Tahun Ini Kemenperin Targetkan 4.000 IKM Gabung ‘e-Smart’

187
Produk IKM -Dok: CDN
BANDUNG – Kementerian Perindustrian, tahun ini menargetkan 4.000 industri kecil dan menengah (IKM) di seluruh Indonesia bisa bergabung atau masuk dalam program e-Smart IKM, dan pada 2019 sebanyak 5.000 IKM.
“Kami melakukan program ini sejak 2017, dan sejak itu ada 1.730 IKM kita fasilitasi. Tahun ini sekitar empat ribu IKM yang akan kami fasilitasi, tahun depan rencananya lima ribu, tetapi kita tidak patok di situ, karena pada 2017 target kita seribu IKM, tetapi antusiasmenya tinggi. Akhirnya kami revisi anggaran supaya lebih banyak lagi,” kata Direktorat Jenderal Industri dan Menengah Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, di Bandung, Selasa (10/7/2018).
Ditemui usai membuka workshop e-Smart IKM di Kota Bandung, Gati mengatakan, e-Smart IKM merupakan sistem basis data IKM nasional yang tersaji dalam bentuk profil, sentra dan produk yang terintegrasi dengan marketplace yang telah ada, dengan tujuan semakin meningkatkan akses pasar IKM melalui internet marketing.
Gati menuturkan, pada pelatihan e-Smart IKM di Kota Bandung kali ini, diikuti 50 IKM yang bergerak di bidang kimia, sandang, pangan, dan aneka kerajinan. “Jadi, masing-masing targetnya 50-50,” kata dia.
Dia juga mengatakan, Kota Bandung adalah salah satu kiblat bagi industri kreatif di Indonesia, dan banyak tangan-tangan kreatif orang Bandung yang telah menghasilkan berbagai produk kreatif termasuk produk art, craft dan fashion, yang merupakan prioritas pihaknya untuk didorong masuk ke marketplace melalui program e-Smart IKM.
Menurut dia, produk atau barang yang dihasilkan oleh IKM harus ada pasarnya, jika ingin laku dijual dan setelah ada pasarnya maka akan tahu kebutuhannya berapa.
“Nah, baru kita tahu pemerintah itu harus membuat kegiatan apa, untuk mendorong IKM ini bisa memenuhi kebutuhan pasar,” kata Gati.
Tetapi, kata Gita, jika berbicara mengenai pasar, anggaran pemerintah untuk hal tersebut terbatas, terutama ketika harus memfasilitasi IKM untuk ikut pameran secara offline.
“Kalau kita fasilitasi pameran secara offline, itu biayanya besar, sedangan IKM yang harus difasilitasi cukup banyak, itu ada sekitar 4,4 juta IKM, enggak mungkin setiap pameran kita fasilitasi. Maka, kita bikin program pemasaran secara online atau kita kenal dengan nama e-smart IKM ini,” kata dia.
Ia menuturkan, program e-Smart IKM ini pihaknya bekerja sama dengan sejumlah marketplace yang ada, seperti Bukalapak, Tokopedia, Blibli.com, blanja.com.
“Ini dilakukan agar teman-teman IKM tahu secara pasti yang harus dilakukan ketika berjualan online, karena kalau kami pemerintah bikin marketplace, gede sekali sumber daya yang harus disiapkan, juga harus disiapkan juga, maka kita kerja sama dengan marketplace yang sudah ada,” kata dia.
Ia menambahkan, bila IKM sudah tahu pasar dan tahu apa yang diproduksi, maka mereka perlu modal, sehingga pada pelatihan e-Smart IKM tersebut pihaknya mengajak bank himpunan bank negara untuk memberikan sosialisasi mengenai KUR.
“Ke depan, saya akan mengajak perusahaan fintech, agar bank negara bisa kompetisi dengan fintech, supaya akses IKM bisa lebih banyak dan mudah untuk memberikan akses perbankan,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, dengan adanya program e-Smart IKM ini, maka IKM di Indonesia didorong untuk masuk e-commerce, sehingga pasar produk IKM akan lebih luas.
Selain itu, pihaknya juga mengharapkan pelaku IKM dalam pelatihan e-Smart IKM di Kota Bandung bisa konsisten dalam berjualan di pasar online, dan rajin meng-update data produk serta penjualan secara rutin, sehingga ke depan produk asli Indonesia yang berkualitas bisa membanjiri pasar perdagangan online di Asia Tenggara. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...