banner lebaran

Polemik SKM, Dinkes Bali Imbau Warga Lebih Hati-hati

Editor: Koko Triarko

247
Ketut Suarjaya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali. -Foto: Sultan Anshori.
DENPASAR — Isu terkait susu kental manis (SKM) yang dinyatakan tidak mengandung susu, melainkan gula, ditanggapi serius oleh pihak Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, bahhkan secara khusus mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan beralih mengkonsumsi susu segar.
“Itu kan termasuk penipuan, karena dalam iklannya mengaku susu, padahal tidak. Kami juga berterima kasih atas penelitian yang dilakukan oleh BPOM pusat terkait kandungan susu, sehingga kita tahu, bahwasannya terdapat kandungan berbahaya bagi masyarakat jika dikonsumsi,” ucap Ketut Suarjaya, kepada Cendana News, Jumat (6/7/2018).
Menurut Suarjaya, SKM tersebut memang mengandung Kalori, tetapi jika dikonsumsi berlebihan akan berbahaya bagi tubuh, karena terjadinya peningkatan kadar gula di dalam darah. Sehingga, jika respon tubuh kurang baik, maka cenderung bisa mengakibatkan penyakit Diabetes.
Ia menambahkan, prevalensi penderita Diabetes di Indonesia rata-rata sebesar 1,5 persen dari total jumlah penduduk di Indonesia. Termasuk di Bali jumlahnya tidak jauh berbeda. Sementara untuk penderita Diabetes di Bali tercatat 1,5 persen dari jumlah penduduk yang ada, dengan Jembrana sebagai Kabupaten penderita diabetes terbesar di Bali dari angka dua persen.
“Selain itu, kami dari pihak Dinas Kesehatan Provinsi Bali juga melakukan pencegahan dari sisi hulun, yaitu dengan cara memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar melakukan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas), termasuk mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang, salah salah satunya dengan cara mengkonsumsi sayuran dan buah,” kata dokter asal Buleleng ini.
Menurutnya lagi, saat ini konsumsi sayuran dan buah sangat kurang di Bali. Dari data penelitian yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali pada 2017, menyebutkan, 93 persen dari total masyarakat Bali kurang mengkonsumsi buah dan sayur serta ikan.
Masyarakat lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak, seperti daging, dan makanan yang mengandung banyak gula yang cenderung termasuk makanan yang kurang sehat, jika dikonsumsi secara berlebihan.
Bahkan, dari data penelitian yang baru-baru ini dilakukan terhadap anak sekolah, 75 persen gizi anak bermasalah, dan dari 75 persen itu juga diketahui 61 persennya kurang bugar.
“Ini menunjukkan germas belum baik. Termasuk gerakan fisik terhadap anak yang cenderung sangat kurang. Padahal, kami sudah melakukan berbagai cara, termasuk sosialisasi untuk lebih meningkatkan germas. Semua kembali kepada masyarakat sendiri,” kata Suarjaya.
Sementara itu, keluarnya surat edaran dari BPOM terkait SKM tersebut membuat resah kalangan masyarakat. Pasalnya, kebanyakan selama ini masyarakat sering mengkonsumsinya.
Endang, ibu rumah tangga, mengaku sering menggunakan SKM dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk memberikannya kepada anaknya. “Kenapa baru sekarang diungkap ya, Mas?,” tanya perempuan asal Surabaya ini.
Dirinya mengaku dilema dengan surat edaran tersebut. Di satu sisi bisa berbahaya jika dikonsumsi, dan di sisi lain SKM tersebut dibutuhkan untuk dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berharap, ke depan produksi susu memang betul-betul memiliki kandungan susu, bukan malah sebaliknya. Karena menurutnya susu tersebut sudah menjadi kebiasaan yang dikonsumsi oleh masyarakat.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.