Produksi Karet Petani di Lamsel Meningkat di Musim Kemarau

Editor: Koko Triarko

332
LAMPUNG – Musim kemarau tak selamanya berdampak buruk. Bagi petani pekebun karet (Hevea braziliensis) di wilayah Lampung Selatan, musim kemarau justru berdampak baik.
Subandi (55), petani karet di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, menyebut musim kemarau justru berdampak positif bagi petani karet. Pasalnya, produksi getah karet (lateks)  maksimal bisa dilakukan, baik dari pemanenan serta kualitas getah yang dihasilkan.
Kondisi berbeda disebutnya terjadi saat musim hujan dengan produksi getah karet yang menurun. Hujan disebutnya berimbas pada penurunan produksi dan kualitas karet, karena terjadinya penundaan penyadapan dan mangkok getah karet terisi air hujan, sehingga berimbas kualitas lateks menurun.
Saat hujan, Subandi bahkan terpaksa memasang pelindung air hujan (rainguard), dengan harga Rp1.000 per buah. Ia juga harus membeli zat kimia untuk proses penggumpalan getah dengan harga yang tidak murah.
“Efisiensi penyadapan getah karet justru terjadi saat musim kemarau, dengan produksi getah yang mengucur deras, pemanenan bisa dilakukan pagi hari tanpa terjadi penundaan seperti saat terjadi hujan,” terang Subandi, Senin (23/7/2018).
Pada musim, , ia mengaku harus menggunakan zat penggumpal jenis Deorub K dengan harga Rp50.000 untuk 500 pohon. Zat kimia tersebut dipergunakan dengan meletakkan pada cairan lateks, agar segera membeku sebelum terjadinya pencucian oleh air hujan.
Petani pemilik sekitar 2.000 batang pohon karet di tiga lokasi berbeda tersebut juga mengaku, sebagai petani kecil pengeluaran biaya produksi justru meningkat saat musim hujan dibandingkan musim kemarau.
Subandi,warga desa Kelaten kecamatan Penengahan Lamsel menyadap getah karet dengan produksi meningkat saat kemarau [Foto: Henk Widi]
Selain alat dan zat kimia tersebut, Subandi mengaku juga masih harus membeli sejumlah peralatan untuk penyadapan. Sebagai modal tetap peralatan tersebut dibeli saat karet sudah usia tiga tahun, ketika karet mulai bisa menghasilkan getah.
Beberapa peralatan, di antaranya mangkok, kawat tatakan mangkok, talang tempat meneteskan lateks dan tali tambang mengikat kawat. Dibutuhkan modal Rp2 juta untuk 2.000 pohon karet yang dimiliki, serta Rp12 juta saat membeli bibit seharga Rp6.000 per batang.
Menurut Subandi, produksi getah karet pada musim hujan bisa turun hingga 30 persen dibandingkan saat musim kemarau. Sebagai perbandingan, ia menyebut, 20 pohon karet biasanya bisa mendapatkan 10 kilogram lateks saat kemarau, sedangkan saat hujan hanya 7 kilogram. Saat musim kemarau, Subandi juga tidak harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pelindung hujan dan pembeku getah.
“Biaya produksi bisa saya kurangi dan proses menderes bisa dilakukan mulai jam enam pagi, kalau hujan bisa tertunda hingga jam sembilan,” beber Subandi.
Peningkatan produksi dan kualitas getah karet, kata Subandi, tidak bisa dikesampingkan dari faktor cuaca. Penyadapan karet saat musim hujan selain menurunkan produksi dan menyita waktu penyadapan, sekaligus meningkatkan biaya produksi.
Harga karet saat musim hujan maksimal Rp7.000 per kilogram, meski harga rata-rata  hanya Rp5.000. Saat musim kemarau, Subandi memastikan harga minimal karet di level petani mencapai Rp7.000 per kilogram, dan kini bisa mencapai Rp8.000.
Subandi mengatakan, kualitas karet di wilayah tersebut juga dipengaruhi oleh bibit. Keputusan awal dalam pemilihan bibit akan berdampak bagi proses pemanenan hingga puluhan tahun berikutnya.
Sebagai tanaman investasi, ia mengaku sengaja membeli lahan seharga Rp50 juta untuk menanam sekitar 1.000 batang tanaman karet seluas satu hektare. Bibit didatangkan dari Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan.
Jenis bibit merupakan hasil persilangan yang dikenal dengan bibit Three In One (satu batang hasil penggabungan tiga bibit). Prosesnya, tiga bibit pada usia tiga bulan setelah disatukan dengan metode okulasi, sehingga menghasilkan satu bibit dari tiga bibit awal. Dari beberapa pengalaman petani, bibit tersebut memiliki ketebalan kulit yang bagus dan menghasilkan getah yang deras.
“Bibit yang bagus akan menjadi ivestasi menguntungkan dengan modal rata-rata seratus ribu per batang, bisa menghasilkan jutaan per batang selama bertahun-tahun,” terang Subandi.
Petani lain di Desa Gandri, kecamatan Penengahan, Sumardi (40), mengaku mendatangkan bibit dari Sumsel. Usia tanaman karet yang sudah mencapai sepuluh tahun, dideres saat usia lima tahun.
Ia mengaku beruntung, harga karet mulai membaik di kisaran Rp8.000 terkadang Rp9.500 per kilogram. Harga tersebut terbilang lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya, yang hanya Rp7.000 per kilogram.
Investasi penanaman karet disebutnya juga cukup menguntungkan, karena getah karet bisa disimpan. Getah karet yang sudah dikumpulkan dalam kotak setelah diambil dari mangkok bisa disimpan hingga beberapa tahun.
Lokasi yang berada di dekat sungai disebutnya digunakan untuk merendam getah karet sementara waktu, dan dipindah ke kolam khusus. Karet akan dijual saat harga membaik, sehingga bisa dipergunakan sebagai tabungan.
“Berbeda dengan komoditas lain yang harus segera dijual, getah karet masih bisa disimpan dan dijual sewaktu-waktu,” papar Sumardi.
Sumardi juga menyebut, saat musim kemarau produksi lateksnya kembali normal dengan hasil rata-rata sekitar dua kilogram per pekan. Dari 1.000 batang pohon karet miliknya, dengan hasil 2.000 kilogram, maka ia bisa memperoleh penghasilan kotor Rp16 juta, dengan harga di kisaran Rp8.000.
Hasil tersebut bisa saja lebih rendah atau lebih tinggi tergantung kuantitas getah karet yang dihasilkan. Meski demikian, ia menyebut produksi getah karet dari bibit berkualitas cukup produktif.
Getah karet yang sudah terkumpul biasanya akan dibeli oleh pengepul untuk dibawa ke pabrik pengolahan karet di Natar serta Tanjungbintang. Hasil getah karet yang meningkat saat kemarau, diakui Sumardi tahun ini bisa menguntungkan jika lahannya sebagian tidak terdampak Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
Akibat JTTS, 500 batang pohon karet pada lahan seluas setengah hektare terpaksa dijual untuk jalan bebas hambatan, dan uang ganti rugi dibelikan lahan baru untuk menanam bibit karet yang baru.
Baca Juga
Lihat juga...