Petilasan Raden Mas Said di Dusun Dawe Dibidik Sebagai Wisata Relegi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

671
Bersih Desa di Dusun Dawe menjadi salah satu tradisi melestarikan petilasan peninggalan Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa. Foto: Harun Alrosid

SOLO — Bukti sejarah panjang Raden Mas Said dalam perjuangan melawan kolonial belanda, dan menjadi sosok penting cikal bakal Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah masih bisa dijumpai hingga saat ini.

Salah satunya petilasan yang ada di Dusun Dawe, Desa Mojoroto, Kecamatan Mojogedang, yang konon digunakan Raden Mas Said untuk bertapa.

Upaya pemerintah, baik Desa maupun Pemkab Karanganyar dalam melestarikan tempat bersejarah cukup baik. Bahkan tak hanya merawat, Pemerintah Desa secara khusus mengalokasikan dana untuk mempercantik petilasan ini.

Ritual adat serta tradisi bersih dusun juga selalu diselengarakan setiap tahunnya di petilasan yang berumur ratusan tahun itu.

“Petilasan ini punya peminat khusus, khususnya kejawen. Banyak yang datang untuk berdoa maupun mengambil air dari mata air yang muncul dari petilasan ini,” kata Kepala Desa Mojoroto, Trimarto kepada awak media, Minggu (29/7/2018).

Diceritakan Trimarto, petilasan di Dusun Dawe yang saat ini lebih dikenal sebagai Sendang Bejen merupakan tempat persembunyian sekaligus digunakan untuk membuat trategi Raden Mas Said dan pasukannya dalam melawan penjajah Belanda.

Bahkan di petilasan ini pula, Raja Mangkunegara I ini juga membangun benteng pertahanan dan jalur khusus untuk pelarian.

“Untuk mengenang jasa-jasa beliau yang telah lampau, kami setiap tahunnya menggelar ritual bersih dusun di petilasan ini. Tujuannya masyarakat agar selalu mengingat perjuangan yang telah dilakukan Raden Mas Said dalam melawan penjajah, sekaligus sebagai semangat untuk membangun Karanganyar,” terangnya.

Bupati Karanganyar Juliatmono beserta Muspida yang menghadiri tradisi resik dusun di Petilasan Raden Mas Said. Foto: Harun Alrosid

Petilasan bersejarah di atas lahan seluas 3000 meter persegi ini baru dipugar pada 2017 lalu. Semula masih seadanya dan belum ditata sedemikian rupa. Saat ini, menggunakan Dana Desa melalui BUMDes, pihaknya memugar dan menyulapnya sebagai tempat wisata yang menarik.

Tak hanya kalangan tertentu, petilasan bersejarah inipun juga dinikmati generasi saat ini karena dilengkapi taman untuk swafoto, maupun kuliner. Pintu masuk petilasan ini juga dibangun gapura dan tembok artistik mengelilingi sendang.

“Usaha yang dirintis karang taruna inilah menjadi embrio BUMDes. Nanti kita juga membuat kolam renang yang bersumber air dari sendang,” tandasnya.

Di Sendang Bejen ini setiap tahunnya diselenggarakan ritual adat, yakni setiap Jumat Pon jelang Idul Adha. Seluruh warga berkumpul dengan membawa berbagai hasil bumi, nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauk dan buah-buahan.

Tak hanya untuk kalangan pria, kaum wanita juga turut dilibatkan dan membawa barang yang sama. Seluruh ubo rampe inilah yang dikirab dari rumah masing-masing dengan dipimpin sesepuh desa.

“Baru setela didoakan, warga saling bertukar makanan dan memakannya bersama. Ritual adat ini telah berlangsung turun temurun dari nenek moyang terdahulu,” imbuhnya.

Tradisi bersih dusun ini turut dihadiri Bupati Karanganyar Juliatmono beserta pimpinan Muspida.

Dalam sambutannya, bupati berharap petilasan peninggalan Raden Mas Said ini dirawat dengan baik dan sebagai simbol untuk semangat berjuang, semangat membangun dan semangat memiliki Karanganyar.

“Petilasan ini sangat bersejarah bagi kita, maka rawatlah. Semangat yang dibawa dalam sesik dusun ini adalah semangat gotong royong dan guyub rukun,” kata Juliatmono singkat.

Baca Juga
Lihat juga...