Septian Comeback dengan Film Sara & Fei: Stadhuis Schandaal

Editor: Makmun Hidayat

226
Septian Dwi Cahyo - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA — Aktor watak, Septian Dwi Cahyo, termasuk sebuah nama yang tak asing di dunia perfilman. Aku Cinta Indonesia (ACI) dan Rumah Masa Depan adalah dua sinetron yang melambungkan namanya.

Beberapa film yang kemudian namanya dikenal dalam dunia hiburan, antara lain Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi, Lupus, Pengantin Remaja, dan Gejolak Kawula Muda.

Setelah puluhan tahun vakum dari dunia film, Septian kini comeback dengan membintangi film Sara & Fei: Stadhuis Schandaal.

Keterlibatannya dalam film produksi PT Xela Film dengan arahan sutradara Adisurya Abdy dan skenario garapan Adisurya Abdy dan Irfan Wijaya itu tentu tidak lepas dari nama besar yang disandangnya sebagai bintang film dan pemain pantomim handal.

“Saya ikut terlibat dalam film ini berawal dari pertemuan saya dengan Mas Adi di sebuah bandara sewaktu ada kegiatan nasional, kayaknya Mas Adi tertarik dan mengingat saya untuk melibatkan saya dalam filmnya,” kata Septian Dwi Cahyo kepada Cendana News seusai press screening film ‘Sara & Fei: Stadhuis Schandaal’ di Metropole XXI, Jakarta Pusat, Jumat malam (20/7/2018).

Lelaki kelahiran Jakarta, 4 September 1968, itu mengaku setelah pertemuan itu, benar juga dirinya di-calling untuk ikut dalam filmnya.

“Saya pikir ini kesempatan saya untuk kembali lagi ke dalam dunia film, begitu juga dengan Mas Adi, kita sama-sama membangun lagi menyemarakkan film Indonesia,” ungkap artis yang pernah menjadi Juara 1 lomba pantomim (1981) dan mendapatkan beasiswa dari tokoh pantomim dunia Marcel Marceau.

Septian membeberkan karakter dalam film ini sebagai Hans, yang bisa dibilang karakternya antagonis. “Dalam film ini saya menjadi seorang tentara Belanda yang salah satunya bertugas untuk mengeksekusi Peter di tiang gantungan,” bebernya.

Meski sudah lama tidak berakting dan baru kini kembali akting, Septian tampaknya tidak menemui kesulitan apa-apa karena dunia akting sudah mendarah daging dalam dirinya.

“Untungnya kebanyakan rata-rata para pemainnya teman semua, jadi suasana kayak zaman dulu, apalagi saya memang sudah terbiasa dengan dunia akting,” tuturnya.

Karena film ini berbeda dengan film-film Indonesia lainnya, Septian berharap dan optimis film ini menarik perhatian masyarakat untuk menonton film ini. “Film ini semakin lebih memperkaya perfilman Indonesia yang kini sudah maju dan berkembang,” ujarnya.

Septian tidak menampik bahwa film komersial adalah film komedi dan drama. “Keberanian Mas Adi membuat film yang berbeda dengan film-film Indonesia lainnya tentu harus kita dukung bersama, agar semakin banyak sineas yang berani seperti Mas Adi dan film Indonesia semakin beragam sehingga semakin banyak alternatif tontonan film Indonesia,” paparnya.

Bagi Septrian,  arti akting adalah yang tidak akting jadi natural. “Membuat natural itu lebih sulit dibanding kita berpura-pura akting, tapi kalau terlihat seperti tidak akting itu yang luar biasa,” ujarnya.

Antara film dan pantomim, menurut Septian, tidak ada perbedaan karena semuanya sama-sama menggunakan perasaan. “Baik film atau pantomim sama-sama memainkan karakter dengan jiwa dan perasaan kita,” ungkapnya.

Sejak zaman dulu Septian sudah banyak memerankan berbagai karakter baik protagonis maupun antagonis. “Semua tinggal mengulang dalam film lainnya dengan cerita yang berbeda-beda,” tegasnya.

Septian berobsesi ingin bikin film silent comedy dan film anak-anak karena jarang sineas yang berpikiran ke arah sana karena memang tantangannya lebih besar. “Tapi terlepas dari komersial atau tidak, kita harus membuat film yang serius dan ramah terhadap anak,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...