Tamaresi, Tandu Penyelamat Bayi Gagal Napas

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

251

YOGYAKARTA — Kasus kematian bayi yang baru lahir akibat asfiksia atau gagal nafas hingga saat ini masih saja terjadi. Kasus ini termasuk dalam kasus kegawatdaruratan dan memerlukan tindakan cepat untuk penyelamatan.

Umumnya tindakan yang dilakukan di bidan praktik mandiri pada kasus ini adalah dengan memberikan bantuan napas atau Ventilasi Tekanan Positif (VTP) menggunakan sungkup. Bayi kemudian dirujuk ke pelayanan kesehatan tingkat lebih tinggi dengan terus menerima bantuan napas selama perjalanan.

Pemberian bantuan pernapasan tersebut dalam prosedurnya disarankan menggunakan alas yang keras, datar, dan hangat. Permasalahannya, hingga saat ini belum banyak praktik bidan yang memiliki kendaraan dan alat khusus untuk merujuk pasien (ambulance) dan masih menggunakan mobil pribadi. Pemberian VTP juga hanya dilakukan dengan posisi menggendong bayi karena belum tersedianya alat khusus yang dapat digunakan sebagai alas.

Mengatasi hal tersebut, sekelompok mahasiswa UGM mengembangkan alat yang dapat digunakan untuk mempermudah proses perujukan bayi khususnya pada bayi dengan kasus asfiksia.

Alat yang dinamakan Tamaresi, atau Tandu Penyelamat Resusitasi pada Bayi ini diperuntukan sebagai alas pemberian resusitasi sehingga diharapkan dapat memudahkan proses perujukan bayi dengan kasus kegawatdaruratan asfiksia.

Alat ini dikembangkan oleh Hanny Afifah, Madinatul ‘Ilim, Arina Nursafrina Rahmatina dan Arini Yuni Lastuti dari DIV Kebidanan, Chairul Anis Aribah dari program S1 Akuntansi, dengan di bawah bimbingan dosen program studi DIV Kebidanan SV UGM, Diah Wulandari, M.Keb.

“Tamaresi ini terdiri dari matras dan sarung bedong. Alat ini tidak hanya dapat digunakan untuk merujuk bayi ke pelayanan kesehatan tapi juga bisa digunakan sebagai kasur bayi portable,” ujar salah seorang mahasiswa Hanny Afifah belum lama ini.

Ditambahkan Afifah, Tamaresi juga bisa digunakan sebagai bedong bayi baik menggunakan alas matras maupun tanpa alas, bahkan matrasnya sendiri pun dapat digunakan sebagai alas pijat bayi. Pasalnya permukaannya tidak menyerap air minyak yang digunakan untuk memijat.

Alat yang dikembangkan oleh timnya ini, kata Hafifah, diharapkan bisa memudahkan pekerjaan bidan sekaligus bisa manfaat bagi masyarakat orang tua untuk menolong bayinya apabila terkena gagal nafas saat lahir.

Baca Juga
Lihat juga...