Terang Bulan, Nelayan Pesisir Timur Lampung Sementara Alih Profesi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

222

LAMPUNG — Siklus bulanan terang bulan purnama yang berimbas pasang air laut sekaligus sulitnya mencari ikan dialami masyarakat pesisir timur Lampung sejak dua pekan terakhir. Imbasnya sejumlah nelayan memilih beristirahat dari aktivitas melaut dengan melakukan perbaikan alat tangkap sebagian mencari sumber penghasilan lain.

Masa terang bulan juga berimbas bagi nelayan di Muara Piluk Bakauheni, salah satunya bagi Opung (30). Pencari ikan sistem pancing rawe dasar tersebut mengaku sudah tidak melaut bersama dengan nelayan bagan congkel penangkap ikan teri.

Gelombang pasang sekaligus terang bulan berimbas tangkapan minim disisasati dengan membantu pemilik usaha kuliner makanan laut.

“Saat hasil tangkapan kurang bahkan tidak ada, pemilik usaha kuliner biasanya memiliki stok ikan di freezer lalu dijual sebagai menu kuliner,” cetus Opung.

Sebagian ikan tersebut diakuinya merupakan hasil tangkapan miliknya yang bisa disimpan selama setengah bulan. Di sela-sela memperbaiki alat tangkap, saat ada pelanggan yang akan menikmati kuliner boga bahari, Opung membantu proses pengolahan ikan.

terang bulan
Sugeng (jaket coklat) anggota KUB Sriminosari II menyewakan KM Nelayan untuk wisata susur sungai hutan mangrove saat terang bulan dan ramai kunjungan wisatawan [Foto: Henk Widi]
Sebagian nelayan yang sementara tidak melaut, disebut Opung, bahkan beralih profesi sebagai tukang ojek di pasar Bakauheni sebagian membantu proses pembuatan ikan asin dan teri rebus sembari menunggu bulan mati atau bulan gelap.

Kondisi tersebut juga dialami oleh Sugeng (40) nelayan di desa Sriminosari kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur. Anggota kelompok usaha bersama (KUB) Sriminosari II tersebut mengaku beristirahat sementara waktu.

“Saat liburan kami bisa menggunakan perahu tangkap ikan bantuan kementerian kelautan dan perikanan untuk mengantar wisatawan menyusuri alur sungai di hutan mangrove, melihat habitat alami satwa dan pasir timbul,” terang Sugeng kepada Cendana News, Senin (2/7/2018).

Beberapa tahun sebelumnya, alih profesi kerap saat terang bulan dilakukan dengan menjadi buruh muat tambang pasir, bertani dan buruh bangunan. Semenjak pembukaan wisata mangrove Sriminosari sebanyak 20 anggota KUB nelayan memiliki sumber penghasilan lain termasuk melibatkan para isteri mengelola usaha kuliner di lokasi wisata.

“Sinergi antar lembaga dalam pengelolaan aset di lokasi wisata membuat nelayan masih tetap bisa mendapat penghasilan meski tidak melaut,” cetus Sugeng.

terang bulan
Sugeng (jaket coklat) anggota KUB Sriminosari II menyewakan KM Nelayan untuk wisata susur sungai hutan mangrove saat terang bulan dan ramai kunjungan wisatawan [Foto: Henk Widi]
Dukungan alih profesi saat cuaca buruk, terang bulan berimbas nelayan tangkap tidak melaut juga diberikan oleh pihak kecamatan.

Sutarno (50), kepala seksi pembangunan kecamatan Labuhan Maringgai menyebut penggunaan KM Nelayan untuk wisata sudah berlangsung satu tahun terakhir. Pemberdayaan sekaligus mengurangi pengangguran terbukti efektif dengan pemanfaatan KM Nelayan untuk wisata.

“Siklus alam yang membuat nelayan tidak mendapat penghasilan kini bisa diputus. Meski terang bulan nelayan masih bisa menawarkan jasa ojek kapal,” tegas Sutarno.

Baca Juga
Lihat juga...