banner lebaran

TMII Gelar Parade Teater Daerah 2018

Editor: Koko Triarko

225
JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kembali menggelar Parade Teater Daerah 2018. Parade yang digelar untuk ketujuh kalinya ini diikuti sembilan provinsi, menampilkan kebudayaan tradisi daerahnya masing-masing.
Direktur Umum TMII, Taufik Sukasah, mengatakan, acara ini digelar dalam upaya mendorong seni teater tradisi melalui ajang kreativitas karya seni yang ada di daerah.
“Ini adalah iven nasional yang konsisten digelar setiap tahun. Melalui kegiatan ini, TMII berupaya melestarikan kebudayaan Indonesia,” kata Taufik, dalam sambutan pembukaan Parade Teater Daerah ke-7 di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Jumat (13/7/2018).
Taufik menuturkan, kebudayaan Indonesia sangat beragam, yakni seni budaya, adat istiadat, bahasa dan tradisi, seperti tampilan teater daerah ini. Dia berharap, gelaran teater daerah ini menampilkan esensi seni dari masing-masing provinsi.
Direktur Utama TMII, Taufik Sukasah, saat membuka Parade Teater Daerah 2018 di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Jumat (13/7/2018). -Foto: Sri Sugiarti.
Tahun 2018 ini, kegiatan diikuti sembilan provinsi, yaitu Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Aceh, Jambi, dan Riau.
Menurutnya, peserta tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya, yang hanya tujuh provinsi. Taufik berharap, parade tari daerah pada tahun mendatang pesertanya akan bertambah.
“Parade Tari Daerah ini adalah wadah untuk pencinta seni budaya dalam mengekspreasikan kesenian yang mereka ciptakan,” ujarnya.
Taufik juga berharap, kegiatan seni ini dapat melahirkan karya-karya anak bangsa dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah yang serius dalam upaya pelestarian budaya bangsa.
Karena menurutnya, anjungan daerah merupakan representasi pemerintah daerah. Menjadi show window kepentingan daerah, anjungan dapat mengeksplor kebudayaan dan kekayaan potensi daerah, sehingga masyarakat bisa mengenal kekayaan budaya daerah.
Dan, sesuai dengan visi misi TMII, tegas dia, Parade Teater Daerah ke-7 ini juga sebagai upaya melestarikan, mengembangkan dan mengenalkan khazanah budaya Indonesia kepada masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.
Materi yang disajikan berupa teater garapan baru yang berpijak pada tradisi daerah atau seni budaya tradisi daerah, yang belum pernah ditampilkan dalam iven atau lomba tingkat nasional, dan merupakan hasil seleksi dari daerah masing-masing.
Sementara itu, salah satu pertunjukkan yang cuup memukau penonton adalah ‘Bujang Gerot’. Sebuah seni garapan teater provinsi Bengkulu yang berkisah tentang seorang pemuda dari suku Lebak Kabupaten Bengkulu Tengah.
Pemuda ini dikenal dengan Bujang Gerot, usianya 35 tahun dan masih lajang. Dia bekerja di pasar tradisional. Bermodal badan tinggi besar dan wajah beringas, ditambah ilmu silat yang dimiliki. Kemudian dia dijadikan kepala keamanan di pasar tersebut.
Suatu ketika, ada dua preman berbuat onar dan meminta uang kepada pedagang secara paksa, sehingga membuat para pedagang ketakutan.
Bujang Gerot berhasil mengusir dua preman tersebut dengan ilmu bela dirinya. Aktivitas perdagangan pun kembali berjalan dengan aman.
Bujang Gerot pun semakin disegani oleh penduduk dan pedagang. Karena di balik sifat beringas, Bujang Gerot memiliki hati yang sangat mulia.
“Dia sangat patuh dan hormat kepada Emaknya (ibu) dan selalu menolong sesama juga sangat melindungi kaum perempuan,” kata pelatih Sanggar Rafflesia Anjungan Bengkulu TMII, Ara Nurzanah Angraini, kepada Cendana News.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.