Susno Duadji Beberkan Tiga Modus Politik Uang

Editor: Koko Triarko

239
Susno Duadji, -Foto: Tommy Abdullah
JAKARTA – Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Polisi (Purnawirawan) Susno Duadji, menyatakan praktik politik uang hanya menghasilkan pemimpin yang selalu membanggakan kekayaannya, tidak mencintai rakyat dan selalu berpikir bagaimana modalnya kembali.
“Kalau seperti ini terus, masa depan demokrasi Indonesia akan hancur,” katanya, dalam diskusi ‘Membongkar Kejahatan Money Politics pada Pilkada 2018: Antara Regulasi dan Tradisi’ yang diselenggarakan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan, di Jakarta, Selasa (10/7/2018).
Menurutnya, ada tiga modus praktik politik uang yang biasa terjadi dalam Pemilu di Indonesia. “Politik uang itu menyogok atau membeli tiga hal,” katanya.
Dia menjelaskan, politik uang pertama adalah membeli kursi, dalam bentuk mahar terhadap partai politik.  Kedua, membeli kesempatan dan kekebalan hukum, agar penyelenggara Pemilu, saksi dan penegak hukum tidak menyalahkan kegiatan praktik uang yang dilakukannya. Ketiga, membeli suara rakyat.
“Penanggulangan praktik politik uang harus dilandasi kemauan keras dari seluruh pihak untuk menghapuskannya,” ujarnya.
Dia mencontohkan, seringkali ada laporan masyarakat kepada panwas soal dugaan politik uang, namun panwas kerap mempertanyakan bukti yang dimiliki pelapor.
“Ini terkesan Panitia Pengawas, pasif. Panitia Pengawas jangan meminta bukti, jangan meminta menghadirkan saksi, seperti seorang hakim. Panitia Pengawas harus bergerak bekerja,” tegasnya.
Sementara itu, pengamat politik lulusan S3 Ilmu Politik Universitas Indonesia, Dr. Ade Reza, menyatakan praktik politik uang adalah kejahatan yang terorganisir, karena biasanya melibatkan banyak pihak, seperti pengusaha, calon, dan lain-lain.
“Kalau pihak berwajib mau bersungguh-sungguh membongkarnya, seluruh yang terlibat dari hulu ke hilir dapat ditangkap,” tegasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.