Resmi Buka Pedestrian Kali Besar, Sandi: Saya Ambil Risiko

Editor: Koko Triarko

596
JAKARTA — Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno, resmi membuka proyek revitalisasi Kali Besar tahap I, yang selesai pembangunannya sejak Oktober tahun lalu. Tertundanya persemian ini lantaran harus menunggu salah satu dari sepuluh SKPD yang terlibat dalam proyek itu.
“Biasa, ya birokrasi. Saya harus ambil risiko untuk membuka. Karena setelah ditunggu ini, dari Oktober sudah selesai, tapi kita di antara dinas-dinas memerlukan waktu yang begitu banyak dan mendalam untuk memverifikasi, dan ini ada lebih dari sepuluh dinas yang terlibat,” ujar Sandiaga, saat membuka seng penutup proyek bangunan di Kali Besar, Jalan Kali Besar Barat, Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat (6/7/2018).
Dia meminta jajarannya untuk menyederhanakan birokrasi mengenai proyek penataan Kota Tua. Keterlambatan peresmian jalur pedestrian ini harus menjadi pelajaran, agar jajaran dinas di DKI bisa memangkas birokrasi.
“Ini pelajaran bagi kita juga, bagaimana nanti penataan (Kota Tua) tahap kedua dan ketiga harus dibuat lebih simpel, lebih less birokratis. Kita pastikan, bahwa ini bisa langsung digunakan untuk dimanfaatkan masyarakat untuk menciptakan kegiatan pariwisata dan kegiatan ekonomi,” papar Sandiaga.
Apalagi, katanya, perhelatan internasional Asian Games sudah berada di depan mata.
“Kita hari ini secara simbolis melakukan pembukaan seng dan pemberian akses bagi masyarakat untuk proyek Kali Besar baru yang sangat fundamental ini,” tuturnya.

Dia juga menekankan jalur pedestrian tersebut hanya diperuntukkan untuk warga bersantai, bukan untuk pedagang maupun kendaraan yang masuk ke kawasan ini.

Dia mengimbau seluruh warga yang ingin bersantai di pedestarian Kali Besar untuk tidak turun ke area kali. Selain airnya kotor, mantan pengusaha itu khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Airnya belum disentuh dan tadi juga diputuskan untuk tak memperbolehkan masyarakat turun ke bawah, padahal sudah didesain bisa turun. Takut nanti keselamatan warga dan juga nanti edukasi masyarakat belum bisa dilakukan secara menyeluruh,” terang dia.
Selanjutnya, dia memerintahkan kepada Wali Kota Jakarta Barat, Rustam Efendi, untuk menyiagakan anggota Satpol PP di pedestrian Kali Besar. Keamanan di pedestrian Kali Besar perlu diperhatikan sebagai bentuk penataan Kota Tua.
“Saya minta ditambah jumlah aparat Satpol PP. Saya langsung pesan kepada Wali Kota Jakarta Barat, Pak Rustam untuk memastikan ini dan saya akan memonitor secara jelimet, secara detail. Karena ini adalah showcase penataan Kota Tua pertama,” ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua, Norviadi Setio Husodo, mengatakan, terdapat bagian yang dipertahankan dalam proses revitalisasi Kali Besar, Kota Tua, Jakarta Barat. Yakni, bangunan tua di lokasi tersebut.
“Di Kali Besar, ada pondasi bekas kereta zaman dulu. Pernah juga ditemukan tiang-tiang kerucut. Itu bantalan kayu yang lancip atau yang disebut paku bumi, atau struktur pondasi yang menahan,” kata Norviadi, Senin (30/4).
Dia mengatakan bangunan tua yang ada di sana tidak mengalami perubahan. Hanya akan ada pembaruan dan penyesuaian warna cat.
Proyek ini merupakan kompensasi koefisien lantai bangunan (KLB) dari PT Sampoerna Land. Anggarannya mencapai Rp260 miliar. Proyek revitalisasi Kali Besar telah dimulai sejak 2016. Kawasan tersebut akan ‘disulap’ seperti Sungai Cheonggyecheon, di Korea Selatan.
Koridor Kali Besar ini merupakan area pedestarian sepanjang 1,2 km yang mengelilingi Kali Besar. Di pedestarian Kali Besar ini juga terdapat situs atau tempat-tempat bersejarah di sekitarnya. Kemudian dihiasi berbagai patun dan dibuat ramah untuk penyandang disabilitas.
Baca Juga
Lihat juga...