Silvia Hasilkan Rupiah dari Kerajinan Benang

Editor: Koko Triarko

161
PADANG – Kekurangan dalam kondisi fisik yang dialami oleh Silvia, warga asal Piobang, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, tidak menyurutkan keinginannya untuk berkarya dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Karya yang dihasilkannya, yakni sepatu, tas dan benang wol. Hasil karyanya ini bahkan bernilai tinggi. Setiap jenis karyanya, dihargai mulai dari Rp300 ribu – Rp600 ribu untuk jenis sepatu, dan untuk peci dan tas mulai dari Rp50 ribu – Rp500 ribu.
Silvia menjelaskan, kerajinan yang dibuatnya mulai dikerjakan serius sejak tiga tahun ini. Berawal dari mendapat pelatihan dari salah seorang perajin yang sukses, asal Bogor, Jawa Barat, yang datang langsung ke Padang. Ketika itu pun, peserta untuk mendapatkan pelatihan juga terbatas, beruntung bagi Silvia ia mendapatkan kesempatan tersebut.
“Waktu pelatihan itu peserta tidak gratis untuk mendapatkan pelatihannya. Untuk itu, dalam menghasilkan karya ini, saya harus merahasiakannya, karena itu juga pesan dari orang yang melatih saya,” katanya, Selasa (3/7/2018).
Ia menjelaskan, jenis kerajinan yang dibuatnya itu berbagai nama dan memililki harga yang berbeda pula. Seperti sandal merk Hera Hells Rp280 ribu, Cleopatra Hells, Tiara Hells, Twisty Wedges, Sweatheart Jasmine Rp325 ribu, May Angel Wedges, Sweatheart Jasmine, Aphrodite, Alexa Wedges.
“Tidak hanya sepatu dan sandal, tetapi juga ada tas dan peci. Untuk harganya pun bervariasi, tergantung dari ukuran dan model yang diinginkan pemesan,” ujarnya.
Dengan kondisi yang hanya bisa duduk di kursi roda, dan sekali-kali harus telungkup untuk merajut benang demi benang untuk menghasilkan suatu karya yang bernilai tinggi, tetap membuat perempuan berusia 37 tahun ini, tidak merasa kesulitan.
Namun demikian, ia tidak memiliki perkiraan berapa kerajinan yang bisa diselesaikannya per hari. Tapi, untuk mengisi waktu yang kosong, Silvia benar-benar bekerja menikmatinya.
Apalagi, penjualan hasil kerajinannya itu tidak hanya sekadar dari pemesan, tapi juga melakukan pemasaran produk melalui media sosial.
Menurutnya, dalam menjalani usaha ini, mau tidak mau harus memanfaatkan media sosial, supaya jangkauan pemasaran bisa lebih luas. Namun, untuk saat ini, ia belum bisa menggunakan media sosial secara maksimal.
Silvia yang kini tinggal di Kelurahan Ulak Karang Utara, Kota Padang, tidak hanya berkerja seorang diri, tetapi juga dibantu oleh ibunya. Baginya, dengan kondisi fisik yang demikian, bantuan ibunya adalah segala-galanya.
Hal-hal yang dilaluinya selama ini untuk menjalani usaha kerajinan tersebut juga berkat adanya dukungan dari Sang Ibu. Terkadang dalam soal pemasaran juga dibantu oleh ibunnya, ketika ibu pergi bertemu dengan sahabat atau pun pada acara-acara tertentu.
“Jadi, saya saat ini menjalani hari-hari dalam berusaha kerajinan, juga turut dibantu oleh ibu,” katanya.
Baca Juga
Lihat juga...