Sebagian Warga Ketapang Gunakan Listrik Alternatif untuk Penerangan

Editor: Satmoko Budi Santoso

343

LAMPUNG – Tinggal di wilayah terpencil dengan fasilitas listrik dari Perusahaan Listrik Negara sulit diakses, keterbatasan ekonomi membuat sejumlah warga masih mengalami kesulitan mengakses listrik.

Warsim (57) dan Rukiyah (56) salah satu warga dusun Sumberjaya desa Karangsari kecamatan Ketapang menyebut, masih mempergunakan accu (aki). Aki disebutnya masih dimanfaatkan untuk sumber daya bagi lampu Light Emitting Diode (LED) di kamar tamu, kamar tidur, dapur dan penerangan halaman.

Rumah Warsim warga kecamatan Ketapang masih belum teraliri listrik [Foto: Henk Widi]
Lampu LED disebutnya masih mempergunakan tenaga aki 12 volt yang dimodifikasi agar bisa dipergunakan. Aki tersebut bahkan harus diisi ulang ke rumah tetangga yang sudah memiliki fasilitas listrik menggunakan pembangkit listrik tenaga panel surya. Warsim mengungkapkan, meski ada pasokan listrik PLN, namun ia menyebut tidak memiliki cukup biaya untuk pasang listrik baru.

“Kabel listrik dari PLN sudah disalurkan meski secara mandiri oleh masyarakat menggunakan kabel kecil, tapi karena tidak memiliki biaya saya tetap memakai listrik dengan tenaga aki,” terang Warsim salah satu warga yang ditemui Cendana News di rumahnya, Rabu (18/7/2018).

Warsim juga menyebut belum bisa mengakses listrik dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga panel surya akibat keterbatasan biaya. Sebagian warga yang memiliki panel tenaga surya untuk penerangan, menyalakan alat elektronik bahkan harus mengeluarkan biaya hingga Rp3 juta.

Mahalnya biaya instalasi listrik untuk kebutuhan penerangan membuat dirinya masih bertahan mempergunakan alternatif listrik tenaga aki.

Lampu LED dengan tenaga aki disebutnya dinyalakan hanya saat malam hari sejak matahari terbenam hingga malam hari sebelum tidur. Proses mengisi ulang aki di rumah salah satu warga untuk pasokan tenaga listrik membutuhkan biaya Rp10.000 hingga penuh.

Warsim, warga dusun Sumberjaya desa Karangsari kecamatan Ketapang memperlihatkan lampu LED dengan tenaga accu [Foto: Henk Widi]
Kondisi yang dijalani selama beberapa tahun tersebut diakui Warsim dijalani bersama dengan istri dan tiga anak.

Selain Warsim, sejumlah warga yang masih memanfaatkan sumber listrik alternatif diantaranya warga bernama Sarni (32) dan Ponirin (40). Sarni menyebut meski sebagian warga sudah mendapat pasokan listrik dari PLN ia menyebut ada sejumlah warga memakai listrik alternatif PLTS.

Listrik tenaga panel surya disebutnya digunakan juga oleh warga dusun Sumber Rejeki desa Tetaan kecamatan Penengahan yang berada di wilayah tersebut.

“Tenaga surya masih jadi pilihan karena kami masih belum bisa memasang meteran listrik akibat keterbatasan biaya,” tegas Sarni.

Berbagai komponen yang dibeli oleh sang suami diakui Sarni meliputi panel surya (solar modul), solar charge controller, batterey (aki), inverter DC ke AC yang dipergunakan untuk menghidupkan televisi.

Sarni menyebut memiliki dua panel tenaga surya yang dipergunakan untuk menyimpan daya listrik alternatif bagi kebutuhan penerangan dan menyalakan alat elektronik.

Keterbatasan daya listrik dari PLTS disebut Sarni membuat ia melakukan proses penghematan pemakaian listrik. Menggunakan empat buah baterai solar cell dengan daya sekitar 100 ah (ampere hour) serta sejumlah beberapa baterai cadangan.

Kapasitas aki yang terbatas diakuinya hanya bisa dipergunakan untuk kebutuhan penerangan lampu LED dari pukul 18:00 WIB hingga pukul 06:00 WIB pagi.

Selain Sarni, Marsim dan sejumlah warga di dusun kantong wilayah kecamatan Ketapang dan Penengahan masih belum memiliki listrik dari PLN. Remi (85) salah satu warga di desa Gandri kecamatan Penengahan menyebut, selama puluhan tahun tidak memasang meteran listrik PLN. Ia bahkan hanya mendapat pasokan listrik dari sang cucu saat malam hari untuk penerangan.

Sebagai janda tua yang tinggal seorang diri, ia menyebut, kebutuhan listrik hanya dipergunakan untuk penerangan. Saat malam hari ia bahkan menyebut hanya mempergunakan lampu listrik PLN hingga pagi hari.

Kegiatan menonton televisi saat malam hari bahkan diakui Remi dilakukan di rumah salah satu keluarga yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

Baca Juga
Lihat juga...