Soal Freeport, Ferdinand: Saya Ingin Hidupkan Nalar Anak Bangsa

Editor: Koko Triarko

397
Ferdinand Hutahaen, Energy Watch Indonesia, -Foto: M. Fahrizal
JAKARTA – Berkait masalah Freeport, Ferdinand Hutahaen, dari Energy Watch Indonesia, menyatakan, banyak nalar anak bangsa telah telah dimatkan. Ia pun mengaku ingin membangunkan nalar yang dimatikan itu.
Ia mengaku sangat sedih melihat Presoden Jokowi memimpin langsung sebuah opini, membangun narasi publik, yakni ‘The Greatest Hoax’, tentang narasi hebat pencaplokan Freeport 51 persen.
Jika dilihat, katanya, mencaplok ini memang terlihat gagah, berani, petarung. Namun, dirinya tidak mengerti, sejak kapan narasi mencaplok berubah menjadi mengemis dan membayar.
“Secara nalar, yang namanya mencaplok itu adalah mengambil, bahkan merebut. Ini malah kita mengemis membeli sampai sekarang ngawur mencari utangan, malah sok jago bilang mencaplok. Inilah yang saya bilang kalau banyak anak bangsa mematikan nalarnya, dan itu ditepuk tangani (standing applause). Untuk itulah, saya ingin membangunkan nalar anak bangsa,” ujar Ferdinand, dalam Seminar Nasional ‘Menggugat Kesepakatan Pengelolaan Tambang Freeport’, di Jakarta, Kamis (26/07/2018).
Lebih jauh, ia memberikan contoh. Amerika memiliki Apple Washington 10 buah. Mereka menawarkan empat buah dengan harga empat rupiah. Sementara 10 buah Apple Washington ini bisa dibeli hanya dengan membayar enam rupiah, hanya tinggal dua rupiah.
Lantas, katanya, kenapa kita harus membeli yang empat buah dengan empat rupiah, dengan hitungan satu rupiah untuk satu Apple Washington? Sementara, kita bisa membeli 10 buah Apple Washington hanya dengan enam rupiah. Artinya, bisa menghemat dengan diskon 40 persen.
“Kita beli 10 buah, 100 persen saham Freeport ini kita beli dengan harga 6 miliar USD yang katanya sesuai nilai buku asetnya. Kita beli dengan menghentikan kontraknya, toh juga utang, kok. Pemerintah ini kan jago mencari utang, kenapa tidak mampu mencari utang 6 miliar USD untuk membeli semua aset Freeport, jika benar nilai bukunya segitu”, kata Ferdinand.
Namun demikian, Ferdinand mengaku tak percaya nilai aset Freeport mencapai 6 miliar USD. Menurutnya, paling tidak hanya bernilai 4-5 miliar  USD.
“Satu hal, tidak ada jika ingin pindah lalu menjual barang-barang sudah terpakai dengan harga nilai buku. Kita ini diajari tolol, “pekok”, justru malah bangga menjadi pengemis, inilah efek dari revolusi mental yang paling berbahaya menurut saya,” tegas Ferdinand.
Kembali pada contoh Apple Washington, kata Ferdinand, 4 Apple 4 rupiah, dan 10 Apple dengan 6 rupiah, hanya orang bodoh yang mau membeli 4 Apple dengan 4 rupiah, apalagi sama-sama utang.
Kemudian, kata Ferdinand, kalau membeli bersumber dari utangan itu bukan berbicara tentang kedaulatan, justru itu berbicara tentang strategi seorang pedagang.
Ferdinand memberikan contoh, pedagang itu berpikir dirinya hari ini berutang 10 rupiah, dirinya beli pisang 2 buah, kemudian pisang itu dijual dengan harga 12 rupiah.
“Saya kembalikan utang saya 10 rupiah, dan saya untung 2 rupiah. Itulah otak pedagang, tidak ada kedaulatan. Dan, memang kita tidak memiliki kedaulatan, terlebih sekarang terdengar Bank BUMN yang akan membiayai, namun muncul berita, ternyata Bank BUMN menarik diri, lalu kemudian sekarang mencari utangan ke asing”, katanya.
Menurut Ferdinand, dari asing kembali ke asing, dan kita hanya menjadi makelar di tengahnya. “Di mana posisi kita yang mencaplok? Di mana posisi kita yang memiliki itu?”, tanya Ferdinand.
Menurut Ferdinand lagi, cara yang dilakukan pemerintah ini membodohi rakyat. Ia pun menantang Jokowi untuk menyerahkan kebijakan dan mandat kepadanya, untuk menyelesaikan masalah Freeport.
“Kalau memang bernyali, saya akan kirim surat ke Freeport dan mengatakan, 2021 kontrakannya saya batalkan. Selesai. Saya panggil mereka, kemudian kita melakukan negoisasi baru, bukan negoisasi ulang,” tegasnya.
Ferdinand menjelaskan, negoisasi baru itu karena bangsa ini memiliki modal, yakni apa yang sekarang ada pada Freeport. “Itulah modal kita, aset kita. Mereka hanya memiliki aset fasilitas kerja, dari situ kita joint venture. Kita mendapatkan saham berapa, mereka berapa, kita hitung bersama-sama. Jika dihitung-hitung, cadangan aset kita itu senilai 60 miliar USD. Sehingga jika demikian, kita paling tidak memiliki saham sekitar 90 persen, dan Freeport sisanya, yakni 10 persen”,kata Ferdinand.
Itulah, kata Ferdinand, yang disebut dengan logika membangun. Namun jika hanya pura-pura membangun, maka disebut totol. Mengemis membeli saja dikatakan mencaplok.
“Sekali lagi, saya hanya ingin membangunkan nalar. Bahwa, nalar bangsa ini memang ‘sakit’. Tapi, itulah fakta yang kita hadapi sekarang. Hilang sudah marwah pemerintahan dan kepresidenan sekarang ini. Saya hanya ingin membangunkan nalar,” ucapnya.
Sebenarnya, kata Ferdinand, lagi, Freeport bisa didapat dengan gratis, dengan catatan harus benar-benar mempunyai nyali. Kalau tidak mempunyai nyali, ya tidak bisa mendapatkan gratis.
“Harapan saya, semoga pemerintahan RI yang baru 2019 nanti mampu mengevaluasi, dan saya akan berjuang di garis depan untuk mengevaluasi kebijakan ini di 2019 nanti, setelah ganti pemerintahan,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...