Solo Konsen Tangani TB dan HIV AIDS

Editor: Mahadeva WS

283
Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo - Foto Harun Alrosid

SOLO – Penyakit Tuberkolosis (TB) dan HIV/AIDS di Kota Solo, Jawa Tengah mendapatkan fokus perhatian pemerintah daerah setempat. Penyebaran kedua tersebut di Solo tergolong tinggi.

Saat ini tercatat, ada banyak penderita kedua penyakit mematikan tersebut. “Solo saat ini tengah fokus menangani TB dan HIV/AIDS. Banyak penderita yang asalnya dari luar Solo yang kita tangani saat ini,” jelas Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Rudy menjelaskan, penderita penyakit TB dan HIV/AIDS yang tengah ditangani di Solo berasal dari Papua, Jombang, dan sejumlah daerah lainnya. “Ada ratusan orang pengidap HIV/AIDS yang tengah ditangani Dinas Kesehatan bersama-sama lembaga terkait yang konsen dengan penyakit tersebut. Berbagai upaya juga telah dan akan terus dilakukan,” tekannya.

Meski diindikasi jumlah penderita tinggi, angka temuan kasus TB, dan HIV/AIDS di Solo hingga saat ini masih cukup rendah. Hal inilah yang menjadi kendala dalam pencegahan penularan TB dan HIV/AIDS karena kurang optimal. Berbagai  upaya yang dilakukan adalah promotif dan preventif dengan melakukan skrining terhadap masyarakat atau kelompok masyarakat yang diperkirakan berisiko terhadap penyakit TB dan HIV/AIDS.

Banyak masyarakat yang belum memahami penularan TB maupun HIV/AIDS. Penyakit tersebut bisa menular dari orang tua kepada anak. “Sementara untuk HIV/AIDS bisa juga menular dari pasangan yang tidak setia, atau dari transfusi darah. Namun perlu diingat, tidak semua penderita HIV/AIDS adalah pelaku,” imbuh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Kota Solo Agus Santoso, Jumat (13/7/2018).

Dinas Kesehatan Solo telah aktif melakukan penjaringan suspek TB dengan pengambilan sampel dahak. Diantaranya dengan diluncurkannya Mobil SIGAP yang berfungsi untuk jemput bola di tengah masyarakat dan sosialsiasi TB dan HIV/AIDS. Tujuan Mobil SIGAP tak lain untuk meningkatkan akses jangkauan skrining TBC, TB, dan HIV/AIDS di masyarakat.

“Selain untuk meningkatkan upaya promosi tentang penyakit berbahaya di masyarakat, dengan pemahaman yang dimiliki bisa untuk mencegah keterlambatan diagnosis dari kejadian sakit yang lebih berat serta memutus mata rantai penularan TB, dan HIV/AIDS di masyarakat,” tandas Kepala Dinas Kesehatan Solo, Siti Wahyuningsih.

Data dari Komisi Penanggulangan AIDS di Solo menyebut, terdapat 2.679 pengidap HIV/AIDS yang belum tertangani. Mereka yang yang sudah tertangani dan terdaftar di klinik di Solo baru berkisar 600 penderita.

Baca Juga
Lihat juga...