Tanaman Tebu, Komoditas yang Punya Nilai Ekonomis

Editor: Satmoko Budi Santoso

368
Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat meninjau lahan pertanian yang kering di Desa Penyabangan, Gerokgak, Buleleng, Sabtu (7/7/2018) yang rencana akan ditanami tebu.-Foto: Sultan Anshori.

BULELENG – Memperhatikan peran sektor pertanian yang cukup strategis baik dalam menopang pertumbuhan ekonomi, menekan inflasi, penanggulangan kemiskinan dan pengangguran serta penyedia pangan, maka saat ini dan pada waktu yang akan datang pembangunan sektor pertanian akan tetap menjadi prioritas.

Pemilihan tanaman tebu sebagai salah satu komoditas yang mempunyai nilai ekonomis diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan peningkatan pendapatan petani.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, saat melaksanakan tatap muka dengan petani tebu di sekretariat Koperasi Tani Agro Tani Mandiri, Desa Penyabangan, Gerokgak, Buleleng, Sabtu (7/7/2018).

Menurutnya, Bali dengan luas wilayah yang dimiliki sekitar 563.666 Ha terdiri dari 8 kabupaten dan 1 (satu) kota, seluas 136.588 Ha atau 24,2% adalah Kabupaten Buleleng. Walaupun memiliki wilayah daratan terluas, akan tetapi topografi dan iklim Kabupaten Buleleng tidak sebaik wilayah Bali selatan.

Sebagian berupa lahan tandus karena keterbatasan irigasi. Bali dengan jumlah penduduk sebesar 4.200.000 jiwa, lebih dari 30% penduduknya masih menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian dalam arti luas.

Salah satunya dengan pengembangan tanaman tebu seluas 1.200 Ha pada 5 (lima) desa di Kecamatan Gerokgak, Buleleng yang merupakan kerja sama dengan PT. Perkebunan Nusantara XI.

Jika sudah masa panen akan dibawa ke pabrik gula Asembagus, Situbondo, Jawa Timur mengingat di Bali sendiri belum ada pabrik gula. Pastika berharap, jika nanti kebun tebu sudah luas serta hasilnya cukup banyak dan bagus, ia berharap agar di Bali dibangun pabrik gula agar produksinya bisa lebih cepat.

“Saya menyambut baik atas kerja sama ini, tentu ini akan menjadi sejarah bagi Bali, khususnya Gerogkak. Saya ucapkan terima kasih kepada Direksi PT. Perkebunan Nusantara Sebelas (XI) atas kerja samanya baik dalam hal pembinaan teknis, maupun dalam menampung hasil atau produksi tebu.

Kepada masyarakat tani, pelaksana pengembangan tebu Kecamatan Gerokgak, saya harapkan dapat melaksanakan usaha tani dengan baik. Sesuai rekomendasi dan arahan teknis dari para petugas lapangan. Jika nanti perkebunannya cukup luas dan hasilnya bagus serta banyak, saya berharap ada pabrik gula juga di Bali,” ucap Pastika.

Menurut Pastika, selama ini petani lahan kering di Kecamatan Gerokgak hanya dapat mengusahakan lahan dengan menanam palawija sekali dalam setahun saat musim hujan. Dengan adanya pengembangan tanaman tebu, maka sebagian lahan dapat ditanami sepanjang tahun.

“Adanya pengembangan tebu ini juga diharapkan dapat menghasilkan limbah untuk menunjang ketersediaan pakan ternak khususnya sapi yang populasinya cukup banyak di Buleleng khususnya di Kecamatan Gerokgak,” ungkap Pastika.

Lebih jauh, orang nomor satu di Pemerintah Provinsi Bali tersebut berharap  kelak tidak ada masalah jika tebu sudah siap dipanen. Menurut Pastika, dari pengalaman terdahulu, masyarakat di Gerokgak diminta untuk menanam pohon jarak. Namun di saat sudah siap panen, justru tidak ada yang membeli sehingga para petani rugi dan kecewa.

“Untuk itu, saya menekankan agar semua berjalan baik agar tidak terjadi permasalahan serupa,” pangkas Pastika.

Sementara itu, Bupati Buleleng mengakui jika lahan di wilayah kecamatan Gerokgak belum bisa digarap optimal karena keterbatasan sumber air sehingga menurunkan pendapatan masyarakat.

Dengan pengembangan tanaman tebu di Gerokgak, menurut Bupati Buleleng, sangat tepat pemanfaatan lahan dan produktivitasnya karena dapat meningkatkan kesejahteraan maupun pendapatan petani serta masyarakatnya.

“Oleh sebab itu kami meminta kepada masyarakat untuk dapat mengoptimalkan lahan kering yang selama ini tidak produktif untuk dapat dimanfaatkan dengan pengembangan tanaman tebu,” ucap bupati.

Sementara itu, Wayan Lendra, salah seorang petani mengaku senang dengan program ini karena ke depan ada garapan baru dalam pemanfaatan lahan yang sejak lama terbengkalai akibat kekeringan. Dirinya juga mengaku optimis dengan pengembangan berupa pelatihan ini.

“Kami akan mempelajari apa yang diberikan oleh para instruktur tentang penanaman tebu ini. Kami juga berharap kerja sama ini bisa bermanfaat bagi para petani,” ucapnya.

Sebelum bertatap muka, Gubernur Bali melaksanakan penanaman pohon tebu secara simbolis di lahan Kelompok Sumber Tani Utama seluas 7 Ha dengan jumlah anggota 42 orang, di Desa Sumberkima, Gerokgak.

Selanjutnya juga dilaksanakan penandatanganan perjanjian kemitraan penggilingan tebu rakyat antara koperasi tebu mewakili petani tebu kecamatan gerokgak dengan PT. Perkebunan Nusantara XI (Pabrik Gula Asembagoes) yang berlokasi di sekretariat koperasi Tani Agro Tani Mandiri, Desa Penyabangan, Gerokgak, Buleleng.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.