Regenerasi Cara Rukun Santoso Lestarikan Seni Jaranan di Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

246

LAMPUNG — Kesenian tradisional jaranan atau kerap dikenal dengan nama kuda kepang, kuda lumping masih menjadi alternatif tontonan bagi warga Lampung Selatan. Kesenian dari Jawa Timur hingga saat ini masih tetap dilestarikan oleh paguyuban seni jaranan Rukun Santoso desa Kelaten kecamatan Penengahan kabupaten Lampung Selatan sejak tahun 1988.

Warjuni (44), pimpinan paguyuban mengklaim sebagai salah satu anggota dan pemain (wayang) generasi pertama. Selama hampir 30 tahun, seni jaranan mengalami pasang surut dalam hal keaktifan pemain, permintaan serta kendala ketertarikan generasi muda. Pada era 1990-an bahkan menjadi satu-satunya hiburan pilihan sebelum hiburan lain muncul seperti organ tunggal.

Pertunjukan menjadi tontonan segala usia dari anak kecil hingga dewasa. Permintaan dalam pesta hajatan, perayaan tertentu, hari ulang tahun kemerdekaan RI semakin meningkat.

Meski zaman telah modern, masyarakat masih antusias akan kesenian tradisional tersebut. Beruntung regenerasi anggota paguyuban disambut baik oleh generasi muda.

“Sekarang para pemain yang dikenal sebagai wayang, penabuh gamelan merupakan generasi kedua dan ketiga Rukun Santoso. Dengan adanya latihan rutin sudah bisa melakukan pertunjukan,” terang Warjuni saat dikonfirmasi Cendana News baru baru ini.

Sebagian pemain generasi kedua dan ketiga  merupakan anak dan cucu anggota paguyuban. Dengan latihan rutin setiap Sabtu, Selasa dan Rabu malam sebagian pemain gamelan atau musik dan wayang sudah mahir.

“Ada sebanyak 40 anggota paguyuban seni jaranan Rukun Santoso dengan tugas yang sudah ditentukan,” sebutnya.

Latihan akan lebih rutin dilakukan bahkan setiap malam sepekan sebelum ada pertunjukan. Latihan malam hari disiasati untuk mencari waktu luang anggota agar tetap bisa melakukan aktivitas rutin pada siang hari.

“Liburan sekolah kemarin rutin latihan karena sepanjang bulan Agustus banyak ditanggap untuk berbagai kegiatan,” papar Warjuni.

Cara regenerasi paling efektif diakui Warjuni dengan mengajak anak para pemain untuk menekuni kesenian jaranan. Beberapa di antaranya bahkan cukup antusias dan kini mulai menjadi pelatih bagi generasi berikutnya.

Beberapa generasi pertama seni jaranan Rukun Santoso menurut Warjuni mulai menjadi pendamping sekaligus penasehat dalam melakukan olah gerak tarian termasuk irama gamelan. Peranan para wanita sebagai perias para wayang, laki laki sebagai penabuh gamelan, anak anak sebagai wayang sangat mendukung suksesnya penampilan.

Ikuti Perkembangan Zaman, Musik Tradisional Dikombinasikan dengan Elektone

Selain regenerasi pemain musik, pemain jaranan (wayang) juga mengikuti perkembangan zaman. Munculnya lagu lagu hits kesukaan anak muda kekinian membuat alunan musik mulai dikombinasikan dengan elektone yang kerap dimainkan untuk organ tunggal. Alat musik tersebut melengkapi gamelan tradisional gong, kenong, kendang dan saron.

“Kombinasi alat musik menyesuaikan tren dan kesukaan, perpaduan tersebut justru menambah daya tarik pertunjukan,” terang Warjuni.

Ada tiga grup pemain yang ditampilkan dalam satu kali pertunjukan masing masing diisi enam wayang. Grup pertama anak anak, grup kedua wanita dan grup ketiga jaranan dewasa sebagai inti dan pamungkas. Grup dewasa kerap diisi dengan barongan, pemain yang mabuk (trance) kerap menirukan gerakan unik yang menarik untuk ditonton.

“Semua gerakan tersebut diiringi gamelan dan elektoni lengkap dengan nyanyian sinden atau penyanyi dengan lagu tradisional dan kekinian,” tambahnya.

Warjuni menyebut dukungan dari para pemain dalam hal regenerasi bahkan berasal dari sejumlah anak muda di desa setempat. Permodalan dalam alat musik dan biaya operasional  ditutupi dengan hasil dari tanggapan yang dipatok dari tarif Rp2,8 juta hingga Rp4 juta tergantung lokasi.

Kebutuhan paling penting meliputi alat make up, baju seragam serta sejumlah peralatan lain untuk pertunjukan. Pertunjukan dalam waktu dekat, pekan depan akan dilakukan di kecamatan lain untuk hajatan pernikahan.

“Seni jaranan tidak melulu mengejar keuntungan, kuncinya untuk melestarikan budaya agar generasi muda tahu sejarah budaya nenek moyangnya,” beber Marjuni.

Parlin Santoso (memukul kenong), Riki (menabuh kendang) sejumlah pemain gamelan merupakan generasi ketiga grup seni jaranan Rukun Santoso [Foto:Henk Widi]
Parli Susanto (18) salah satu pemain musik kenong bersama dengan Wanda (18) pemain gong dan Riki (21) pemain kendang merupakan generasi ketiga. Sebelumnya mereka belajar dari kakek dan sang ayah yang sudah menjadi anggota seni jaranan Rukun Santoso.

Parli Susanto yang duduk di SMA menyebut awalnya belajar secara otodidak dan kini sudah bisa mengiringi pertunjukan. Perpaduan musik tradisional dan modern membuat seni jaranan tidak lekang oleh waktu meski zaman terus berganti. 

“Kesenian jaranan kan budaya leluhur jadi saya suka dan kalau bukan saya yang melestarikan siapa lagi,” papar Parli Susanto.

Selain pemain musik, pemain termuda, Juni Arfian (11) yang duduk di bangku kelas VI SD menyebut menjadi wayang. Ia bersama lima pemain lain dilatih hingga mahir. Kesukaan pada seni jaranan berasal dari sang kakek dan ayah yang hingga kini masih melestarikan kesenian tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...