Rumah Kariwari, Rumah Menggembleng Pemuda Tobati Enggros

Editor: Mahadeva WS

449

JAKARTA – Ragam rumah adat Papua ditampilkan di Anjungan Papua Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Salah satunya adalah rumah adat Kariwari yang merupakan rumah adat dari suku Tobati Enggros, yang tinggal di tepian Danau Sentani, Jayapura.

Pemandu Anjungan Papua TMII, Marlon Yarangga. Foto : Sri Sugiarti.

Rumah ini berbentuk seperti limas segi delapan dengan atap berbentuk kerucut. Atap dibuat dengan cara menyusun daun sagu secara rapi. “Tampilan di anjungan Papua, rumah Kariwari ini dibangun di atas danau buatan. Adapun bentuk atap kerucut bermakna kedamaian, kemakmuran, kesejahteraan dan keagamaan,” kata Pemandung Anjungan Papua TMII Marlon Yarangga kepada Cendana News, Kamis (19/7/2018).

Bangunan rumah adat tersebut kuat menahan angin yang cukup bertiup kencang dari berbagai arah. Adapun bahan yang digunakan untuk membangun rumah, adalah bambu yang dibelah kemudian disusun untuk dinding, atapnya menggunakan daun sagu dan kulit kayu untuk lantai.

Uniknya, bangunan rumah adat Kariwari ini memiliki delapan buah kayu utuh sebagai kerangka. Kayu tersebut disusun dengan disambung menggunakan tali. Jenis kayu besi menjadi bahan utama rumah Kariwari. Batang kayu yang utuh memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan bangunan dan menahan atap bangunan agar tidak terlepas manakala didera angin.

Sedangkan dibawah batang kayu, dimanfaatkan untuk menyimpan hasil kerajinan dan peralatan perang. Adapun keunikan lainnya, adalah rumah adat ini memiliki tinggi sekira 20-30 meter. Ukuran diameter lingkaran bangunannya delapan hingga 12 meter.

Bangunan ini dibagi menjadi tiga ruangan. Ruangan bawah untuk belajar kaum laki-laki. Ruang tengah difungsikan sebagai tempat tidur dan tempat pertemuaan para kepala suku. Sedangkan ruang atas menjadi tempat meditasi dan berdoa. “Rumah adat Kariwari adalah rumah sakral warga suku Tobati Enggros. Ini rumah  warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujar pria kelahiran Papua, 44 tahun lalu tersebut.

Dia mengatakan, sakralnya bangunan ini karena dikhususkan sebagai tempat pemukiman laki-laki berusia 12-20 tahun. Di rumah adat inilah, anak muda digembleng dan dididik untuk mengenal dan belajar mencari kehidupan. Tujuannya, agar kelak ketika dewasa menjadi laki-laki yang kuat, terampil, dan pintar meski dimanapun berada.

“Setiap anak laki-laki di usia akil balik dipisahkan dari orangtuanya, dan tinggal di rumah Kariwari. Kemudian digembleng fisik maupun mental hingga menjadi pemuda dewasa yang gagah berani dan tangguh,” jelasnya.

Kegiatan yang dilakukan diantaranya, belajar memahat ukiran, membuat perisai, membuat perahu, bercocok tanam, melaut, serta belajar taktik dan strategi perang. Selain itu, di rumah tersebut juga diadakan ragam diskusi oleh kelapa suku atau tokoh masyarakat Tobati Enggros.

Selain rumah adat Kariwari, suku Tobati Enggros yang tinggal di tepian Danau Sentani juga memiliki alat musik tifa, sebuah alat musik berbentuk lebar, pendek, dan memiliki pegangan tangan berbentuk ukiran hewan kadal. Dalam seni ukir, masyarakatnya memiliki ciri khas ukiran bermotif hewan.

Dengan hadirnya rumah adat Kariwari di TMII, Marlon berharap adat Suku Tobato Enggros lebih dikenal oleh masyarakat pengunjung baik domestik maupun mancanegara. Banyak pelajar dan mahasiswa juga turis asing yang datang ke anjungan untuk belajar budaya Papua, termasuk sejarah dan filosofi rumah adat Kariwari.

Baca Juga
Lihat juga...