Tantangan Mengembangkan Silat di Seberang Benua

Editor: Mahadeva WS

418

PADANG – Festival Silat Internasional 2018 yang diselenggarakan di Kota Padang, Sumatera Barat, mempertemukan Florence Hartini Wangsa Besari Jamin, Ketua Asosiasi Silat di Negara Suriname, dengan ratusan pesilat dari berbagai negara.

Meski negaranya berada di seberang benua dari Indonesia, tidak membuat Hartini sulit memahami bahasa Indonesia. Hal itu dikarenakan cukup banyak warga negara Suriname yang merupakan keturunan Indonesia tepatnya dari Jawa. Bahkan bahasa kedua mereka di Suriname adalah Bahasa Jawa.

Wawancara dengan perempuan berusia 45 tahun tersebut berlangsung kurang lebih 15 menit. Sepanjang wawancara, Hatini memberikan penjelasan kepada awak media, dengan Bahasa Jawa. Beruntung sejumlah awak media di Padang pasif berbahasa Jawa. Dari sana, di dapat cerita dari saudara keturunan Indonesia di Suriname.

Begitu juga dengan cerita perkembangan silat di Negara Suriname. Perannya sebagai Ketua Asosiasi Silat Suriname, yang kini melatih aliran yang dikenal dengan Kilat Buana, menarik untuk dipahami berasama.

Menurutnya, menghidupkan silat di Suriname tidaklah semudah menghidangkan makanan di atas meja. Banyak tantangan yang dihadapi, terkadang ada yang diejek atau ditertawakan. Di Suriname bela diri yang banyak berkembang ialah Karate. Sementara silat hanya di sebagian kecilnya saja.

Kedatangan ke Padang bersama anak asuhannya untuk mengikuti Festival Silat Internasional, karena ingin lebih mengetahui lagi silat tradisional tersebut. Tekat itu menjadi alasan terkuat Hartini untuk terus menjaga kelestarian pencak silat. “Kalau di Suriname sampai sekarang ada 15 perguruan silat. Tak jarang untuk membuat silat lebih dikenal, festival silat pun sering diselenggarakan. Bahkan, pada kejuaraan pencak silat di Bali 2016 lalu, saya bersama anak-anak juga ikut menjadi peserta,” katanya, Kamis (12/7/2018).

Silat yang ada di Suriname tidak ada yang berbeda dengan pencak silat yang ada di Indonesia. Pada intinya, silat adalah sebuah bela diri yang memiliki rumpun yang sama, sehinga gerakan juga hampir memiliki kesamaan. Dari pemahamannya, alasan utama perlu dikembangkannya silat di Suriname, karena silat menjadi senjatanya orang Jawa di Suriname saat didatangkan ke Suriname.

Meski sudah berlangsung cukup lama, sampai saat inipun silat masih dilestarikan. “Perguruan kami masih menjalankan latihan silat, warisan dari ayah dan kakek. Kedepan silat akan terus saya kembangkan ke berbagai daerah di Suriname,” ungkapnya.

Kini silat telah mulai diajarkan kepada anak-anak hingga yang berusia pelajar. Untuk anak-anak silat mulai diajarkan sejak usia dua tahun. Usia yang terbilang sangat kecil, namun gerak yang diajarkan bukanlah berkelahi, melainkan melatih menggerahkan badan.

Hartini belajar silat sejak usia tiga tahun. Kakek dan neneknya mengingatkan agar silat jangan sampai dilupakan dan hilang bagi anak-anak keturunan Indonesia. “Silat ini masih ada yang murni, ada yang sudah divariasikan. Tapi hal yang saya ajarkan dari hal yang diajarkan nenek dan kakek saya dulu,” katanya.

Hanya saja, di Suriname, perempuan keturunan Jawa yang belajar silat sudah tidak ada lagi. Pada umumnya yang belajar silat adalah pria. Padahal alangkah baiknya perempuan memiliki kemampuan bela diri silat, sebagai jati diri bahwa mereka adalah keturunan Indonesia.

Kini hanyalah Hartini satu-satunya perempuan yang memiliki pengetahuan tentang silat di Suriname. “Satu-satunya. Karena kakek dan nenek saya di Indonesia dan saya tidak pernah melihat mereka lagi. Saya-lah yang sekarang meneruskan semuanya. Saya melatih, memimpin asosiasi, bahkan saya yang jadi juri kalau ada kejuaraan. Asosiasi saya sejak 26 Oktober 1985. 32 tahun berdiri, saya pertama dan satu-satunya pemimpin perempuan,” ceritanya.

Ada cara tersendiri untuk mempopulerkan silat di kalangan anak muda Suriname. Ia mengaku tidak memandang perguruan dari mana, yang ada di Suriname. Asalkan itu berasal dari Jawa di, Hartini pun merangkul mereka semua. Untuk itu, dengan kehadiran di Festival Silat Internasional, ia berharap dapat mengembangkan silat di Suriname.

Dengan kondisi yang masih minim peminat, sangat diharapkan adanya dukungan dari orang-orang di Indonesia agar dapat membantu perjuangan mereka menjaga silat di Suriname. “Di Suriname, di sana tahunya kami orang Jawa. Kalau bicara bahasa ya pahamnya Jawa. Tidak ada yang bilang dari Surabaya atau dari mana. Tahunya dari Jawa,” ujarnya sembari tersenyum.

Di sisi lainnya, Hartini ternyata mermupakan alumni dari Universitas Negeri Yogyakarta lulus 2008. Ketika itu, Dia memiliki rencana untuk bekerja sama dengan pesilat Indonesia ke Amerika Latin. Namun, rencana itu belum sempat terwujud.

Keinginan itu berawal dari adanya anggapan bahwa pencak silat bukan untuk perempuan tapi untuk laki-laki. “Ingin sekali saya menyebarkan silat ini. Karate popular, judo popular, masa silat tidak bisa? Ayo semua pesilat bersatu,” ujar perempuan yang tinggal di Paramaribo, Suriname tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...