Posdaya Sirsak, Cikal Bakal Posdaya di Kecamatan Jagakarsa

Editor: Satmoko Budi Santoso

176

JAKARTA –  Ibu Slamet tidak mengira ketika dirinya tiba-tiba disodori uang sejumlah Rp250 juta oleh Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D. yang merupakan mantan Menko Kesra Kabinet Reformasi Pembangunan, dan juga dikenal sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang terkenal dengan program Keluarga Berencana di era Presiden Soeharto.

Oleh beliau dirinya diminta untuk mengelola uang tersebut.

Dirinya sempat menolak dengan alasan bahwa dirinya orang tidak mampu dan jika ada orang yang tidak bayar, dirinya mau ganti uang tersebut. Jika dirinya memiliki atasan untuk bertanggung jawab dalam mengelola uang tersebut, dirinya siap membantu. Pada akhirnya Haryono Suyono menunjuk Universitas Pancasila sebagai pelindung.

“Kamu salurkan ke warga yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha atau mereka yang ingin membuka usaha,” begitu ucapan dari Bapak ketika datang berkunjung ke Srengseng tempat tinggal kita waktu dulu, namun saya tolak,” jelas Ibu Slamet, Jumat, (20/7/2018).

Sambil menulis, ibu Slamet bercerita, bahwa memang di wilayah Srengseng Sawah Posdaya Sirsak merupakan Posdaya yang pertama ada. Kemudian perwakilan dari Universitas Pancasila yakni ibu Farida datang menemui dirinya ke rumah memberikan uang yang dijanjikan Haryono Suyono. Waktu itu untuk selanjutnya dipinjam-pinjamkan.

“Di wilayah tempat tinggal ini jumlah warga masih sedikit, karena saya waktu itu sebagai pengurus kelurahan. Akhirnya saya beberkan di kelurahan perihal apa yang saya akan lakukan. Dari situlah hampir semua warga dari RW Kelurahan Srengseng datang ke saya untuk melakukan peminjaman,” katanya.

Selanjutnya, setiap hari banyak yang datang untuk pengajuan peminjaman. Dirinya juga dibantu tim Koperasi Sudara Indra mengontrol melakukan pendataan dan survei lokasi warga yang ingin meminjam.

“Alhamdulillah mereka yang mengajukan peminjaman memang orang-orang yang membutuhkan membuka usaha, mengembangkan usaha.

“Silih berganti, keluar masuk warga yang mengajukan peminjaman, walaupun ada satu dua warga yang pada akhirnya tidak sanggup atau susah untuk mengganti. Itu dapat kita atasi dan kita selesaikan, dan memang pasti ada salah satu atau dua dari 250 orang yang tidak bisa membayar, itu bisa kita tangani,” ucapnya.

Dikatakan lagi, 6 tahun sudah Posdaya Sirsak menjalankan Tabur Puja, dan ada beberapa anggota yang peminjamannya sudah sampai Rp4 juta. Tentu dengan proses yang panjang untuk mencapai peminjaman seperti itu, beberapa anggota yang sudah mencapai Rp4 juta itu dinilai baik sehingga tiap tahun dinaikkan peminjamannya.

Posdaya Sirsak sendiri berdiri pada tahun 2012. Memang Posdaya Sirsak adalah yang pertama ada di Kecamatan Jagakarsa dan menjadi posdaya percontohan. Setelah mulai berjalan dan ruang lingkupnya terlalu luas, dengan awal anggota berjumlah 50 orang dan semakin hari semakin bertambah, hingga mencapai kurang lebih 250 orang, maka selanjutnya setelah pergantian Ketua Yayasan Damandiri dari Haryono Suyono ke Subiakto Tjakrawerdaja, dirinya meminta kepada pelindung dalam hal ini Universitas Pancasila untuk mendirikan Posdaya lagi.

Lahirlah Posdaya Bacang untuk selanjutnya sebagian anggota dialihkan ke Posdaya Bacang. Tidak hanya Posdaya Bacang, selanjutnya lahir juga Posdaya Kemuning. Yang keduanya masih di area Kelurahan Srengseng Sawah, Jakarta.

“Untuk sekarang anggota kita mencapai 189 orang dari berbagai RW, dengan masing-masing anggota memiliki penanggung jawab, dan kebetulan para penanggung jawab sebagian besar para ketua RW,” katanya.

Dijelaskan lagi, memang target yang dituju yakni masyarakat Prakeluarga Sejahtera, namun memang sulit dan sedikit mengalami kendala.  Hampir sebagian masyarakat Prakeluarga Sejahtera melakukan peminjaman sebesar Rp2 juta sesuai aturan yang diberikan Koperasi Sudara Indra. Namun susah untuk mengembalikan peminjaman tersebut. Kejadian yang dialami ada warga yang pinjam untuk membuka usaha, namun baru dua kali pembayaran tiba-tiba menghilang alias melarikan diri.

Walaupun demikian pihaknya tetap memberikan peminjaman dan perlahan-lahan dengan dibantu oleh Koperasi Sudara Indra serta perwakilan dari Universitas Pancasila memberikan sosialisasi penyuluhan kepada masyarakat Prakeluarga Sejahtera tersebut, lambat laun mulai paham dan mengerti.

“Memang waktu awal-awal berdiri pihaknya memberikan pinjaman ke masyarakat Prakeluarga Sejahtera agar bisa dibilang percobaan untuk melangkah dalam menjalankan program Posdaya. Masyarakat Prakeluarga Sejahtera awalnya tidak full diberi pinjaman. Perlahan namun pasti, setiap bulan dinaikkan pinjaman mereka sampai maksimal. Pinjaman awal yang didapat yakni Rp2 juta,” katanya.

Hingga saat ini, posdaya Sirsak semakin maju dan terus berkembang, dan tentu sebagai pengurus posdaya merasa senang melihat masyarakat Prasejahtera mulai berubah nasib hidupnya.

“Kamu lihat tadi di depan gang masuk, ibu penjual sayuran. Itu awal mula hanya jualan gorengan, tetapi ketika dia mulai ikut keanggotaan di dalam Tabur Puja, jualannya bertambah, yakni selain berjualan gorengan juga berjualan sayur mayur,” jelas Ibu Slamet, menutup pembicaraan.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.