TMII Bersolek Sambut Asian Games 2018

Editor: Koko Triarko

563
JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tengah berbenah menyambut perhelatan Asian Games 2018 yang akan digelar pada 18 Agustus mendatang.  Apalagi, TMII terpilih sebagai tujuan Torch Replay atau Kirab Obor Asian Games 2018, dan menjadi venue wisata para atlet dari 45 negara peserta Asian Games 2018.
Manajer Informasi Budaya dan Wisata TMII, Dwi Windyarto, mengatakan, momen ini harus dimaksimalkan sebaik mungkin dengan mempersiapkan pelayanan terbaik.
“Kalau orang mau dipinang itu sudah mulai bedakan, dandan sedikit-sedikit. Alhamdulillah, persiapan kami menyambut Asian Games sudah mencapai 70 persen lebih,” kata Manajer Informasi Budaya, dan Wisata TMII, Dwi Windyarto, kepada Cendana News, ditemui di ruang perpustakaan TMII, Jakarta, Senin (16/7/2018).
Manajer Informasi Budaya dan Wisata TMII, Dwi Windyarto. -Foto: Sri Sugiarti.
Dwi menjelaskan, persiapan yang telah dilakukan dengan berbagai pembenahan. Di antaranya,  ulai dari pelebaran jalan, perbaikan saluran air, pengecatan area TMII, pemasangan spanduk dan baliho, serta pembenahan tempat wisata.
Juga pelayanan untuk menyambut peserta Asian Games dengan menghadirkan pemandu wisata yang menguasai bahasa asing juga menjadi komitmen.
Terkait kirab obor yang sifatnya seremonial, akan berlangsung selama satu jam di depan Pendopo Agung Sasono Utomo. Kirab Obor perjalanannya dimulai dari Lippo Mall Kramatjati menunu TMII.
Obor Asian Games 2018 itu akan dibawa oleh atlet legendaris Indonesia dengan diarak oleh ratusan masyarakat Jakarta Timur. Setibanya di TMII, kata Dwi, Obor Asian Games itu akan dipindahkan di tungku besar di depan Pendopo Agung Sasono Utomo selama satu jam.
“Nah, selama satu jam itu para atlet legendaris Indonesia dan tamu, akan dihibur dengan penampilan kesenian tradisional, seperti tari ondel-ondel, reog ponorogo, jajangkungan dan lainnya,” kata Dwi.
Tidak hanya menyiapkan untuk kegiatan torch relay, TMII juga berbenah menyambut ofisial maupun atlet Asian Games yang akan berkunjung di sela-sela pertandingan berlangsung.
Untuk itu, kata Dwi, TMII akan fokus membawa mereka ke tempat-tempat yang bernilai seni budaya Indonesia, seperti anjungan daerah dan museum.  Mereka tidak akan dibawa ke area obyek-obyek wisata dengan ayunan atau halilintar bertaraf international seperti di Taman Legenda TMII, karena menurut Dwi, area wisata seperti itu di negara mereka sangat banyak dan lebih bagus.
“Mereka akan kita bawa ke yang sifatnya heritage dan budaya yang bisa membuat mereka terkesan kalau berkunjung ke TMII,” ujarnya.
Menurut Dwi, dengan membawa mereka ke wahana yang memiliki nilai budaya dan sejarah seperti anjungan dan museum, tujuannya adalah untuk mengangkat kebudayaan Indonesia di dunia internasional.
“Mereka dari berbagai dunia dan negara. Asian Games 2018 ini momentum untuk promosikan budaya Indonesia. Kita harus berikan pelayanan terbaik,” tandasnya.
Kini, TMII mempercantik sejumlah anjungan daerah, museum, dan wahana rekreasi lainnya, seperti Taman Burung dan Dunia Air Tawar. Hal ini dilakukan sebagai upaya kesiapan menerima kunjungan offisial maupun para atlet Asian Games.
Anjungan daerah tidak semuanya disiapkan, karena saat mereka berkunjung ke TMII, tidak mungkin waktunya seharian. Ada pun yang dipersiapkan di antaranya, anjungan Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan  Taman Burung dan Dunia Air Tawar, juga museum.
Selain persiapan fisik, anjungan daerah tersebut juga harus mempersiapkan beberapa materi seni budaya yang akan ditampilkan menyambut kedatangan para offisial dan atlet Asian Games.
Tampilan kesenian tradisional harus yang bersifat interaktif. Misalnya, kata Dwi, kesenian angklung. Mereka para offisial dan atlet tersebut ikut bermain angklung bersama dengan pemain angklung di anjungan tersebut.
“Setelah mereka main angklung, angklungnya diberikan kepada mereka untuk sovenir dibawa ke negaranya. Jadi, ada kesan menarik buat mereka,” ujarnya.
Kembali Dwi menegaskan, Asian Games 2018 ini adalah momen promosi TMII kepada mereka yang datang dari belahan dunia. Karena menurutnya, dengan sebuah angklung saja yang diberikan, apalagi mereka turut bermain musik tersebut, akan menjadi kenangan. Diharapkan, mereka akan mempromosikan kesenian angklung ini di negaranya.
Pelayanan lainnya adalah sajian menu makanan tradisional yang akan disuguhkan. Menurut Dwi, makanan tradisional menjadi penting untuk disajikan kepada mereka. Camping Gunung TMII bersiap untuk menyajikan aneka ragam menu bercita rasa lezat.
“Menunya itu harus seragam. Tidak boleh nanti kontingen dari India makan tempe, yang dari Malaysia makan humburger. Tidak boleh itu, semuanya harus sama makanan tradisional,” tutupnya.
Baca Juga
Lihat juga...