Profesor: Rakus Penghalang Terwujudnya Masyarakat yang Adil

180
Perserikatan Bangsa Bangsa - Foto: Ist/Dokumentasi CDN

PBB, NEW YORK — Seorang profesor terkenal baru-baru ini mengatakan dalam satu pertemuan tingkat tinggi PBB bahwa penghalang terbesar untuk mewujudkan masyarakat yang adil ialah sifat rakus.

Jeffrey d. Sachs, Profesor dan Direktur Center for Sustainable Development di Columbia University, mengatakan Sasaran Pembangunan Berkelanjutan 2030 (SDG) adalah satu-satunya harapan “generasi ini untuk menciptakan masyarakat yang berkelanjutan, adil, aman dan damai”.

“Kita harus membuatnya berhasil,” kata Sachs, sebagaimana dikutip Xinhua –yang dipantau di Jakarta, Rabu pagi (11/7/2018). Tapi penghalang terbesarnya adalah sifat rakus.

Saat berbicara dalam Forum Politik Tingkat-Tinggi PBB, yang dijadwalkan membahas kemajuan SDG dan berakhir pada 18 Juli, Sachs mengatakan, “Ada cukup di dunia buat setiap orang hidup bebas dari kemiskinan dan tak diperlukan upaya besar di pihak negara besar untuk membantu negara miskin.” Tapi, kepentingan terselubung, termasuk perusahaan minyak dan industri makanan, telah menjadi penentang.

Sachs mengajukan daftar yang dihasilkan oleh timnya dan Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan, dan menyatakan Swedia, yang menempati posisi teratas, adalah yang paling dekat untuk mencapai sasaran itu, dan Eropa adalah wilayah yang paling dekat untuk melakukannya.

Selain itu, daftar 10 negara yang paling dekat untuk mewujudkan sasaran tersebut mencerminkan urutan pelengkap negara paling bahagia di dunia. Secara harfiah itu adalah kebenaran bahwa pembangunan yang berkelanjutan adalah jalur menuju kebahagiaan, katanya.

Sebaliknya, Amerika Serikat berada di posisi ke-35 dalam daftar negara yang paling dekat untuk mewujudkan sasaran tersebut dan hanya 18 pada urutan kebahagiaan.

“Berusaha menjadi kaya tidak membuat anda bahagia,” katanya. Pembangunan yang berkelanjutan yang seimbang, adil, menyeluruh dan secara lingkungan hidup berkelanjutan adalah yang memproduksi kebahagian, ia menambahkan.

Negara yang paling bahagia adalah negara yang paling banyak mengenakan pajak buat diri mereka, ia menambahkan. Swedia, katanya, berpendapat bagus untuk membayar separuh penghasilan nasional mereka buat pendidikan yang berkualitas dan perawatan kesehatan. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...