PPDB Membuat Sekolah Swasta Kebanjiran Murid

Editor: Satmoko Budi Santoso

342

MAUMERE – Hadirnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan menggunakan sistim zonasi menyebabkan jumlah siswa yang mendaftar di sekolah negeri banyak tetapi yang diterima terbatas.

“Dengan begitu banyak siswa yang tidak lolos akan mendaftar di sekolah swasta. Terus terang siswa yang mendaftar di sekolah kami meningkat sedikit dibandingkan tahun 2017 lalu,” sebut kepala sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere, Marselinus Moa Ito, Kamis (19/7/2018).

Dikatakan Moa Ito, dari daya tampung siswa kelas X di sekolahnya sebanyak 360 orang untuk 10 rombongan belajar, yang mendaftar sebanyak 354 orang namun yang bersekolah di SMK Yohanes XXIII Maumere hanya sebanyak 289 orang dan mengalami kekurangan 71 siswa.

Kepala sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere Marselinus Moa Ito. Foto : Ebed de Rosary

“Tahun lalu jumlah siswa yang bersekolah disini sebanyak 265 orang sementara tahun ini 289 orang sehingga hanya meningkat 24 orang saja. Tapi rombongan belajar atau kelasnya tetap 10 dan tidak ada penambahan lagi sebab jumlahnya pun masih dibawah kuota yang ada,” terangnya.

Sistem PPDB pun kata Moa Ito membuat sekolah negeri terpaksa menerima semua siswa yang masih berada di dalam zona tersebut tanpa melihat nilai kelulusan siswa tersebut. Yang berprestasi dan tidak mempunyai hak yang sama untuk bersekolah di sekolah negeri.

“Ini juga menajdi tantangan bagi sekolah swasta untuk bisa memperbaiki kualitas sehingga menjadi sekolah yang dikatakan favorit dan diincar siswa baru. Namun biaya di sekolah negeri pasti lebih murah sehingga orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah negeri,” terangnya.

Kepala Sekolah SMK Negeri 3 Alfrid B.Kedoh mengatakan, untuk tahun 2018 sekolahnya menerima murid sesuai kuota sebanyak 215 orang siswa sesuai jumlah Rombongan Belajar (Rombel) atau kelas sebanyak 6.

“Jumlah siswa yang mendaftar sebanyak 340 orang sementara yang kami terima sesuai kuota hanya sebanyak 215 siswa saja sehingga dengan demikian 125 siswa lainnya kami tolak,” terangnya.

Sementara, Yuvensia Nona, orang tua wali murid yang ditanyai Cendana News mengaku senang dengan adanya peraturan baru menteri pendidikan ini sehingga anaknya tidak kesulitan masuk SMA Negeri 2 Maumere karena rumahnya dan lokasi sekolah berada di dalam satu kelurahan.

“Kami tidak kesulitan mencari sekolah buat anak saya sebab kami hanya membawa ijasah, akte kelahiran dan juga kartu keluarga saja dan anak kami diterima bersekolah meski nilai ujiannya pas-pasan, tidak mendapat rangking saat di SMP,” sebutnya.

Yuvensia pun mengaku bersyukur dan berpesan kepada anak perempuannya agar belajar dengan sungguh-sungguh sebab dengan bersekolah di sekolah negeri bisa meringankan beban orang tua. Biaya sekolah tidak mahal seperti di sekolah swasta sehingga kami sebagai orang tua dengan penghasilan terbatas merasa tidak terlalu terbebani.

Baca Juga
Lihat juga...