Polres Aceh Tahan Dua Pembunuh Gajah Bunta

Ilustrasi tahanan - Dokumentasi CDN

JAKARTA – Dua orang telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan pihak Polres Aceh Timur, sementara dua pelaku lainnya ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) atas kasus pembunuhan gajah bunta di Aceh Timur.

Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, mengatakan, kedua tersangka berinisial BW dan AL merupakan penduduk di sekitar conservation respon unit (CRU) Serbojadi Aceh Timur. Sementara dua pelaku lain yang menjadi buronan adalah PT dan AR.

“Adapun barang bukti yang diamankan diantaranya adalah sepeda motor yang digunakan pada saat pembunuhan, gading yang tertinggal maupun yang disembunyikan tersangka, baju tersangka dan satu bilah parang,” jelasnya.

Upaya penegakan hukum terhadap kasus pembunuhan gajah sumatera Bunta di Aceh Timur dilakukan oleh Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dari Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan Ditjen Penegakan Hukum (Gakkum), Kepolisian Resort Aceh Timur, serta Bareskrim Mabes Polri.

Sebagaimana diketahui, pembunuhan gajah Bunta terjadi pada 9 Juni 2018 dan cukup menarik perhatian publik. Hal itu dikarenakan, kematiannya tidak wajar. Bahkan Gubernur Aceh memberikan atensi secara langsung terhadap kasus tersebut, dengan memberikan hadiah kepada masyarakat yang dapat membantu pengungkapannya.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Ditjen KSDAE KLHK Indra Exploitasia menyampaikan, pentingnya penyelesaian kasus tersebut. Hal itu dikarenakan, satwa gajah (Elephas maximus) merupakan satwa liar yang dilindungi oleh UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Gajah juga masuk dalam list appendix 1 CITES, dengan status terancam hampir punah. “Di Indonesia terdapat dua sub species gajah yaitu Elephas maximus sumatranus, yang tersebar di Aceh, Sumut, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumsel, dan Lampung, serta Elephas maximus borneonsis atau gajah pigmy yang penyebarannya di Kaltim. Berdasarkan data dari Forum Gajah (2016), jumlah populasi gajah di Indonesia sekitar 1.724 ekor. Keberadaan populasi gajah semakin terancam dengan tingginya kebutuhan ruang untuk hidup manusia,” jelas Indra, Rabu (4/7/2018).

Selain ancaman fragmentasi habitat, Indra menerangkan, satwa tersebut juga terancam oleh perburuan liar. “Kejahatan ini merupakan kejahatan serius karena bersifat terorganisir dan lintas negara. Hal ini dikarenakan gading gajah masih banyak diburu kolektor. Untuk itu, upaya memerangi perburuan dan perdagangan tumbuhan dan satwa liar, termasuk gading gajah, harus terus secara serius dilakukan semua pihak,” jelasnya.

Hingga saat ini KLHK telah melakukan berbagai upaya konservasi gajah. Antara lain dengan membangun tujuh Pusat Konservasi Gajah di wilayah Sumatera, dan beberapa conservation respon unit (CRU) untuk mengatasi konflik yang terjadi antara manusia dan gajah. Khusus di Provinsi Aceh ada 7 CRU termasuk CRU Serbojadi. Selain itu terdapat unit-unit patroli gajah sebagai media penyelesaian konflik dan pemberdayaan masyarakat, melalui mitra polhut untuk pengamanan hutan.

Kasubdit 1 Dittipidter Bareskrim Mabes Polri Kombes Adi Karya mengatakan, pihaknya akan terus mendorong pengungkapan kasus ini hingga ke jaringannya, dan berharap agar bisa menjadi pembelajaran kepada semua pihak dalam upaya pelestarian satwa liar khususnya gajah di Sumatera. (Ant)

Lihat juga...