Pria Ini Ubah Limbah Pigura jadi Bonsai Cantik

Editor: Satmoko Budi Santoso

238
Slamet Wahyudi menyelesaikan tahapan pembuatan bonsai dari limbah pigura dengan memasang bunga plastik lengkap dengan daunnya. Foto: Harun Alrosid

SOLO – Berawal dari keprihatinan terhadap limbah pigura dan bahan-bahan kerajinan lukis, seorang pria mampu menyulap menjadi barang yang bernilai ekonomis.

Bahkan, dari keterampilan membuat bonsai purba dari limbah tersebut, pria yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak ini dalam sebulan mampu meraup untung jutaan rupiah.

Keterampilan membuat bonsai purba dari limbah pigura dan kardus ini sudah hampir lima tahun ditelateni oleh Slamet Wahyudi. Pria 57 tahun itu mengaku, awalnya hanya ingin memanfaatkan barang-barang yang biasanya dibuang menjadi kerajinan yang nyaman dipandang mata.

“Limbah potongan-potongan kecil pigura biasanya banyak yang dibuang. Kemudian saya ambil, dan mulai coba-coba bagaimana memanfaatkan limbah ini,” ucap Slamet kepada Cendana News, Selasa (31/7/2018).

Sejumlah kerajinan bonsai dari limbah pigura yang diproduksi Slamet Wahyudi – Foto: Harun Alrosid

Awal mencoba membuat kerajinan bonsai dari limbah pigura, pria asal Sragen ini belum menemukan cara yang tepat sehingga bisa dimaksimalkan. Lambat laun, bapak empat anak ini menggunakan bensin untuk melunakkan limbah pigura dan kardus.

Namun, teknik menggunakan bensin ini pun tidak bisa berlangsung cepat, karena membutuhkan waktu 4 hari hingga akhirnya bisa digunakan membuat bonsai.

“Harus dilunakkan dulu sebelum dibentuk. Proses pembuatan bonsai ini dari memilih limbah pigura dan kardus dan dilunakkan hingga cukup. Setelah itu baru dililitkan pada potongan ban yang sudah disiapkan maupun kayu sebagai kerangka bonsai purba,” tuturnya.

Proses pembuatan bonsai purba, lanjut Slamet, dilakukan secara sederhana. Yakni, setelah tangkai bonsai purba dibuat sesuai dengan bentuk yang diinginkan, baru selanjutnya dicat. Langkah selanjutnya adalah pemasangan bunga plastik dan kain lengkap dengan daunnya.

“Pemasangan ini dilakukan saat bahan bonsai belum kering. Setelah semua bunga dipasang, baru dikeringkan dengan cara dijemur sinar matahari,” ungkapnya.

Satu kerajinan dari limbah pigura yang telah diubah menjadi cantik ini dijual dengan harga antara Rp200.000 – Rp600.000. Harga bonsai purba yang dijual disesuaikan dengan besar kecilnya bonsai dan tingkat kesulitannya.

Dalam sebulan, pria yang saat ini masih bekerja dengan mengayuh becak ini mampu meraup untuk jutaan rupiah. “Masih tetap becak, sambil mencari limbah pigura maupun kardus. Lumayan bisa ngumpul dikit-dikit dan bisa buat nyambung hidup,” katanya.

Setelah berlangsung cukup lama, Slamet mengaku, tidak sulit untuk memasarkan bonsai purba dari limbah tersebut. Bahkan, dirinya juga telah memiliki pelanggan yang berasal dari Solo dan daerah sekitarnya serta kota-kota di Indonesia.

“Yang dibeli dari Solo, Sukoharjo, Yogyakarta, Semarang dan masih ada lagi. Ya mudah-mudahan anak muda juga bisa memanfaatkan limbah-limbah yang selama ini tidak dipakai,” tandasnya, sembari memberi semangat bagi generasi saat ini untuk memanfaatkan limbah yang ada di sekitar.

Baca Juga
Lihat juga...