Suami Istri ini Isi Waktu Luang Pensiun dengan Budidaya Jamur Tiram

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Menjelang masa pensiun, Sugeng Haryoto (60) dan Iswarni (59) melirik usaha budidaya jamur tiram (pleurotus ostreatus) sebagai pilihan menemani hari tua. Selain menghilangkan kebosanan juga memberi manfaat secara ekonomis.

Sugeng dalam kesempatan berbincang dengan Cendana News di kecamatan Penengahan Lampung Selatan menyebutkan, budidaya jamur tiram tidak terlalu sulit apalagi setelah melihat keberhasilan dari adiknya di kabupaten Pringsewu. Berbeda dengan beternak kerbau yang sebelumnya dilakoni. Ia kesulitan dalam mencari pakan.

“Keputusan kami berdua setelah ternak kerbau dijual sebagian digunakan sebagai modal usaha budidaya jamur tiram didukung adik yang terlebih dahulu memiliki usaha sejenis,” ungkap Sugeng, Selasa (17/7/2018).

Disebutkan, untuk mendapatkan media siap panen jamur tiram (baglog) sebanyak 2.000 buah, ia merogoh kocek sekitar Rp3juta. Baglog tersebut diletakkan di kumbung atau rumah jamur bekas kandang kerbau dengan ukuran 6×6 meter.

Pilihan membeli baglog seharga Rp3.000 per kantong dilakukan agar dirinya tidak perlu menunggu lama untuk bisa memanen. Pada peremajaan April, Sugeng mengaku mulai bisa memanen jamur tiram pada bulan Mei dengan hasil rata rata 10 kilogram per hari.

“Kumbung saya kondisikan tetap lembab dengan menutup rapat dan dilakukan penyiraman setiap sore hari,” cetus Sugeng.

Proses pemanenan jamur tiram semula dilakukan saat sore hari untuk memenuhi kebutuhan pedagang sayuran. Berjalan selama beberapa bulan sebagian pedagang menyebut pemanenan pada sore hari membuat jamur mudah layu dan dijual dalam tidak segar.

“Hingga kini proses pemanenan jamur tiram putih dilakukan saat subuh sehingga pedagang bisa menjual dalam kondisi segar di pasar,” terang Sugeng Haryoto.

jamur tiram
Jamur tiram milik Sugeng Haryoto salah satu pensiunan guru di Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Sebelum dikenal di wilayah tersebut membuat usaha berbasis jamur seperti keripik, peyek, krispi belum berkembang. Namun saat ini sudah mulai banyak masyarakat memanfaatkannya untuk berbagai usaha.

“Penjual ayam goreng krispi juga mulai menambah menu dengan pembuatan jamur goreng krispi,” sebutnya.

Iswarni istri Sugeng menambahkan, sesuai dengan perhitungan hasil panen, rata rata per hari bisa menghasilkan lebih dari Rp100 ribu.

“Hasilnya minimal seratus ribu per hari hingga kini sudah bisa menutupi modal usaha budidaya jamur tiram, kami bahkan sudah untung,” terang Iswarni.

Iswarni dan Sugeng menyebut setelah lima bulan berproduksi, jamur tiram direncanakan akan diremajakan dengan baglog baru. Keduanya menyebut masih fokus membeli baglog atau media siap panen karena belum memiliki peralatan untuk membuat sendiri.

Lihat juga...