Petani di NTB Tolak Wacana Wapres Soal Tembakau

Editor: Koko Triarko

325
LOMBOK – Sejumlah petani di Lombok menolak adanya wacana perlunya peralihan tanaman pengganti tembakau ke tanaman lain, yang dikemukakan Wakil Presiden, H.M. Jusuf Kalla, saat pencanangan program penanganan stunting di Kabupaten Lombok Tengah, beberapa waktu, lalu.
Pasalnya, tanaman tembakau bagi sebagian besar petani di Provinsi Nusa Tenggara Barat, khusus di kawasan Pulau Lombok bagian selatan telah menjadi tanaman unggulan dan primadona, yang selama ini terbukti mampu memberikan keuntungan besar secara ekonomi bagi petani.
“Bagi petani, terutama petani lahan tadah hujan, tembakau jadi tanaman andalan dan telah terbukti mampu memberikan keuntungan besar dari sisi ekonomi”, kata Muhrim, petani Tembakau di Desa Wakan, Lombok Timur, Senin (9/7/2018).
Karenanya, meski beberapa kali musim, harga tembakau sempat anjlok, baik akibat cuaca maupun akibat permainan para spekulan, petani setiap tahun usai panen musim penghujan tetap menanam tembakau.
Bahkan, katanya, keçenderungan semakin banyak petani yang menanam tembakau, karena tergiur keuntungan, dibandingkan tanaman lain seperti palawija atau hortikultura.
“Tanaman tembakau, bagi petani Lombok sudah terlanjur jadi primadona, sehingga wacana peralihan ke tanaman lain akan sulit diminati”, katanya.
Darmawan, anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Pade Girang, Desa Banyu Urip, Lombok Tengah, mengatakan, selain lebih menguntungkan dari sisi ekonomi, tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air.
Sehingga, menurutnya, jika melihat kondisi lahan pertanian bagian selatan sebagai lahan tadah hujan dan kerap menjadi langganan kekeringan, sangat beralasan tanaman tembakau banyak diminati petani.
“Kalau tembakau paling membutuhkan air sedikit besar saat awal masa tanam untuk penyiraman lahan sawah, supaya tanahnya gembur ditanami, setelah itu air dibutuhkan sedikit untuk pengairan dan pemupukan”, katanya.
Hal ini berbeda dengan menanam hortikultura seperti sayuran atau melon, yang membutuhkan banyak air, sementara embung dan sungai di kawasan selatan Lombok kalau sudah musim kemarau seperti sekarang banyak yang kering.
“Terus mau dapat air dari mana?”, katanya.
Karena itu, pinta Darmawan, daripada pemerintah sibuk memikirkan peralihan atau penggantian tanaman dari tembakau ke tanaman lain, lebih baik membantu pemenuhan ketersediaan air bagi petani, dengan mengeruk embung yang dangkal atau membangunkan sumur bor bagi pertanian.
“Masalah kesehatan akibat rokok, silahkan saja dikampanyekan, karena mau dikampanyekan atau tidak, namanya orang sudah kecanduan merokok tetap akan merokok”, katanya.
Wakil Presiden RI, HM. Jusuf Kalla, saat meresmikan pencanangan program penanganan masalah stunting di Lombok sempat mengungkapkan, penanganan masalah kesehatan di suatu daerah seringkali kontras
Ia mencontohkan, di sekitar pencanangan program kesehatan stunting, Desa Dakung, Lombok Tengah, banyak terdapat tanaman tembakau, sehingga ke depan perlu dipikirkan, supaya bisa dilakukan peralihan atau tanaman pengganti oleh petani di Lombok, dari tanaman tembakau ke tanaman lain, seperti tanaman hortikultura.
Baca Juga
Lihat juga...