Seniman TIM Rayakan Hari Anak Nasional Secara Swadaya

Editor: Makmun Hidayat

226

JAKARTA — Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki yang populer disebut Taman Ismail Marzuki (TIM) adalah pusat kesenian yang berdiri sejak zaman dulu pada masa Orde Baru pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Jenderal Marinir Ali Sadikin, pada tanggal 10 November 1968.

TIM dibangun di atas tanah seluas sembilan hektare. Dulu tempat ini dikenal sebagai ruang rekreasi umum ‘Taman Raden Saleh’ (TRS) yang merupakan Kebun Binatang Jakarta sebelum dipindahkan ke Ragunan.

Para seniman yang dulu tumbuh dan berproses kreatif kesenimanannya di TIM membentuk keluarga besar yang selalu bersatu dalam memperingati Hari Anak Nasional, sebagaimana dalam peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2018.

“Hari Anak Nasional di TIM diperingati swadaya oleh kami para seniman TIM,” kata Anto Suhartono, Ketua Panitia Hari Anak Nasional Seniman TIM, kepada Cendana News di Gedung Teater Kecil, TIM. Jl. Cikini Raya No.73, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (23/7/2018).

Anto Suhartono – Foto Akhmad Sekhu

Anto membeberkan keluarga besar Seniman TIM adalah anak-anak kecil yang dulu latihan dan berproses kreatif kesenimanannya di TIM.

“Sejak 1985 kita sudah biasa mengadakan Hari Anak Nasional, walaupun pemerintah saat itu masih jarang yang memperingatinya,” bebernya.

Menurut Anto, peringatan Hari Anak Nasional dirayakan di TIM terus berkembang, setelah Seniman TIM sudah dewasa menyebar ke berbagai kantong-kantong budaya.

“Ada yang di Sanggar Adinda, ada yang di Senyum Manis Produksi, ada yang di Yayasan Mekar Pribadi, intinya satu, kegiatan Hari Anak Nasional tidak harus dari dilakukan pemerintah, tapi swadaya kita sendiri para seniman TIM,” paparnya.

Sekarang anak-anak sekolah libur panjang sehingga tidak ada yang latihan, dan tidak ada yang siap pentas.

“Kita tahu pementasan tidak boleh stop, apapun yang terjadi tetap harus jalan, jadi ini benar-benar sifatnya keluarga besar kita keluar besar TIM,” ungkapnya.

Anto menyebut setiap warga negara mempunyai kewajiban untuk memperingati Hari Anak Nasional karena dengan melindungi anak semenjak dini akan melindungi kita di masa tua kelak.

“Pesan kita kalau kita main WA, saya memberikan pesan tentang peduli memperingati Hari Anak Nasional, yang tidak hanya dari pemerintah tapi dari komunitas kita, seperti kami sekarang disini berkumpul keluarga besar TIM bahwa melindungi anak semenjak dini akan melindungi kita di masa tua kelak,” ujarnya.

Yang paling terberat dari anak-anak sekarang adalah tanggung jawab secara kelompok, karena teknologi membuat anak-anak sekarang individual.

“Ini yang harus kita gali, terutama dalam peringatan Hari Anak Nasional di bulan Juli ini kenapa tidak meriah karena biasanya masyarakat kita hanya mengandalkan pemerintah dan tidak bisa mengandalkan anak-anak dituntut berkreasi di saat liburan sekolah,” paparnya.

356 hari keluarga besar TIM memberikan sesuatu pada anak, seperti yang dilakukan keluarga besar TIM pada peringatan Hari Anak Nasional dengan berbagai rangkaian acara diantaranya dongeng.

“Ada workshop dongeng, karena yang punya gedung ini adalah Raden Saleh jadi kita buat dongeng mengenai Raden Saleh dalam pementasan,” tegasnya.

Harapan Anto dengan memperingati Hari Anak Nasional ini, jangan putus untuk peduli dengan anak karena kalau berhenti dengan masalah anak maka akan putus semuanya.

“Usahakan anak-anak dilatih kerja teamwork semenjak dini, yaitu kerja kelompok karena itu kelemahan anak-anak sekarang, karena kembali saya tegaskan bahwa melindungi anak semenjak dini akan melindungi kita di masa tua kelak,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...