Titiek Soeharto : Perempuan Indonesia Harus Mencontoh Nyai Ahmad Dahlan

Editor: Mahadeva WS

1.962

JAKARTA – Semua perempuan di Indonesia harus mencontoh perjuangan Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, istri dari KH Ahmad Dahlan pendiri Organisasi Muhammadiyah. Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto pada silaturahmi dan syawalan Pimpinan Pusat Aisyiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

“Perempuan Indonesia harus mencontoh perjuangan Nyai Ahmad Dahlan untuk mampu berbicara melawan kezaliman, menyuarakan kebenaran, dan tidak pernah takut walaupun berat serta penuh risiko. Karena kita berjuang di jalan Allah SWT,” kata Titiek.

Titiek menjelaskan, Siti Walidah adalah tokoh perempuan pendiri Aisyiyah. Perjuangannya sangat luar biasa untuk kemajuan dan pemberdayaan kaum perempuan Indonesia. Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, telah mengajarkan kepada perempuan Indonesia untuk dapat berjuang bersama, duduk dalam posisi berdampingan baik dalam institusi formal maupun non formal.

Ibu Titiek Soeharto (kanan) bersama Ketua Umum PP Aisyiyah,Siti Noordjannah Djohantini(tengah) dan Menlu Retno Marsudi pada silaturahmi dan syawalan Pimpinan Pusat Aisyiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (10/7/2018) – foto : Sri Sugiarti

“Aisyiyah adalah salah satu dari sekian banyak organisasi perempuan di Indonesia yang telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Khususnya pada bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat,” ungkap Titiek.

Menurut Titiek, Aisyiyah dengan beberapa karakter utama tentunya mempunyai unsur spiritualitas, keiklasan dan dedikasi. Sebagai gerakan sosial kemasyarakatan, Aisyiyah telah memiliki jutaan anggota di seluruh Indonesia. Dan, sebagai gerakan kebangsaan, peran Aisyiyah dalam menjaga keutuhan NKRI telah teruji dalam berbagai situasi.

Salah satu aspek kehidupan yang perlu dicermati saat ini, menurut Titiek adalah, kemajuan teknologi dan informasi. Setiap saat, kapan-pun dan dimana-pun akses informasi bisa memasuki setiap orang dari berbagai generasi.  Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para perempuan, khususnya ibu-ibu untuk menguasai kemajuan teknologi dan informasi tersebut.

Karena, selain masalah kejiwaan anak-anak akibat kemajuan teknologi tersebut, informasi yang salah juga dapat merubah nilai-nilai baik yang telah ditanamkan kepada anak-anak. Bahkan, perpecahan bangsa semakin nyata akibat berita-berita di sosial media yang terus mengadu domba dan mempertaham perselisihan.

Titiek juga prihatin dengan banyaknya kasus-kasus narkoba yang meracuni generasi muda. “Bisa bayangkan berapa banyak anak-anak kita yang menjadi korban karena masuknya narkoba. Kita, perempuan Indonesia harus merapatkan barisan dalam menghadapi persoalan ini,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...