Tajau Lokal di Banjarmasin Mulai Ditinggalkan

Editor: Koko Triarko

227
BANJARMASIN – Tajau lokal berbahan campuran semen dan pasir yang dahulu dipergunakan untuk menyimpan air dan gabah, kini perlahan mulai ditinggalkan masyarakat.
Keberadaan tajau lokal kalah bersaing dengan tajau plastik yang jauh lebih ringan, bahkan memiliki ragam model dan warna yang lebih menarik.
“Akibat kalah bersaing, kini kita pun mulai kehilangan omzet hingga 50 persen lebih, lima tahun belakangan,” ucap Mayasin, salah satu pembuat tajau lokal di daerah Kuin Banjarmasin, Selasa (3/7/2018).
Bagi Yasin, kini untuk menjual 5-10 tajau saja per bulan sudah sangat sulit. Padahal, dirinya menjual tajau buatannya hanya berkisar Rp75.000 per buah.
“Itu harga yang paling murah, karena saya hanya mendapatkan keuntungan kurang lebih Rp10.000 – Rp15.000 per buah,” tambahnya.
Jika dibandingkan lima tahun silam, penjualan tajau lokal sangat laris manis. Bahkan, dirinya bisa membuat hingga ratusan tajau per bulan, karena tingginya pemesanan dari berbagai daerah, khususnya dari para petani.
“Tajau buatan saya ini digunakan untuk menyimpan gabah dan menyimpan air. Sekarang sudah ditinggalkan, karena banyaknya tajau plastik dan sumur bor yang dibuat di pedesaan,” keluhnya.
Karena sudah sulit menjualnya, Hasyim mengaku kini profesi pembuat tajau sudah bukan lagi profesi utamanya. Ia pun lebih memilih berdagang kelontongan di depan rumahnya.
“Saya dulu sempat memiliki tiga orang karyawan. Tapi karena sekarang sudah sepi yang beli tajaunya, saya kerjakan sendiri saja. Itu pun tidak membuatnya terlebih dahulu, hanya saya kerjakan saat ada yang memesan saja,” ungkapnya.
Sementara itu, H Abdullah, pedagang peralatan rumah tangga di Pasar Lama Banjarmasin mengakui, dibanding dengan tajau lokal, kini masyarakat lebih menyukai membeli tajau berbahan plastik. Selain ringan, juga memiliki model yang lebih menarik.
“Sudah kurang lebih setahun ini beberapa tajau lokal berbahan semen dan pasir di tempat saya tidak ada yang beli. Kalau untuk tajau plastik malah laris manis, puluhan buah bisa saya jual tiap bulan dengan harga Rp50.000 – Rp150.000 tergantung ukuran, jenis dan ketebalannya,” pungkasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.