Produksi Gula Merah di Lamsel Mengandalkan Modal Tengkulak

Editor: Mahadeva WS

193

LAMPUNG – Keberadaan lahan perkebunan kelapa hibrida dan kelapa dalam di Lampung Selatan, memunculkan peluang pembuatan gula merah atau gula kelapa bagi warga setempat. Wilayah Desa Bandarrejo, Kecamatan Palas dan Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni menjadi sentra produksi gula merah di Lampung Selatan.

Misyanti (40) bersama sang suami Yanto (40), menggeluti usaha pembuatan gula merah dengan modal pinjaman dari tengkulak disebutnya. Kegiatan tersebut sudah turun temurun dilakukan oleh produsen gula merah di daerah setempat. Pinjaman dari tengkulak dipergunakan untuk menyewa batang kelapa.

Sistem sewanya biasa dilakukan secara borongan. Satu hektare lahan kelapa biasa ditanami 250 batang kelapa. Sejak 2015, biaya sewa pohon kelapa dipatok Rp1,5 juta pertahun. Pada awal 2018, biaya sewa pohon kelapa naik menjadi Rp4 juta pertahun. Produksi harian bisa mencapai 30 kilogram gula merah untuk 100 pohon kelapa. “Awalnya ada sekitar puluhan pembuat gula merah di Desa Bandarrerjo, namun keterbatasan modal membuat sebagian gulung tikar memilih menjadi petani penanam jagung,” terang Misyanti saat ditemui Cendana News, Rabu (24/7/2018).

Hubungan pembuat gula merah dan tengkulak selaku pemberi modal, disebut Misyanti, menjadi mata rantai distribusi gula merah. Modal untuk menyewa pohon kelapa seluruhnya berasal dari tengkulak. Dan tengkulaklah yang nantinya menjadi pembeli dan penjual hasil produksi gula.

Hasil produksi gula merah proses menyadap atau menderes bunga kelapa [Foto: Henk Widi]
Tengkulak yang merupakan warga setempat, ikut membantu pemenuhan sejumlah kebutuhan keluarga pembuat gula merah. Hubungan yang disebutnya saling menguntungkan tersebut, setidaknya menepis kesan negatif dari nama tengkulak yang kerap muncul. Proses pengembalian uang pinjaman dari tengkulak dengan adanya ikatan kekerabatan bahkan tidak mempergunakan sistem persentase.

Pembayaran dilakukan dengan sistem potongan harga saat gula merah akan dikirim ke sejumlah pasar. “Gula merah dari sejumlah produsen akan dikumpulkan hingga sekitar dua puluh peti. Setiap peti masing masing berisi sepuluh kilogram gula merah,” jelas Misyanti.

Saat ini harga gula merah di level produsen yang dibeli tengkulak adalah Rp11.000 perkilogram. Setiap pekan, hasil pembuatan Misyanti mencapai 150 kilogram gula merah. Saat produksi melimpah, dengan 60 liter air sadapan bunga kelapa, bisa menghasilkan sekira 30 liter gula merah.

Hasil produksi perpekan dirata-rata sebesar Rp1.650.000. Pendapatan tersebut dipotong Rp200.000 untuk angsuran hutang modal. Sistem kekerabatan meski sebagai tengkulak, membuat Misyanti terbantu apalagi tidak diwajibkan membayar bunga pinjaman.

Angsuran sebesar Rp200ribu tidak harus dipotong saat ia menjual gula. Pinjaman modal Rp4juta dengan asumsi angsuran Rp200ribu bisa dikembalikan selama 20 kali. Terkadang masih sering mendapatkan kelonggaran proses pembayaran. Sistem tersebut lebih mudah dibandingkan harus meminjam ke bank atau lembaga simpan pinjam berbunga. “Kadang nama tengkulak kesannya negatif  tapi bagi kami justru menguntungkan bahkan tanpa jaminan dibanding harus meminjam di bank,” papar Misyanti.

Pola hubungan ke tengkulak yang masih dalam satu kerabat, hanya memiliki kerugian tidak bisa menjual ke pengepul lain. Selain itu harga gula merah yang dijual tidak bisa lebih tinggi dari harga yang ditetapkan tengkulak. Saat harga gula bisa naik di pasaran hingga Rp15.000 perkilogram, ia masih menjual ke tengkulak sekaligus pemberi modal dengan harga Rp11.000 perkilogram.

Ketergantungan pada tengkulak juga dialami oleh Adoniah (40), warga Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni. Adoniah bersama belasan pembuat gula bahkan sudah mengandalkan modal dari tengkulak sejak puluhan tahun silam untuk menjalankan usaha pembuatan gula merah.

Meski ada alternatif pinjaman berupa Kredit Usaha Kecil (KUK) dari sejumlah bank, Adoniah menyebut salah satu kendala mendapatkan pinjaman dari bank adalah jaminan. Sebagai warga yang menumpang hidup di lahan orang lain, Dirinya dan sang suami tidak memiliki sertifikat tanah. “Kendaraan bergerak seperti motor kami tidak punya jalan satu satunya meminjam dari tengkulak,” beber Adoniah.

Meski hasil produksi gula akan dijual ke tengkulak, Adoniah menyebut, tidak khawatir gula tidak laku. Ia juga tidak harus dipusingkan biaya distribusi gula merah yang kerap dikirim ke wilayah Cilegon dan Tangerang. Proses cepat dan tanpa syarat sulit membuat sistem pinjaman tengkulak masih dipertahankan.

Marwan (bukan nama sebenarnya), salah satu tengkulak sekaligus Warga Kelawi menyebut, ia tetap memberi pinjaman kepada pembuat gula merah. Modal diberikan saat melalukan penyewaan lahan pohon kelapa, membeli peralatan pengolahan dan sejumlah kebutuhan mendesak.

Sebagai pemilik modal, Dia yang disebut tengkulak sejatinya merupakan pengepul gula dan hasil pertanian. Kepada pembuat gula yang merupakan para tetangga, Dia tidak membungakan pinjaman dengan catatan angsuran dibayar secara rutin. Bantuan modal diberikan untuk menghindari warga yang menganggur dan diberi kesempatan menjadi produsen gula merah.

Baca Juga
Lihat juga...