Petani Ikan Manfaatkan Limbah, Atasi Tingginya Harga Pakan

Editor: Koko Triarko

238
LAMPUNG — Sektor perikanan budi daya (akuakultur) di Kabupaten Lampung Selatan, turut terdampak dengan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Harga pakan ikan, naik sehingga para petani ikan ahrus mengeluarkan biaya ekstra.
Salah satu pembudidaya ikan di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Rendi Antoni (34), yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Manfaat, mengatakan, kenaikan harga pakan ikan pabrikan dalam dua bulan terakhir ini terus bergerak mengikuti Dolar.
Menurutnya, pakan pabrikan kualitas biasa tergantung merk di toko pakan, semula Rp260.000 per Sak (isi 50 kilogram), naik menjadi Rp275.000 per Sak. Pakan ikan kualitas bagus, semula Rp280.000/Sak, naik menjadi Rp300.000.
Akibat kenaikan harga pakan tersebut, ia dan sejumlah pembudidaya ikan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pembesaran ikan air tawar.
Ia menjelaskan, asumsi biaya ekstra tersebut, bahwa dalam satu musim pembesaran jenis ikan lele sekitar 60 hari, per satu kilogram pakan bisa membesarkan ikan sebanyak satu kilogram. Jika dirata-rata, satu kilogram pakan dibeli dengan harga Rp6.000, naik menjadi Rp7.000, sehingga untuk satu ton ikan, ia harus mengeluarkan biaya ekstra sekitar Rp1 juta.
“Kalkulasi harga pakan untuk biaya produksi yang naik, dampak langsungnya tentu pada harga jual ikan, yang naik sebesar kenaikan harga pakan,” jelas Rendi Antoni, saat ditemui Cendana News, Senin (30/7/2018).
Rendi Antoni juga menyebut, harga pakan pabrikan terus merangkak naik akibat sebagian bahan diimpor.
Sementara untuk mengurangi biaya pakan, ia  memanfaatkan sejumlah limbah makanan (makanan kedaluwarsa) dan limbah hasil pertanian dan makanan. Antara lain, roti sisa produksi pabrik, roti kedaluwarsa dari sejumlah toko waralaba, dedak atau bekatul padi, ikan asin kering, ayam mati kemarin (ayam tiren) dan keong mas.
“Limbah roti yang terbuang saya datangkan dari Kabupaten Pringsewu, dedak atau bekatul padi dari sejumlah tempat penggilingan, ikan kering dari tempat pembuatan ikan asin, yang dikenal dengan ikan sampah serta keong mas dibeli dari petani,” cetus Rendi Antoni.
Semua jenis limbah tersebut, kata Rendi Antoni, dibeli dengan jumlah sekitar setengah ton dari Pringsewu, dari pabrik pembuatan roti dan toko. Harga per kilogram roti Rp2.000 atau Rp1 juta untuk setengah ton roti.
Dedak atau bekatul perkarung dibeli seharga Rp2.000, ayam tiren per karung dengan berat mencapai 25 kilogram dibeli Rp30.000, keong mas hama padi sawah dibeli Rp8.000 per ember, dengan berat sekitar lima kilogram, ikan kering dibeli per kilogram, Rp1.000.
Semua bahan limbah tersebut dicampur dengan cara digiling menggunakan mesin berbahan bakar solar. Perbandingan campuran 1:1 untuk semua jenis bahan, berupa 1 kilogram limbah roti dicampur 1 kilogram dedak dan bahan lain menyesuaikan. Setelah digiling, semua bahan akan terbentuk menjadi seperti pelet yang dijemur dalam proses pengeringan.
“Pakan dikeringkan selama dua hari, maksimal bisa menjadi seperti pakan pabrikan. Disimpan dalam plastik atau karung kedap udara sebelum ditebar sebagai pakan,” beber Rendi Antoni.
Menurutnya, penggunaan pakan yang dibuat secara mandiri dari berbagai jenis limbah makanan, setidaknya bisa menghemat biaya pakan. Sesuai dengan kalkulasi harga pakan per kilogram, jika membeli pakan pabrikan, dirinya bisa menghemat sebesar Rp3.000/kg.
Jika dirinya bisa memproduksi satu ton pakan ikan buatan, maka ia bisa menghemat sekitar Rp3 juta untuk pakan ikan air tawar miliknya. Efisiensi pakan selama beberapa tahun telah dilakukan oleh Rendi Antoni, sehingga ia bisa menjual ikan ke pengecer dengan harga lebih rendah dibanding pembudidaya lain yang menggunakan pakan pabrikan.
Namun, Rendi Antoni yang memelihara lima jenis ikan, yakni lele, emas, nila, gurami, dan patin, terpaksa mengurangi jumlah ikan yang dipeliharanya. Sejak awal 2018, ia menyebut dari enam petak kolam tanah liat, masing-masing berukuran sekitar 120 meter, hanya diisi tiga jenis ikan.
Ikan yang dipelihara berupa ikan patin sebanyak 28.000 ekor, ikan emas 2.000 ekor,dan  ikan gurami 3.500 ekor. Beberapa jenis ikan yang tidak dipelihara pada musim tebar tahun ini, disebabkan sulitnya mencari benih dan kebutuhan pakan yang semakin mahal.
Meski demikian, ia mengaku selalu memanen ikan secara berkelanjutan setiap pekan, dengan sistem penjadwalan. Penyortiran ilakukan untuk melayani pembeli pengecer yang akan dijual kembali dan sejumlah warung kuliner.
Sementara itu, harga berbagai jenis ikan air tawar, menurut Rendi Antoni, saat ini bervariasi. Ikan patin usia tiga bulan bisa dipanen dengan per kilogram ikan berisi empat ekor, seharga Rp13.000.
Ikan emas berisi empat ekor ikan per kilogram dijual Rp17.000 usia empat bulan, ikan gurami dengan berat satu kilogram berisi dua ekor dijual Rp30.000 bisa dipanen usia 6 bulan. Ikan lele seharga Rp17.000 berisi sekitar 8 ekor ikan usia dua bulan. Ikan nila dijual Rp17.000 per kilogram, berisi lima ekor ikan per kilogram.
“Biaya pakan yang bisa ditekan tentunya menguntungkan pedagang dan konsumen, karena harga bisa lebih rendah,” beber Rendi Antoni.
Selain Rendi Antoni, pembudidaya ikan air tawar lain di Kecamatan Palas, Suyatno (40), juga mengaku memanfaatkan daun talas untuk  mengatasi tingginya harga pakan. Selain memanfaatkan dedak padi, dirinya menanam pakan alami berupa talas, di sekitar pekarangan rumah.
Ia menyebut, harga pakan yang naik cukup memberatkan sejumlah pembudidaya ikan air tawar. Cara terbaik penghematan biaya pakan disebutnya dilakukan dengan mengoplos pakan pabrikan dan pakan alami serta pakan buatan secara mandiri.
Ia juga mengatakan, saat ini selain terkendala pakan, pembudidaya ikan juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk penyedotan air selama musim kemarau, dari sungai yang letaknya lebih rendah dari kolam.
Baca Juga
Lihat juga...