Tanaman Kayu dan Buah Ikut Jaga Perbukitan dan Sungai Kepayang

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

232

LAMPUNG — Pelestarian lingkungan berbasis masyarakat melalui tanaman kayu terus dilakukan oleh warga Lampung Selatan. Salah satunya di desa Kelawi kecamatan Bakauheni.

Sukiman (36) salah satu warga di bukit Kepayang menyebutkan, aliran sungai pernah mengalami kekeringan dan warga kerap kesulitan air. Padahal sungai menjadi andalan masyarakat sekitar terutama saat kemarau akibat debit air sumur berkurang.

Kekeringan tersebut memicu kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga daerah kantong-kantong air dengan tidak membiarkan daerah tersebut gundul atau rusak. Hal tersebut mendasari warga di daerah aliran sungai (DAS) Kepayang kembali menanam berbagai jenis pohon.

Menerapkan sistem penanaman multi purpose tree species (MPTS) fungsi tanaman juga tanaman investasi jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek berupa tanaman buah yang dapat memberikan hasil lebih cepat.

“Awalnya sulit mencari jenis bibit yang harus ditanam karena lereng perbukitan Kepayang awalnya hanya ditanami cengkih dan kakao, karena harga anjlok banyak yang ditebang sehingga lahan menjadi gersang,” terang Sukiman salah satu warga bukit Kepayang saat ditemui Cendana News, Rabu (4/7/2018).

Lukito memperlihatkan jajaran pohon jambu di depan pekarangan sebagai penahan longsor [Foto: Henk Widi]
Saat kemarau warga kesulitan air bersih dan satu satunya sumber harapan berasal dari sumur bor milik salah satu warga yang dipergunakan untuk umum.

“Kesadaran warga akan kebutuhan air membuat penanaman pohon digalakkan secara mandiri,” terangnya.

Warga di wilayah tersebut diakui Sukiman juga mulai menanam di lahan miring area perbukitan dan DAS Kepayang. Jenis pohon yang ditanam di antaranya Jambu biji (Guajava), Bambu (Bambuseae), Pinang (Areca catechu), Mahoni (Swietenia mahagoni), Cengkih (Syzygium aromaticum), Jati ambon (Athocephalus chinensis), Palem (Arecaceae) serta berbagai jenis tanaman lain. Hasilnya warga bisa mendapatkan sumber air dan sekaligus memanen buah dan kayu bernilai ekonomis sebagian dalam waktu setahun.

“Kami bisa memanen buah di antaranya kenitu, durian, cengkih hingga kayu untuk bahan bangunan yang diganti dengan tanaman baru,” beber Sukiman.

Kesadaran warga akan manfaat penanaman pohon diakui Sukiman juga dilakukan karena adanya penanaman berbagai jenis pohon oleh sebuah lembaga.

Lembaga yang memiliki lahan puluhan hektare tersebut bahkan menanam jenis pohon langka diantaranya merbau (Intsia), kayu putih (Melaleuca leucadendra), durian (Durio zibethinus) serta berbagai jenis pohon yang menjadi sumber resapan air.

Tanpa dikomando warga lain bahkan mulai mandiri melakukan penanaman pohon di pekarangan dan areal kebun yang masih bisa dimanfaatkan.

“Ada lembaga nirlaba yang menanam pohon kini sudah berusia belasan tahun,
tujuannya agar sumber air terjaga dan itu menyadarkan warga tanpa disuruh,” cetus Sukiman.

 

 

Hal yang sama juga dilakukan oleh Lukito (40) yang memiliki lahan tepat di dekat aliran sungai dan bukit Kepayang. Keberadaan berbagai jenis tanaman kayu dan buah terbukti membantu menjaga lingkungan.

“Lahan yang semula berpotensi longsor bisa terjaga dengan penanaman pohon. Sebagian pohon buah bahkan memberikan tambahan penghasilan,” tambanya.

Baca Juga
Lihat juga...