Sambal Bajak Balikpapan Tembus Pasar Luar Kota

Editor: Mahadeva WS

174
Rossy Ervianthy Salah satu UKM kuliner Sambal Bajak – Foto Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN – Kuliner menjadi pilihan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Balikpapan untuk berusaha. Promosi produk secara digital dengan teknologi informasi, menjadikan pasar dari produk kuliner Balikpapan bisa menembus pasar luar kota.

Seperti yang dilakukan oleh perajin kuliner sambal “Sambal Bajak Bunda Ochy”, Rossy Ervianthy. Meski usaha tersebut belum lama dimuylai, kini pemasarannya sudah sampai keluar kota.  Promosi dilakukan melalui media sosial dan fasilitas digital lainnya. “Mulanya tidak terpikir sampai memiliki usaha karena sayakan berdinas jauh dari kota. Karena saya menyukai sambal, sempatkanlah membuat sambal bajak saat cuti. Kemudian saat bertugas saya tawarkan ke rekan kerja,” katanya, Selasa, (31/7/2018).

Rossy memutuskan untuk serius berjualan sambal bajak produksinya sebulan terakhir. Dalam sehari, pesanan yang disiapkan mencapai 30 jar plastik. Sementara untuk yang dipesan oleh pelanggan luar kota bisa mencapai 50 jar plastik seminggu. “Tadinya di plastik, sekarang pakai jar plastik. Saya nggak pakai jar kaca karena mudah pecah, takut serpihannya masuk sambal. Plastik lebih aman,” imbuhnya.

Bahan pengemas sambal dengan menggunakan jar plastik mempertimbangkan murah. Saat ini, pelanggan bukan hanya dari Balikpapan, tapi juga berasal dari Bogor, Manado, Sangatta, dan Surabaya. Sambal bajaknya terdapat tiga varian yaitu sambal bajak original, sambal pete, dan sambal ikan pedda.

Untuk yang original dibanderol Rp25.000 per jar, sementara dua varian lain Rp30.000 per jar. “Sekarang promosi yang dilakukan melalui media sosial dan pemesanan bisa melalui whatsapp. Dan kini usaha ini sudah kami seriusi karena ternyata peminat untuk kuliner yang satu ini cukup besar,” imbuhnya.

Kabid Perindustrian Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian (DKUMKMP) Balikpapan Adward Skenda menyebut, ekonomi kreatif di kota minyak terbagi dalam enam subsektor. Subsektor ekonomi kreatif di Balikpapan diantaranya, sektor kriya (Go Batik), aplikasi dan games, kuliner, film, videografi, fotografi, fasion, desain, dan seni pertunjukan hingga riset dan pengembangan wisata. “Dalam hal ini kulinernya tentu kreatif bukan hanya kuliner biasa tapi sudah kekinian,” sebut pria yang akrab disapa Edo tersebut.

Pengembangan ekonomi kreatif, sudah menjadi perhatian serius pemerintah. Hal itu dikarenakan, Balikpapan bukan daerah penghasil sumber daya alam. “Balikpapan sudah punya forum ekonomi kreatif dan melalui forum itu tujuannya untuk mendorong dan mengembangkan para pelaku ekonomi kreatif,” tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.