Produsen Gula Kelapa di Palas Butuh Bantuan Alat Pengolahan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

250

LAMPUNG — Produsen gula kelapa atau gula merah di desa Bandarrejo kecamatan Palas mulai mengalami kurangnya bahan baku dan peralatan. Saat musim kemarau air sadapan bunga kelapa berkurang dan sebagian alat proses pembuatan gula mulai mengalami kerusakan dimakan usia.

Misyati (40) salah satu produsen gula menyebutkan, hasil produksi gula mulai berkurang sekitar 30 persen dibandingkan saat musim hujan. Sebelumnya produksi mencapai 200 liter per hari dan menjadi gula sekitar 70 kilogram gula.

“Saat musim kemarau hasil produksi air bunga kelapa hanya mencapai 170 liter yang menghasilkan 50 kilogram gula jadi,” terang Misyati saat ditemui Cendana News, Selasa (10/7/2018).

Penurunan produksi imbas musim kemarau diakuinya sudah berlangsung selama satu bulan terakhir dan diprediksi akan bertambah saat kemarau panjang berlangsung.

“Produksi gula merah bergantung dari hasil air yang disadap semakin banyak maka gula yang dibuat bisa semakin bertambah dan sebaliknya menurun saat air sadapan menyusut dampak kemarau,” sebutnya.

Gula Kelapa
Gula kelapa hasil produksi produsen gula di desa Bandarrejo kecamatan Palas [Foto: Henk Widi]
Penyusutan bahan baku tidak berpengaruh pada harga jual. Sejak Mei atau selama bulan puasa sempat mencapai Rp11.000 per kilogram dan kini hanya Rp10.000 per kilogram di tingkat produsen. Harga tersebut bisa mencapai Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram di level pedagang pengecer. 

Sebagai salah satu produsen gula kelapa yang tergabung dalam kelompok produsen gula, Misyati menyebut pernah mendapat bantuan permodalan. Bantuan permodalan yang diperoleh sekitar enam tahun silam berupa wajan, srumbung, ember, jerigen serta alat pencetak.

Bantuan tersebut diperuntukkan bagi setiap pembuat gula yang kala itu berjumlah sekitar 20 orang. Bagi ketua kelompok bantuan berupa meja cetakan, etalase untuk menjual gula. Sebagian peralatan sebagai modal membuat gula diakuinya sudah rusak dimakan usia sehingga pembuat gula merah membutuhkan bantuan peralatan baru.

“Modal peralatan memang sangat vital sementara penggunaan alat dilakukan setiap hari sehingga ada sebagian alat yang rusak,” beber Misyati.

Pengrajin gula kelapa lain, Hendra menyebutkan, kebutuhan akan gula merah masih cukup tinggi terutama bagi pemilik usaha kuliner. Meski demikian sebagian produsen masih tergantung permodalan dari tengkulak.

“Kami memang butuh kredit usaha yang membantu dalam produksi gula kelapa tapi terkendala jaminan,” papar Hendra.

Keterikatan modal pinjaman dari tengkulak yang berfungsi sebagai pengepul diakuinya sudah umum dilakukan pembuat gula. Saat pembuat gula tidak memiliki modal pinjaman diberikan dengan syarat gula dijual hanya kepada tengkulak.

Baca Juga
Lihat juga...