dataran rendah kawasan pesisir timur Lampung Selatan diuntungkan tibanya musim kemarau.

Pasalnya budidaya komoditas pertanian untuk bumbu tersebut tidak memerlukan curah hujan tinggi dan pasokan air bisa diperoleh dari sumur bor.

Salah satu petani bawang merah di Desa Tamansari Kecamatan Ketapang, Rahmat (58) menyebut, menanam bawang merah di sebanyak tiga lokasi di kecamatan Ketapang.

Keunggulan menanam saat kemarau, dipastikan Rahmat, dirinya bisa memperoleh hasil lebih banyak dibanding musim hujan. Pasalnya saat musim hujan lokasi budidaya bawang merah rentan terimbas banjir sehingga mengakibatkan tanaman membusuk.

Lokasi dataran rendah diakuinya bahkan pernah menyulitkannya saat harus membuang air yang menggenang di parit. Imbasnya produksi bawang merah bisa berkurang sekitar 20 persen dibandingkan saat menanam pada musim kemarau.

Proses pengolahan lahan untuk budidaya komoditas bawang merah [Foto: Henk Widi]
Jenis bibit bawang merah yang digunakan, disebut Rahmat, didatangkan langsung dari Brebes Jawa Tengah. Jenis bawang merah tersebut cocok ditanam di wilayah dataran rendah wilayah Ketapang yang berpasir dan dekat dengan sumber air.

Saat kemarau petani cukup menampung air dari sumur di bak penampungan lalu disalurkan dengan selang. Sistem tersebut diakui sangat efisien memenuhi kebutuhan tanaman.

“Selama hampir belasan tahun menanam komoditas bawang saat saya tinggal di Brebes dan kini merantau ke Lampung, musim kemarau justru menjadi saat tepat menanam bawang,” terang Rahmat, salah satu petani penanam bawang merah di Kecamatan Ketapang, saat ditemui Cendana News, Jumat (27/7/2018).

Benih bawang merah asal Brebes Jawa Tengah didatangkan dalam bentuk biji atau true shallot seed (TSS) lalu dikembangkan pada lahan miliknya. Harga per kilogram bibit dibeli seharga Rp20.000 per kilogram.

Lahan yang memiliki kadar keasaman tinggi setelah diolah kerap dinetralkan dengan mempergunakan pupuk dolomit atau zat kapur. Setelah proses pembajakan menggunakan traktor, Rahmat menyebut, pembuatan benih dilakukan pada media khusus untuk selanjutnya ditanam pada bedengan yang telah disiapkan.

Berbeda dengan penanaman bawang merah saat musim hujan, Rahmat menuturkan sebagian petani memadatkan jarak tanam. Ketika musim penghujan ia biasa menanam bawang merah dengan jarak 20 x 20 cm saat musim kemarau ia menanam dengan jarak 15×15 cm.

Umbi bibit bawang merah dibenamkan dalam sebelumnya diberi penutup jerami. Sebagian guludan yang telah dibuat dan diberi dolomit oleh petani umumnya ditutupi dengan jerami untuk menjaga pertumbuhan awal.

“Saat musim kemarau saya tidak perlu khawatir bibit muda patah oleh air hujan. Cukup terlindung oleh jerami, setelah bertunas jerami bisa disingkirkan,” cetus Rahmat.

Budidaya komoditas bawang merah di wilayah tersebut, diakui Rahmat, sangat cocok. Sebab dari lahan seluas sekitar setengah hektar dengan pengaturan guludan dan jarak tanam tertentu membuat ia bisa memaksimalkan hasil panen.

Jerami dimanfaatkan untuk menjaga kualitas tanah setelah ditaburi dolomit dan menjaga kelembaban agar tidak cepat kering [Foto:Henk Widi]
Hasil penanaman bawang merah disebutnya dalam kondisi normal bisa menghasilkan 100 kilogram hingga 120 kilogram.

Produksi diakuinya bisa menghasilkan sekitar 4 ton dengan harga jual ke pengepul saat ini Rp25.000 per kilogram. Harga jual yang saat ini masih cukup stabil bahkan mampu memberinya hasil kotor sekitar Rp100 juta selama masa penanaman sekitar 60 hari.

Pasca proses pemanenan ia harus melakukan proses penjemuran selama sepekan hingga dua pekan. Penjemuran dilakukan untuk menurunkan kadar air hingga 85 persen agar bawang bisa dipasarkan.

Petani bawang merah lain di desa Ruguk kecamatan Palas, Somad (40) menyebut, dirinya terbantu menanam bawang merah saat musim kemarau. Kemarau yang mulai melanda sejak akhir Juni hingga awal Juli, diakuinya, memberi dampak positif bagi petani bawang merah.

Pengalaman masa tanam sebelumnya saat musim penghujan dirinya hanya mendapatkan hasil sekitar 3 ton bawang merah.

“Saat kemarau seperti sebelumnya dengan guludan lebih diperbanyak dan jarak tanam lebih rapat saya bisa mendapat empat ton lebih,” beber Somad.

Sesuai kalkulasi modal pengolahan hingga penanaman, ia menyebut, biaya lebih murah saat kemarau. Ia menyebut, mengeluarkan biaya sekitar Rp30 juta untuk satu kali musim tanam selama 60 hari.

Hasilnya selama dua bulan dirinya bisa mengantongi omzet kotor sekitar 100 juta. Ia juga memastikan biaya paling besar saat kemarau dikeluarkan untuk memompa air dari sumur bor dan sungai.

Sementara, saat hujan lahan miliknya kerap terendam belum risiko pembusukan tanaman. Penanaman bawang merah saat hujan disebutnya juga mempengaruhi kualitas bawang.

Kesulitan pengeringan dengan sinar matahari membuat kadar air bawang merah panen lebih tinggi. Sebagian bawang merah banyak dijual di pasar lokal memangkas rantai distribusi dan menjaga pasokan bahan bumbu itu tanpa harus memasok dari luar Lampung.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.