Senkudaya Padang Salurkan BPNT

Editor: Mahadeva WS

223
Ketua Koperasi Hidayah Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Sumatera Barat, yang mengurus Senkudaya di Padang, Dewi Novita/Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Sentra Kulakan Posdaya (Senkudaya) Padang, Sumatera Barat, berupaya mengejar pendapatan. Salah satu yang dilakukan adalah dengan menjadi bagian dari Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) melalui BRILink. 

Ketua Koperasi Hidayah Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Sumatera Barat, selaku pengurus Senkudaya di Padang, Dewi Novita mengatakan, selama ini yang menjadi pelanggan di Senkudaya adalah masyarakat umum dan anggota Posdaya.

Kendati sudah membuka layanan untuk umum, penjualan di Senkudaya masih belum memenuhi harapan. Meski harga barang yang dijual lebih murah dari mini market dan ritel lainnya, hal tersebut belum mendorong masyarakat untuk menjadikan Senkudaya sebagai pilihan utama untuk membeli kebutuhan.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Senkudaya, supaya Program Yayasan Damandiri tersebut bisa membantu masyarakat. Seperti halnya bekerjasama dengan BRILink untuk menjadi agen penyaluran BPNT. “Sebenarnya waktu untuk mendaftar menjadi agen penyaluran BPNT sudah habis. Jadi kita sampaikan ke pihak perbankan, dengan memperlihatkan kondisi Senkudaya, akhirnya Senkudaya disetujui menjadi agen penyaluran BPNT,” jelasnya, Rabu (25/7/2018).

Setelah persetujuan menjadi bagian penyaluran BPNT, Senkudaya melakukan koordinasi dengan kecamatan dan kelurahan setempat untuk mensosialisasikan layanan penyaluran BNPT di Senkudaya.

Alasan Senkudaya merasa layak untuk menjadi agen BRILink, karena banyaknya barang yang dijual di Senkudaya. Mulai dari sembilan bahan pokok atau sembako hingga barang-barang kebutuhan rumah tangga tersedia. “Barang yang kita jual itu harganya dipastikan di bawah mini market. Tempat toko kita berada persis di tepi jalan. Sehingga sangat mudah dijangkau oleh masyarakat,” jelasnya.

Senkudaya telah berjalan sejak 2014 lalu. Namun, seiring berjalannya waktu ada persoalan yang membuat Senkudaya merasa modal yang dimiliki minim. Selain berupaya mencari pemasukan dari peluang lainnya, Senkudaya menyebut sokongan dana tetap ada dari Yayasan Damandiri menjadi penopang utama lembaga tersebut.

“Kita dibantu dana dari Yayasan Damandiri Rp150 juta setiap tahunnya. Sebenarnya untuk menjalankan Senkudaya ini uang Rp150 juta sangatlah minim. Misalnya untuk membeli minyak goreng untuk stok beberapa bulan menghabiskan modal Rp30 juta. Belum lagi untuk membeli barang-barang lainnya seperti beras, telur ayam, tepung, dan banyak lagi barang-barang untuk mengisi warung kalontong lainnya,” jelasnya.

Mengenai pengelolaan dana Rp150 juta, menjadi persoalan yang cukup rumit. Salah satu yang dihadapi adalah upaya untuk bisa mendapatkan barang dengan harga jual yang lebih murah dari mini market. Barang-barang yang dijual di Senkudaya untuk memenuhi kebutuhan anggota Posdaya yang juga menjalankan usaha.

Sebagai upaya meminimalisir biaya pembayaran sewa tempat, Dia telah melakukan beberapa kali pindah tempat. Upaya dilakukan untuk mendapatkan tempat yang sewanya lebih murah dengan kondisi layak.  “Untuk itu upaya menjadi agen penyaluran BPNT adalah upaya mencari pemasukan tambahan juga,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...